Usai mengemas impian beku
kupadamkan isak pilu senyumi waktu dengan kelopak mawar merah jambu
endapkan lara di pucuk maya
senyum saja yang kupunya
untuk penawar luka
hening dalam doa yang kupintal
telah sesak oleh udara asa
sekali pun cahayanya kian redup menjelma
aku tak pernah ingin berhenti mencoba
berhenti menyapa
dan ku tahu semua mungkin berakhir sia sia
tak apa kuhirup kabut dingin
di dinding pagi yang tiada hembus angin
asal kemudian langkahku tak goyah
oleh tiupan caci maki dan bertubi
tubi duri memanah kaki
ah,..kemalangan ini
takkan sebanding jerit tangis para nabi
hiburku pada sunyi dan si mungil melati
ini hanya secuil nyata
yang kebetulan aku melewatinya
dan tertancapkan duri duri tajam
di jalan penuh lubang
entah kapan kan berakhir
semua yang getir menjadi sehangat warna bianglala
apalagi hujan tak mau berhenti sekedar jeda.dinginkan suasana
di sepanjang rasa yang masih ranum kusandang.
Aku pun memeluk pagi dengan
sedikit berimaji.seolah ini hanya selembar fantasi.fantasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar