“Menganggap
remeh orang lain”. Sepertinya itu sudah membudaya dimasyarakat kita. Memandang
oraang hanya dari penampilan luar, dari apa yang terlihat oleh mata saja.
Tidakkah terpikir oleh kita bahwa sering kali seseorang yang kita anggap
“remeh” itu justru lebih hebat dari kita? Contoh kecil saja, seekor semut yang
kita anggap kecil, atau mungkin “mati dalam satu tindihan ujung jari”, ternyata
mampu mengangkat beban 50 kali berat tubuhnya. Bagaimana dengan kita?
Sanggupkah kita? Jika hewan sekecil itu saja, (atas kuasa Allah) mampu
mengangkat bebb seberat itu diatas tubuhnya. Apalagi sesama manusia? Sebuah
renungan untuk kita. Jangan pernah merasa diri kita lebih hebat dari orang
lain. Jangan pernah merasa bangga dengan apa yang kita miliki. Karena
sesungguhnya tak ada satupun dari itu semua yang benar-benar milik kita.
Segalanya tak lebih dari sesuatu yang dititipkan Allah pada kita. Bahkan nyawa
dan raga kita pun bukan milik kita. Lalu apa yang patut kita banggakan?
Tampilkan postingan dengan label pelajaran hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelajaran hidup. Tampilkan semua postingan
Kamis, 16 Juni 2016
Rabu, 15 Juni 2016
RENUNGAN UNTUK PARA IBU
(Copas
Coretan Novita S. Raharja)
A : Anaknya masih kecil sudah pintar sekali. Sudah bisa baca, sudah bisa
ngaji, sudah banyak hafal ayat-ayat pendek dan hadist-hadist. Sekolah paud dimana?
B : Alhamdulillah, anak saya sekolah di sekolah “X”.
A : Oh pantes, itu kan sekolah mahal ya.
B : Iya, lumayan. Tapi sesuai dengan kualitasnya. Disana anak saya sudah diajari baca, hitungan, ngaji, hafalan surat-surat dan hadist-hadist. Pokoknya lengkap wess..
Pertanyaan simple: “Terus si emak ngapain aja ya kalau semuanya dibayarin ke orang? Belajar sholat dari orang lain, ngaji dari orang lain, baca dari orang lain.. Terus emaknya kebagian ngajarin apa dong? Nggak rugi kah?”
Bukannya lebih menyenangkan ketika si emak ditanya,
A : Anaknya masih kecil sudah pintar sekali. Sudah bisa baca, sudah bisa ngaji, sudah banyak hafal ayat-ayat pendek dan hadist-hadist. Sekolah paud dimana?
B : Alhamdulillah, belajar dirumah dulu aja sebisa emaknya.
A : Wah hebat ya emaknya, serba bisa..
B : emaknya sih lebih banyak nggak bisanya daripadaa bisanya, tapi boleh kan kalau ilmu emaknya yang sedikit ini dbagikan ke anak? Uang nggak punya banyak, cuma ilmu yang sedikit ini yang mungkin bisa diwariskan nantinya, sekaligus jadi amalan yg ishaaAllah mengalir ke emaknya juga.
Nanti ketika
anak2 sudah pada besar, sudah bisa membuka lapangan kerja untuk orang banyak,
kita akan trsenyum dan mengenang dalam hati "Nak.. Nak, dulu waktu emak
ngajarin kamu kenal huruf aja susaaaah skali. Alhamdulillah kamu sekarang sudah
jadi orang yang bermanfaat untuk orang lain..
B : Alhamdulillah, anak saya sekolah di sekolah “X”.
A : Oh pantes, itu kan sekolah mahal ya.
B : Iya, lumayan. Tapi sesuai dengan kualitasnya. Disana anak saya sudah diajari baca, hitungan, ngaji, hafalan surat-surat dan hadist-hadist. Pokoknya lengkap wess..
Pertanyaan simple: “Terus si emak ngapain aja ya kalau semuanya dibayarin ke orang? Belajar sholat dari orang lain, ngaji dari orang lain, baca dari orang lain.. Terus emaknya kebagian ngajarin apa dong? Nggak rugi kah?”
Bukannya lebih menyenangkan ketika si emak ditanya,
A : Anaknya masih kecil sudah pintar sekali. Sudah bisa baca, sudah bisa ngaji, sudah banyak hafal ayat-ayat pendek dan hadist-hadist. Sekolah paud dimana?
B : Alhamdulillah, belajar dirumah dulu aja sebisa emaknya.
A : Wah hebat ya emaknya, serba bisa..
B : emaknya sih lebih banyak nggak bisanya daripadaa bisanya, tapi boleh kan kalau ilmu emaknya yang sedikit ini dbagikan ke anak? Uang nggak punya banyak, cuma ilmu yang sedikit ini yang mungkin bisa diwariskan nantinya, sekaligus jadi amalan yg ishaaAllah mengalir ke emaknya juga.
Kamis, 01 Maret 2012
Matre Itu Wajib
Berawal dari percakapan pendek dengan beberapa teman selama ini, akupun jadi ingin menulis tentang pentingnya harta. Hampir setiap orang beranggapan bahwa sifat materialistis atau lebih populer disebut dengan kata matre, itu negatif, bahkan dinilai sangat buruk. Mungkin sahabat sekalian juga berfikir dengan cara yang sama. Tapi aku berbeda, bagiku, matre itu penting. Kalau ditanya apa aku cewek matre? Dengan tegas kujawab iya. Dan aku ga malu jadi CEWEK MATRE. Matre itu wajib..Hehehe..
"Kekayaan tidak menjamin kebahagiaan".
"Kaya hati lebih penting daripada kaya harta".
Ungkapan2 seperti inilah yang banyak digunakan orang untuk menampik pentingnya harta. Padahal orang2 yang berkata seperti itu kalau diberi banyak harta juga pasti ga bakalan nolak, ya ga?? hehehehe..
Sekarang mari kita bahas lebih lanjut tentang kesalahan dua ungkapan diatas atau ungkapan2 sejenis, HARTA BISA MEMBELI KEBAHAGIAAN. Dari sisi keegoisan pribadi, seorang yang kaya raya tentunya bisa memberikan kehidupan yang layak dan nyaman bagi keluarganya. Tidak perlu repot memikirkan biaya makanan yang bergizi, pendidikan yang tinggi, fasilitas pengembangan diri yang maksimal. Semua hal tersebut tentunya sedikit memberikan kepuasan diri yang berbuah kebahagiaan
Dari sisi yang lebih luas, seseorang yang memiliki harta berlebih, juga akan lebih bermanfaat bagi sesamanya. Sebab ia lebih mampu mengeluarkan banyak uang untuk zakat, sodaqoh, dan infaq. "sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari). Semakin banyak yang dikeluarkan, semakin banyak pula orang yang tertolong. Lebih banyak anak2 tidak mampu yang kemudian bisa sekolah. Mereka yang miskin, tidak lagi kelaparan. Memberi kebahagiaan kepada mereka yang kurang beruntung sama artinya dengan memberi kebahagiaan untuk diri sendiri, Satu hal lagi, banyak juga yang akan mendoakan kebaikan bagi kita, dan tentu saja itu akan mendatangkan kedamaian hati yang sungguh luar biasa. Rasulullah bersabda "Setiap hari ketika manusia berada di waktu pagi, turunlah dua malaikat. Yang seorang mengucapkan "Ya Allah ! Berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya." Dan yang seorang lagi mengucapkan "Ya Allah ! Berikanlah kemusnahan kepada yang tidak menafkahkan hartanya" (HR. Muslim)
Dengan harta, manusia boleh setengah lega (tapi bukan sombong), sebab ia bisa memenuhi ambisi menunaikan amalan2 yang baik, yang meninggikan derajatnya disisi Allah. Oleh sebab itu, KEKAYAAN HARTA SAMA PENTINGNYA DENGAN KEKAYAAN HATI. "Tiada boleh seorang iri hati terhadap orang lain, kecuali dalam dua hal; seorang yang diberi pengertian Quran, maka ia mempergunakannya sebagai pedoman amalnya siang malam, dan seseorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta dan ia membelanjakannya siang dan malam untuk segala amal kebaikan" (HR Bukhari – Muslim).
Sudah sering kita dengar ungkapan bahwa "memberi lebih baik dari menerima". Untuk bisa memberi, artinya seseorang harus lebih dulu memiliki harta yang berlimpah melampaui kebutuhannya. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa "“Tangan di atas itu lebih baik dari pada tangan di bawah, dahulukan (bersedekah kepada) orang yang menjadi tanggung jawabmu. Sebaik-baik sedekah adalah sedekah yang diberikan oleh orang yang mampu." (HR. Bukhari) Rasulullah adalah teladan sifat kedermawanan yang luar biasa. Beliau tidak pernah berhenti bersodaqoh. Rasulullah adalah pedagang besar yang sukses, bahkan diusia 16 tahun beliau termasuk pedagang internasional yang kaya raya sebab beliau sanggup melamar Khadijah yang juga seorang pengusaha besar dengan mahar 20 ekor unta dan 12 uqyah emas. Hal ini membuktikan bahwa kekayaan material itu sangat penting bagi seorang muslim. Sebab dengan harta itulah Rasulullah membantu fakir miskin juga anak terlantar yang tak terhituung jumlahnya. Tidakkah kita ingin menirunya?
Sebagai seorang muslim wajib mengetahui tentang pentingnya zakat, sodaqoh dan infaq karena:
"Kekayaan tidak menjamin kebahagiaan".
"Kaya hati lebih penting daripada kaya harta".
Ungkapan2 seperti inilah yang banyak digunakan orang untuk menampik pentingnya harta. Padahal orang2 yang berkata seperti itu kalau diberi banyak harta juga pasti ga bakalan nolak, ya ga?? hehehehe..
Sekarang mari kita bahas lebih lanjut tentang kesalahan dua ungkapan diatas atau ungkapan2 sejenis, HARTA BISA MEMBELI KEBAHAGIAAN. Dari sisi keegoisan pribadi, seorang yang kaya raya tentunya bisa memberikan kehidupan yang layak dan nyaman bagi keluarganya. Tidak perlu repot memikirkan biaya makanan yang bergizi, pendidikan yang tinggi, fasilitas pengembangan diri yang maksimal. Semua hal tersebut tentunya sedikit memberikan kepuasan diri yang berbuah kebahagiaan
Dari sisi yang lebih luas, seseorang yang memiliki harta berlebih, juga akan lebih bermanfaat bagi sesamanya. Sebab ia lebih mampu mengeluarkan banyak uang untuk zakat, sodaqoh, dan infaq. "sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari). Semakin banyak yang dikeluarkan, semakin banyak pula orang yang tertolong. Lebih banyak anak2 tidak mampu yang kemudian bisa sekolah. Mereka yang miskin, tidak lagi kelaparan. Memberi kebahagiaan kepada mereka yang kurang beruntung sama artinya dengan memberi kebahagiaan untuk diri sendiri, Satu hal lagi, banyak juga yang akan mendoakan kebaikan bagi kita, dan tentu saja itu akan mendatangkan kedamaian hati yang sungguh luar biasa. Rasulullah bersabda "Setiap hari ketika manusia berada di waktu pagi, turunlah dua malaikat. Yang seorang mengucapkan "Ya Allah ! Berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya." Dan yang seorang lagi mengucapkan "Ya Allah ! Berikanlah kemusnahan kepada yang tidak menafkahkan hartanya" (HR. Muslim)
Dengan harta, manusia boleh setengah lega (tapi bukan sombong), sebab ia bisa memenuhi ambisi menunaikan amalan2 yang baik, yang meninggikan derajatnya disisi Allah. Oleh sebab itu, KEKAYAAN HARTA SAMA PENTINGNYA DENGAN KEKAYAAN HATI. "Tiada boleh seorang iri hati terhadap orang lain, kecuali dalam dua hal; seorang yang diberi pengertian Quran, maka ia mempergunakannya sebagai pedoman amalnya siang malam, dan seseorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta dan ia membelanjakannya siang dan malam untuk segala amal kebaikan" (HR Bukhari – Muslim).
Sudah sering kita dengar ungkapan bahwa "memberi lebih baik dari menerima". Untuk bisa memberi, artinya seseorang harus lebih dulu memiliki harta yang berlimpah melampaui kebutuhannya. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa "“Tangan di atas itu lebih baik dari pada tangan di bawah, dahulukan (bersedekah kepada) orang yang menjadi tanggung jawabmu. Sebaik-baik sedekah adalah sedekah yang diberikan oleh orang yang mampu." (HR. Bukhari) Rasulullah adalah teladan sifat kedermawanan yang luar biasa. Beliau tidak pernah berhenti bersodaqoh. Rasulullah adalah pedagang besar yang sukses, bahkan diusia 16 tahun beliau termasuk pedagang internasional yang kaya raya sebab beliau sanggup melamar Khadijah yang juga seorang pengusaha besar dengan mahar 20 ekor unta dan 12 uqyah emas. Hal ini membuktikan bahwa kekayaan material itu sangat penting bagi seorang muslim. Sebab dengan harta itulah Rasulullah membantu fakir miskin juga anak terlantar yang tak terhituung jumlahnya. Tidakkah kita ingin menirunya?
Sebagai seorang muslim wajib mengetahui tentang pentingnya zakat, sodaqoh dan infaq karena:
- Zakat termasuk cara menyucikan diri. "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka." (QS. At-Taubah: 103).
- Mengeluarkan harta untuk yang membutuhkan akan mendatangkan ridho Allah. "Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya." (QS. Al-Anfal: 60).
- Baik zakat, sodaqoh maupun infaq, akan mendatangkan nilai positif bagi kehidupannya. “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 261). "Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat." (QS. Al-Baqarah: 265).
- Baik zakat, sodaqoh maupun infaq, akan memjauhkan manusia dari api neraka (siksa Allah). “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari api neraka, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya” (QS. Al-Lail: 17-18). "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya" (QS. Ash-Shaff: 10-11).
Senin, 27 Februari 2012
Masihkah Ingin Meratapi Kehidupan?
Dik "A" mengeluh "Mbak, rasanya hidup ini berat banget buatku. Sejak bapak dipanggil kesisi yang maha kuasa, semua impianku sepertinya semakin tidak mungkin. Mana sanggup aku kuliah?"
Mas "B" berkata sambil merajuk, "Adik ga ngerti apa yang kurasakan. Ga akan ada alasan bagiku untuk melanjutkan hidup tanpa orang yang kucintai. Aku ga akan pernah rela melihat belahan jiwaku dimiliki orang lain. Lebih baik mati."
Tak kalah mengenaskan kesannya, sobatku "C" curhat, "Nita, kamu si emang enak. hidupmu lurus-lurus aja. ga kayak aku yang dari kecil harus berkutat dengan kemiskinan. Orang tuaku cuma buruh serabutan yang ga jelas pendapatannya. sejak SMP aku udah harus ikut kerja keras, jual makanan, jadi pesuruh, juga yang lain. Lulus SMA aku harus kerja lebih keras untuk bisa kuliah. Ditengah perjuanganku malah pacarku selingkuh dan diam2 menikah dengan orang lain. Kesedihan seperti ga mau jauh dariku"
Curhatan dek A, mas B dan sobat C mungkin terdengar wajar bagi sebagian orang. Bahkan sering kali ada yang mengeluh dengan bahasa yang terdengar kritis tapi penuh makna putus asa, "Sebenarnya untuk apa aku hidup?" Padahal sudah sering mendengar ceramah para ulama yang mengutip salah satu ayat Al-Qur'an, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (QS. Adz-Dzariyat:51). Dan hidup dan mati telah ditentukan dengan tujuan yang nyata, seperti dijelaskan dalam Al-Qur'an "Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2).
Jika kemudian Allah mendatangkan ujian, maka itu hanyalah kerikil-kerikil kecil yang semestinya menjadikan kita lebih kuat. Karens tidak mungkin hidup ini berjalan tanpa adanya ujian. "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al-Ankabut ayat 2-3).
Tak jarang terlintas dalam pikiran kita bahwa ujian terbesar adalah musibah atau kesulitan. Dan sering kali pula kita menganggapnya sebagai bentuk ketidak-adilan. Padahal nyatanya kesulitan adalah wujud lain dari kasih sayang Allah. Bahkan semakin besar musibah yang ditimpakan kepada seorang hamba, semakin tinggi pula Allah akan mengangkat derajatnya jika ia bisa melaluinya dengan baik. "Barangsiapa dikehendaki oleh Allah suatu kebaikan bagi dirinya, niscaya Allah akan menimpakan baginya musibah." (HR Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah RA). Satu hal yang sering kali kita lupakan adalah bahwa ujian yang datang kepada kita adalah awal tolok ukur ketangguhan kita menghadapi hidup, karena Allah tidak pernah memberi ujian yang melebihi kemampuan kita. "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqaraah: 286)
Ujian terasa semakin berat ketika kita dihadapkan pada situasi yang tidak kita inginkan sama sekali. Perlu kita sadari bahwa segala sesuatu memang tak selalu berjalan seperti apa yang kita harapkan. Ada kalanya kita kehilangan atau bahkan sama sekali tak pernah berkesempatan memiliki sesuatu yang kita impikan. Tidak bisa kuliah di universitas yang didambakan. Atau mungkin gagal menikah dengan orang yang kita kasihi. Tidak dilahirkan dikeluarga kaya. Tidak memiliki keluarga yang utuh. Sepintas semua hal ini merupakan nasib buruk yang cukup menjadi alasan bagi kita untuk menyesali hidup. Namun, Allah pasti punya rencana yang lebih indah untuk kita. Dan bukankah dalam Al-Qur'an sudah jelas tertulis "..... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216). Sesuatu yang tertunda setelah sebuah perjuangan keras tanpa henti hanyalah bibit yang akan kita petik buah manisnya dimasa yang akan datang.
Untuk sesaat rasa sedih yang hinggap adalah hal yang manusiawi. Tapi jangan terus larut dalam kesedihan, apalagi mengumbar keluhan yang tiada henti-hentinya pada orang lain. Karena semakin kita mengeluh, semakin lemah pula diri kita. Allah juga telah menurunkan ayat mengenai hal ini, "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali Imran: 139). Terlalu banyak berkeluh kesah kepada sesama manusia dan menunjukkan penderitaan pun tak kan membantu menyelesaikan masalah. Kita boleh saja berbagi kesedihan dengan orang2 sekitar kita, asalkan tidak berlebihan dan menyadari bahwa tempat terbaik meminta pertolongan adalah kepada Allah. "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'," ( (QS. Al-Baqarah: 45). "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung." (QS. At-Taubah:129)
Sepatutnyalah kita sebagai hamba Allah, berjuang sekeras2nya dalam menghadapi segala macam ujian. Sebab Allah tidak menyukai hamba-Nya yang mudah berputus asa. "....dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf: 87). Tetaplah semangat dalam menjalani hidup. Ujian hanyalah tempaan untuk menjadikan kita lebih dekat kepada-Nya jika kita mampu bersabar. "“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).
Masihkah kita ingin meratapi hidup? Percayalah bahwa hidup ini terlalu indah untuk sekedar diisi dengan keluhan yang berlebihan. Segalanya akan terasa manis dengan dua hal, yaitu syukur dan sabar. Seperti yang dijelaskan Rasulullah dalam sebuah hadist, "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya, baik baginya. Dan, kebaikan ini tidak dimiliki oleh selain seorang mukmin. Apabila dia mendapat kesenangan, maka dia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila di mendapat musibah, maka dia bersabar, dan itulah yang terbaik untuknya." (HR Imam Muslim). Tetaplah tersenyum wahai kawan. :)
Langganan:
Postingan (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
oleh Pakde Azir Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedan...
-
diantara persinggahan malam terlukis bayang kalbu muram saksikan biduk perlahan karam membawa asa jauh tenggelam denyut harap seo...
-
Sering kali angan hati dan alam nyata berselisih Lumpuhkan smua hasrat jiwa dalam lautan perih Bukan tak mungkin bongkahan harap makin pip...