Tampilkan postingan dengan label Teori Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori Sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Desember 2012

PANDUAN MENULIS ESAI

oleh Pakde Azir
Untuk membuat sebuah esai yang berkualitas, diperlukan kemampuan dasar menulis dan latihan yang terus menerus. Berikut ini panduan dasar dalam menulis sebuah esai.

STRUKTUR ESAI

Pada dasarnya, sebuah esai terbagi minimum dalam lima paragraf:

1. PARAGRAF PERTAMA :  Dalam paragraf ini penulis memperkenalkan topik yang akan dikemukakan, berikut tesisnya. Tesis ini harus dikemukakan dalam kalimat yang singkat dan jelas, sedapat mungkin pada kalimat pertama. Selanjutnya pembaca diperkenalkan pada tiga paragraf berikutnya yang mengembangkan tesis tersebut dalam beberapa sub topik.

2. PARAGRAF KEDUA SAMPAI KEEMPAT :  Ketiga paragraf ini disebut tubuh dari sebuah esai yang memiliki struktur yang sama. Kalimat pendukung tesis dan argumen-argumennya dituliskan sebagai analisa dengan melihat relevansi dan relasinya dengan masing-masing sub topik.

3. PARAGRAF KELIMA (TERAKHIR) : Merupakan paragraf kesimpulan. Tuliskan kembali tesis dan sub topik yang telah dibahas dalam paragraf kedua sampai kelima sebagai sebuah sintesis  untuk meyakinkan pembaca

Dimaksud dengan TESIS di sini ialah statement (pernyataan) atau teori yang didukung oleh argumen yang dikemukakan dalam tulisan; jadi bukan semata-mata dalam pengertian khusus yaitu tulisan yang mengikuti kaidah penulisan karya ilmiah — antara lain harus dilengkapi dengan Tinjauan Pustaka  dan Metodologi Penelitian  — untuk mendapatkan gelar kesarjanaan pada perguruan tinggi; walaupun artikel ini bisa juga dijadikan acuan untuk melakukan penulisan tesis akademik.

LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT ESAI :

A. MEMILIH TOPIK
Bila topik telah ditentukan, anda mungkin tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih. Namun demikian, bukan berarti anda siap untuk menuju langkah berikutnya.Pikirkan terlebih dahulu tipe naskah yang akan anda tulis. Apakah berupa tinjauan umum, atau analisis topik secara khusus? Jika hanya merupakan tinjauan umum, anda dapat langsung menuju ke langkah berikutnya. Tapi bila anda ingin melakukan analisis khusus, topik anda harus benar-benar spesifik. Jika topik masih terlalu umum, anda dapat mempersempit topik anda. Sebagai contoh, bila topik tentang “Indonesia”  adalah satu topik yang masih sangat umum. Jika tujuan anda menulis sebuah gambaran umum (overview),  maka topik ini sudah tepat. Namun bila anda ingin membuat analisis singkat, anda dapat mempersempit topik ini menjadi “Kekayaan Budaya Indonesia”  atau “Situasi Politik di Indonesia.”  Setelah anda yakin akan apa yang anda tulis, anda bisa melanjutkan ke langkah berikutnya. Bila topik belum ditentukan, maka tugas anda jauh lebih berat. Di sisi lain, sebenarnya anda memiliki kebebasan memilih topik yang anda sukai, sehingga biasanya membuat esai anda jauh lebih kuat dan berkarakter.

B. TENTUKAN TUJUAN
Tentukan terlebih dahulu tujuan esai yang akan anda tulis. Apakah untuk meyakinkan orang agar mempercayai apa yang anda percayai? Menjelaskan bagaimana melakukan hal-hal tertentu? Mendidik pembaca tentang seseorang, ide, tempat atau sesuatu? Apa pun topik yang anda pilih, harus sesuai dengan tujuannya.

C. TULISKAN MINAT ANDA
Jika anda telah menetapkan tujuan esai anda, tuliskan beberapa subyek yang menarik minat anda. Semakin banyak subyek yang anda tulis, akan semakin baik. Jika anda memiliki masalah dalam menemukan subyek yang anda minati, coba lihat di sekeliling anda. Adakah hal-hal yang menarik di sekitar anda? Apa yang anda pikirkan? Apa yang anda lakukan? Mungkin ada beberapa yang menarik untuk dijadikan topik. Jangan dulu mengevaluasi subyek-subyek tersebut, tuliskan saja segala sesuatu yang terlintas di kepala.

D. EVALUASI POTENSIAL TOPIK
Jika telah ada beberapa topik yang pantas, pertimbangkan masing-masing topik tersebut. Jika tujuannya mendidik, anda harus mengerti benar tentang topik yang dimaksud. Jika tujuannya meyakinkan, maka topik tersebut harus benar-benar menggairahkan. Yang paling penting, berapa banyak ide-ide yang anda miliki untuk topik yang anda pilih. Sebelum anda meneruskan ke langkah berikutnya, lihatlah lagi bentuk naskah yang anda tulis. Sama halnya dengan kasus dimana topik anda telah ditentukan, anda juga perlu memikirkan bentuk naskah yang anda tulis.

E. MEMBUAT OUTLINE
Tujuan dari pembuatan outline adalah meletakkan ide-ide tentang topik anda dalam naskah dalam sebuah format yang terorganisir.
(1) Mulailah dengan menulis topik anda di bagian atas.
(2) Tuliskan angka romawi I, II, III di sebelah kiri halaman tersebut, dengan jarak yang cukup lebar di antaranya.
(3) Tuliskan garis besar ide anda tentang topik yang anda maksud.
(4) Jika anda mencoba meyakinkan, berikan argumentasi terbaik.
(5) Jika anda menjelaskan suatu proses, tuliskan langkah-langkahnya sehingga dapat dipahami pembaca.
(6) Jika anda mencoba menginformasikan sesuatu, jelaskan kategori utama dari informasi tersebut.
(7) Pada masing-masing angka romawi, tuliskan huruf (A, B, C) dan atau angka arab (1, 2, 3) menurun di sisi kiri halaman tersebut. Tuliskan fakta atau informasi yang mendukung ide utama.

CATATAN : Penomoran paragraf (dengan angka romawi dan huruf serta angka arab) yang hanya merupakan penolong dalam membuat outline.  Setelah itu anda boleh menghapusnya. Boleh juga kalau anda mau mencantumkan paragraf dalam bentuk angka dan atau frasa, tetapi itu bukan suatu keharusan dalam penulisan esai.

F. MENULIS TESIS
Suatu pernyataan tesis mencerminkan isi esai dan poin penting yang akan disampaikan oleh pengarangnya. Anda telah menentukan topik dari esai anda, sekarang anda harus melihat kembali outline yang telah anda buat, dan memutuskan poin penting apa yang akan anda buat. Pernyataan tesis anda terdiri dari dua bagian:
— Bagian pertama  menyatakan topik. Contoh: Budaya Indonesia, Korupsi di Indonesia
— Bagian kedua  menyatakan poin-poin dari esai anda. Contoh: memiliki kekayaan yang luar biasa, memerlukan waktu yang panjang untuk memberantasnya, dst.

G. MENULIS TUBUH ESAI
Bagian ini merupakan bagian paling menyenangkan dari penulisan sebuah esai. Anda dapat menjelaskan, menggambarkan dan memberikan argumentasi dengan lengkap untuk topik yang telah anda pilih. Masing-masing ide penting yang anda tuliskan pada outline akan menjadi satu paragraf dari tubuh tesis anda.
Masing-masing paragraf memiliki struktur yang serupa:

— Mulailah dengan menulis ide besar anda dalam bentuk kalimat. Misalkan ide anda adalah: “Pemberantasan korupsi di Indonesia”, anda dapat menuliskan: “Pemberantasan korupsi di Indonesia memerlukan kesabaran besar dan waktu yang lama.”

— Kemudian tuliskan masing-masing poin pendukung ide tersebut, namun sisakan empat sampai lima baris.

— Pada masing-masing poin, tuliskan perluasan dari poin tersebut. Elaborasi ini dapat berupa deskripsi atau penjelasan atau diskusi.

— Bila perlu, anda dapat menggunakan kalimat kesimpulan awal (konklusi) pada masing-masing paragraf.

— Setelah menuliskan tubuh tesis, anda hanya tinggal menuliskan dua paragraf: pendahuluan  dan kesimpulan.

H. MENULIS PARAGRAF PERTAMA
Mulailah dengan menarik perhatian pembaca. Caranya :

— Memulai dengan suatu informasi nyata dan terpercaya.  Informasi ini tidak perlu benar-benar baru untuk pembaca anda, namun bisa menjadi ilustrasi untuk poin yang anda buat.

— Memulai dengan suatu anekdot,  yaitu suatu cerita yang menggambarkan poin yang anda maksud. Berhati-hatilah dalam membuat anekdot. Meski anekdot ini efektif untuk membangun ketertarikan pembaca, anda harus menggunakannya dengan tepat dan hati-hati.

— Menggunakan dialog  dalam dua atau tiga kalimat antara beberapa pembicara untuk menyampaikan poin anda.

— Tambahkan satu atau dua kalimat  yang akan membawa pembaca pada pernyataan tesis anda.

— Tutup paragraf  dengan pernyataan tesis anda.

I. MENULIS KESIMPULAN
Kesimpulan merupakan rangkuman dari poin-poin yang telah anda kemukakan dan memberikan perspektif akhir anda kepada pembaca. Tuliskan dalam tiga atau empat kalimat — namun jangan menulis ulang sama persis seperti dalam tubuh esai di atas —  yang menggambarkan pendapat dan perasaan anda tentang topik yang dibahas. Anda dapat menggunakan anekdot untuk menutup esai anda.

J. MEMBERI SENTUHAN AKHIR (FINISHING TOUCH)
Langkah-langkahnya :

— Teliti urutan paragraf.  Mana yang paling kuat? Letakkan paragraf terkuat pada urutan pertama, dan paragraf terlemah di tengah. Namun, urutan tersebut harus ”nyambung” dan logis (masuk akal). Jika naskah anda menjelaskan suatu proses, anda harus bertahan pada urutan yang anda buat.

— Teliti format penulisan.  Telitilah format penulisan seperti margin, spasi, nama, tanggal, dan sebagainya.

— Teliti tulisan.  Anda dapat merevisi hasil tulisan anda, memperkuat poin yang lemah. Baca dan baca kembali naskah anda. Apakah masuk akal? Tinggalkan dulu naskah anda beberapa jam, kemudian baca kembali. Apakah masih masuk akal?
Apakah kalimat satu dengan yang lain mengalir dengan halus dan lancar? Bila tidak, tambahkan beberapa kata dan frasa untuk menghubungkannya. Atau tambahkan satu kalimat yang berkaitan dengan kalimat sebelumnya.

— Teliti kembali kesalahan tulis dan tata bahasa anda.

Tiga kata kunci untuk menulis : (1) berlatih; (2) berlatih; (3) berlatih.


Selasa, 20 November 2012

PANDUAN MENULIS PUISI

oleh Pakde Azir

Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedang berada di kamar yang sunyi.”  Ada pula yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi di mana saja.”  Pendapat lain mengatakan “Saya bisa menulis puisi saat hati saya sedang sedih.”
Ungkapan-ungkapan di atas hanya sebagian kecil saja pendapat orang tentang menulis puisi. Ada berbagai cara yang bisa digunakan untuk mengasah ketrampilan menulis puisi dengan baik dan benar.

STRUKTUR BATIN DAN STRUKTUR FISIK
Puisi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur tematik (unsur semantik) dan unsur sintaksis. Unsur tematik atau unsur semantik menuju ke arah struktur batin sedangkan unsur sintaksis mengarah pada struktur fisik puisi.

STRUKTUR BATIN DALAM PUISI
Struktur batin adalah makna yang terkandung dalam puisi yang membutuhkan penghayatan. Struktur batin terdiri dari (1) ide/tema, (2) perasaan, (3) nada dan suasana, (4) amanat atau pesan.

Dalam sebuah forum diskusi maya (apresiasi sastra), penyair Hasan Aspahani pernah menyarikan perihal pasal-pasal puisi versi Goenawan Mohammad dalam bukunya “Kesusastraan dan Kekuasaan”.  Pasal-pasal berikut ini bisa kita jadikan panduan dalam memahami struktur batin puisi.

1. Dalam puisi, pada mulanya adalah komunikasi. Karena itu, puisi yang tidak palsu dengan sendirinya dan sudah seharusnya mengandung kepercayaan kepada orang lain, yaitu pembacanya.

2. Prestasi kepenyairan yang matang mencerminkan suatu gaya, setiap gaya mencerminkan suatu kepribadian, setiap kepribadian tumbuh dan hanya bisa benar-benar demikian bila ia secara wajar berada dalam komunikasi.

3. Puisi yang mencekoki pembaca, atau menyuruh pembaca menelan saja pesan yang hendak disampaikan atau yang dititipkan lewat penyair adalah puisi yang tidak pantas dihargai.

4. Penyair dan pembacanya berada dalam sebuah ruang kebersamaan yang meminta banyak hal serba terang, sebab dengan demikian terjamin kejujuran, dan penyair tidak sekedar menyembunyikan maksud puisinya bagi dirinya sendiri.

5. Akrobatik kata-kata untuk dengan sengaja membikin gelap suatu maksud sajak menunjukkan tidak adanya kejujuran, yang pada akhirnya tidak lagi dipercaya pembacanya dan kemudian ia pun tidak lagi percaya pada dirinya sendiri.

6. Penyair harus meletakkan puisinya di antara "kegelapan-supaya-tidak-dimengerti"  dan "tidak-menjejalkan-segala-galanya-kepada-pembaca",  tanpa mengaburkan batas antara kedua hal itu. Dari kenyataan karya beberapa penyair (khususnya para pemula), yang sering muncul adalah puisi dengan ungkapan perasaaan semata. Padahal, sebenarnya dalam puisi juga perlu dimunculkan sisi intelektualitas di dalamnya.

STRUKTUR FISIK DALAM PUISI
Struktur fisik adalah struktur yang bisa kita lihat melalui bahasanya yang tampak. Struktur fisik terdiri dari (1) irama; (2) rima; (3) diksi; dan (4) licentia poetica.

(1) IRAMA
Irama atau ritme berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Dalam puisi, irama berupa pengulangan yang teratur suatu baris puisi menimbulkan gelombang yang menciptakan keindahan. Irama dapat juga berarti pergantian keras-lembut, tinggi-rendah, atau panjang-pendek kata secara berulang-ulang dengan tujuan menciptakan gelombang yang memperindah puisi. Perhatikan puisi DOA karya Chairil Anwar! Dalam puisi tersebut terdapat pengulangan kata Tuhanku.

          D O A
          Karya : Chairil Anwar

          kepada pemeluk teguh 

         
Tuhanku
         
dalam termangu
          aku masih menyebut namamu          biar susah sungguh          mengingat Kau penuh seluruh          cayaMu panas suci          tinggal kerdip lilin di kelam sunyi          Tuhanku          aku hilang bentuk          remuk          Tuhanku          aku mengembara di negeri asing          Tuhanku          di pintuMu aku mengetuk          aku tidak bisa berpaling.
Lebih jauh mengenai IRAMA, klik di sini : http://www.facebook.com/note.php?note_id=148492248592647

(2) RIMA
Rima (persamaan bunyi) adalah pengulangan bunyi berselang, baik dalam larik maupun pada akhir puisi yang berdekatan. Bunyi yang berima itu dapat ditampilkan oleh tekanan, nada tinggi, atau perpanjangan suara. Berguna untuk menambah keindahan suatu puisi.

Contoh :
          Berakit-rakit ke hulu
          berenang-renang ke tepian
          Bersakit-sakit dahulu
          bersenang-senang kemudian.

Lebih jauh mengenai RIMA, klik di sini : https://www.facebook.com/note.php?note_id=140398852735320

(3) DIKSI
Diksi, atau pilihan kata merujuk pada gaya ekspresi oleh penulis. Pengertian dari “diksi” yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata — seni berbicara yang jelas yang memungkinkan setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini lebih menekankan pada pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya bahasa.

Pengertian diksi yang lebih luas (menurut Gorys Keraf, 2002) :
1. Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
2. Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
3. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau perbendaharaan kata (vocabulary)  bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud pembendaharaan kata atau kosakata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki suatu bahasa.

Sedangkan fungsi diksi ialah :
1. Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal.
2. Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.
3. Menciptakan komunikasi yang baik dan benar.
4. Menciptakan suasana yang tepat.
5. Mencegah perbedaan penafsiran.
6. Mencegah salah pemahaman.
7. Mengefektifkan pencapaian target komunikasi.

(4) LICENTIA POETICA
Licentia poetica,  suatu istilah yang kerap terdengar dari dunia sastra. Yaitu suatu lisensi atau izin tak tertulis yang diberikan kepada penulis karya sastra — termasuk penyair — untuk menerjang kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar demi menimbulkan efek-efek tertentu sesuai keinginannya. Singkatnya dengan licentia poetica, seorang penulis ”dihalalkan” mempergunakan kaidah bahasa sendiri meski menyimpang.

Lebih jauh mengenai LICENTIA POETICA, klik di sini : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=118549161586956&set=t.100002956172271&type=3

EMPAT LANGKAH MENULIS PUISI
Pada dasarnya, menulis puisi hanya membutuhkan empat langkah :

(1) PENCARIAN IDE, dilakukan dengan mengumpulkan atau menggali informasi melalui membaca, melihat, dan merasakan terhadap kejadian/peristiwa dan pengalaman pribadi, sosial masyarakat, ataupun universal (kemanusiaan dan ketuhanan).

(2) PERENUNGAN, yakni memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yang menarik dari tema yang didapat. Kemudian memikirkan, merenungkan, dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yang dimiliki.

(3) PENULISAN, merupakan proses yang paling penting dan rumit. Penulisan ini mengerahkan energi kreatifitas (kemampuan daya cipta), intuisi, dan imajinasi (peka rasa dan cerdas membayangkan), serta pengalaman dan pengetahuan. Untuk itulah, tahap penulisan hendaknya mencari dan menemukan kata atau pun kalimat yang tepat, singkat, padat, indah, dan mengesankan. Hasilnya kata-kata tersebut menjadi bermakna, terbentuk, tersusun, dan terbaca sebagai puisi.

(4) PERBAIKAN atau REVISI, yaitu pembacaan ulang terhadap puisi yang telah diciptakan. Ketelitian dan kejelian untuk mengoreksi rangkaian kata, kalimat, baris, bait, sangat dibutuhkan. Kemudian mengubah, mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yang tidak atau kurang tepat. Oleh karena itu, proses revisi atau perbaikan ini terkadang memakan waktu yang cukup lama hingga puisi tersebut telah dianggap ''siap untuk dipublikasi”, tidak dapat diubah atau diperbaiki lagi oleh penulisnya.

SUMBER IDE
Ide penulisan bisa berdasarkan catatan — khususnya catatan harian (diary) — dan atau dari hasil perenungan.

Jika puisi ditulis berdasarkan catatan harian, langkah-langkahnya adalah :

1. Baca dan renungkan isi catatan atau catatan-harian yang Anda miliki.
2. Coretlah kata-kata yang tidak penting dan tambahkan kata-kata yang menurut Anda menarik untuk disertakan.
3. Hapuslah baris-baris yang tidak penting.
4. Atur dan urutkan kembali baris-baris yang sudah Anda pilih.
5. Bacalah kembali hasil akhir baris-baris itu.
6. Sunting (edit) baris-baris itu sehingga menjadi baris-baris puisi yang menarik.

Jika puisi ditulis berdasarkan hasil perenungan, maka langkah-langkahnya ialah :

1. Duduklah di bawah pohon, di dalam kamar, atau di tempat lain yang menyenangkan bagi Anda.
2. Pejamkan mata Anda sejenak dan pikirkan tentang hal yang menyenangkan, misalnya berlibur ke daerah pegunungan.
3. Hiruplah sejuknya udara dingin pegunungan (dalam imajinasi).
4. Dengarkan suara burung yang berkicauan di dahan pohon.
5. Rasakan bahwa Anda sedang berada di tempat itu dan rasakan kenyamanannya (dalam imajinasi).
6. Renungkan apa yang Anda rasakan. Renungkan bahwa semua keindahan itu merupakan karunia Tuhan.
7. Resapkan dalam hati apa yang telah Anda rasakan, lalu buka mata Anda perlahan-lahan.
8. Ungkapkan apa yang telah Anda rasakan, Anda lihat, Anda sanjung dalam renungan Anda, dalam bentuk puisi.

PENGEMBANGAN IDE MENJADI TEMA
Menulis puisi termasuk jenis ketrampilan. Sebagaimana halnya ketrampilan yang lain, pemerolehannya harus melalui belajar dan berlatih. Makin sering belajar dan makin giat berlatih tentu makin cepat trampil.
Dalam menulis puisi, yang pertama-tama dilakukan adalah menentukan tema. Tema adalah pokok persoalan yang akan dikemukakan dalam bentuk puisi. Agar lebih jelas perhatikan puisi berikut :


          DIALOG SEPASANG BUNGA
          Karya : Slamet Wahedi

          Aku anggrek
          lahir di tengah pengap hamparan biru langit
          dari sekerling matahari
          awan menyapu muka, meninggalkan gerimis-gerimis tua
          dan embun terasa bayangan maya
          sirna sebelum senja kukencani

          Aku melati dan kau anggrek
          di tepian cakrawala pucuk kita meninju langit
          menggebuk-gebuk nafas angin
          dan bermimpi membangun riak sungai tua
          di antara tangkai-tangkai hijau

          Kami anggrek dan melati bersemi
          membukakkan hari-hari yang kian suram
          yang kami harkati dengan bulan kami sendiri
          kami sepasang bunga tercampakkan
          seperti waktu luruh menyapa jiwa

Puisi di atas berjudul “Dialog Sepasang Bunga”. Judul yang cukup menggelitik. Bunga apa yang sedang berdialog dan apa yang didialogkan, begitu kita mungkin akan bertanya sebelum membaca puisi tersebut. Ternyata, bunga anggrek dan bunga melati. Peristiwa yang menimpa mereka (dua bunga itu) adalah kesuraman hidup, tercampakkan seperti waktu luruh menyapa jiwa.

Menyatakan kesuraman hidup dengan menghadirkan sosok bunga memang menarik. Akan tetapi, benarkah Wahedi semata-mata sedang berbicara tentang bunga? Bisa ya, bisa tidak. Yang jelas menimpa bunga atau bukan, pokok persoalan yang digarap dalam puisi itu adalah kemanusiaan : kelahiran yang pengap, kemayaan hidup, upaya melawan alam, mimpi tentang sesuatu, tetapi menghadapi hari-hari suram. Demikianlah puisi meskipun menggunakan personifikasi dan simbol, pada dasarnya berbicara tentang manusia. Jadi tema puisi di atas adalah kemanusiaan.

Jika sudah menemukan dan menentukan tema yang akan ditulis menjadi puisi, kita perlu mengembangkan tema itu : hal-hal apa yang akan dikemukakan dalan puisi. Hal-hal yang sudah akan dikemukakan dalam puisi itu dapat dicari melalui pemikiran atau pengamatan. Secara mudah, misalnya kita akan menulis puisi yang berhubungan dengan kehidupan seorang anak kecil penjual koran yang harus membiayai sekolahnya sendiri. Setelah menenetukan masalah tersebut kita akan melakukan pengamatan di lapangan tentang kehidupan si penjual koran. Dari hasil pengamatan itu kemudian dipilih dan ditentukan mana yang akan diungkapkan dalam puisi.

PRAKTEK LEBIH MUDAH DIBANDING TEORI
Pada umumnya para penyair terkenal belajar menulis puisi dengan autodidact,  tidak melalui bangku Fakultas Sastra. Sarjana Sastra kebanyakan menjadi pengamat, hanya sedikit yang benar-benar menjadi penyair.
Menulis puisi ibarat belajar membuat kue. Belilah buku teori membuat kue lalu bacalah. Dijamin Anda tidak pernah akan trampil membuat kue dibanding kalau Anda belajar sambil praktek (learning by doing).  Tentunya mula-mula tidak akan sebagus pembuat kue profesional, namun dari pengalaman dan trial and error  berulang-ulang, akhirnya Anda akan menjadi profesional juga.
Sudah tentu dibutuhkan wawasan mengenai struktur batin dan struktur fisik puisi seperti serba sedikit diuraikan di atas. Dibutuhkan pengetahuan mengenai irama, rima, dan diksi, walaupun tidak terlalu mendalam. Karena dalam mengungkapkan kata-kata ke bentuk puisi diperlukan pemilihan kata-kata yang tepat, bukan hanya tepat maknanya melainkan juga harus tepat bunyi-bunyinya. Penyusunan kata-kata itu harus sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan estetis (indah). Selain itu, pendayagunaan majas dan personifikasi harus diperhatikan agar puisi yang dibuat semakin bagus.

Menulis puisi berbeda dengan menulis esai (artikel). Kalau dalam penulisan esai kita dituntut untuk menggunakan kata yang tegas dan tidak berbelit-belit, maka dalam penulisan puisi justru sebaliknya. Kita dituntut untuk pandai mengimprovisasikan sebuah keadaan menjadi rangkaian kata-kata yang enak dibaca dan penuh dengan makna tersembunyi.

Mari kita mulai dengan praktek : Ketika Anda duduk-duduk di taman, Anda melihat seekor kucing sedang makan tikus dengan sangat rakus, sehingga menimbulkan bunyi kriuk-kriuk  yang begitu menjijikkan. Maka kalau keadaan itu diterjemahkan ke dalam satu bentuk puisi akan menjadi seperti ini :


          Lihatlah...
          kucing jantan sedang asyik mencumbu kepala tikus ...

Mengapa kita harus memilih kata “lihatlah,” bukan “kulihat”?
Dalam konteks ini tujuan kita adalah mencoba mengajak pembaca untuk ikut merasakan apa yang sedang kita rasakan. Nah, kalau kita memilih kata kulihat,  maka berarti kalimat tersebut hanya ditujukan untuk diri kita sendiri, bukan untuk pembacanya.

Mengapa kita harus memilih frasa “kucing jantan”, bukan “kucing betina” atau “kucing” saja?
Tujuannya di sini adalah sebagai penegasan untuk memperkuat makna, sebab kata jantan  itu sendiri sudah memiliki makna kuat, garang, ganas dsb. Kalau kita hanya memakai kata kucing  saja, kalimat tersebut akan menjadi kurang tegas, terlebih kalau kita memilih kata kucing betina.  Itu justru akan membuat lemah makna yg terkandung.

Lalu mengapa kita harus memilih kata “mencumbu” bukan “memakan”?
Tujuannya adalah untuk memperluas makna. Kalau kita pilih kata memakan,  paling pembaca mikirnya begini: Halah, cuma ‘gitu doang, memasukkan makanan ke dalam mulut.  Akan sangat jauh berbeda dengan ketika kita memilih kata mencumbu.  Pembaca akan mendapatkan banyak imajinasi dari pemakaian kata mencumbu  di sini. Bisa diartikan memeluk, menciumi, menjilati, melumat, dsb.

Mengapa “kepala tikus”?
Frasa kepala tikus  di sini berfungsi untuk memfokuskan perhatian. Kalau kita memilih frasa perut tikus,  maka perhatian pembaca akan melebar ke mana-mana, karena di dalam perut yang begitu empuk terdapat isi yang tentu saja ikut termakan dan dipilah-pilah lagi oleh si kucing. Sangat berbeda ketika kita memilih frasa kepala tikus. Kepala tikus  mengandung makna bahwa tikus yang dimakan itu hanya satu. Selain itu, frasa tersebut akan membuat pembaca berimajinasi begini : betapa gemeretaknya ketika gigi-gigi kucing itu sedang beradu dengan tempurung kepala tikus yang begitu keras. Pastilah liur si kucing sampai berceceran dan tentu saja itu sangat sangat menjijikkan.

Dari imajinasi pembaca tersebut kita akan sangat mudah dalam memilih kalimat selanjutnya. Satu contoh kelanjutannya adalah seperti ini :


          Lihatlah ...

          kucing jantan sedang asyik mencumbu kepala tikus

          liurnya pun menetes menimpa rumput lalu membusuk
          hangus
          dan seiring taring kucing runcing gemerincing...
          dst.
Mulailah menulis. Jangan terlampau terikat dengan teori. Atau kondisinya dibalik : menulis (praktek) lebih dahulu. Teori belakangan.

Selasa, 19 Juni 2012

MENULIS PUISI ITU GAMPANG ! ?

oleh Pakde Azir

Di inbox saya ada puisi-kilat — meminjam istilah sebagai padanan pantun-kilat  (karmina) — yang dikirim oleh Ari Aryanti :


          ~~* NOTE *~~

          Ini PENTING ....!!!!!

          Kalau nanti malam kau bertemu ...'TUHAN',
          Tolong....!, tanyakan padanya ?
          Apakah Adam diciptakan untuk memperkosa Hawa...??????.
Ketika mengantar dokumentasi puisi Ajip Rosidi — https://www.facebook.com/note.php?note_id=179282298846975
 — saya menulis : Berapa larik (bait) dalam sebuah judul, dan berapa baris dalam sebuah bait sebagai syarat minimal untuk sebuah puisi? Belum ada yang bisa menjawab, tetapi Ajip Rosidi sudah menunjukkan bahwa batasan itu tidak ada.
Perhatikan salah satu puisi karya Ajip berikut ini :

          KOLAM

          Ikan-ikan berenangan dalam kolam yang bening-bening
          Tak tepercik niat meloncat menerjang langit luas terbentang

Atau puisi karya Sitor Situmorang

          MALAM LEBARAN
          Bulan di atas kuburan

Demikian isi puisi ”Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisi sebaris, teramat pendek, dan sederhana yang menimbulkan polemik. Di antaranya, banyak bersuara nyinyir, ”Cuma sebegitukah menulis puisi? Sesederhana itukah puisi? Berarti, gampang menulis puisi — tak perlu sampai ‘berdarah-darah’ dan semedhi.” Benarkah demikian?

Bagi penyair, puisi adalah kebanggaannya, aliran darahnya, pelepasan ekspresinya, kepribadiannya, ciri khasnya, napas hidupnya — bahkan, sarana mencari sesuap nasi. Penyair menjadi mati — disebut tak berkarya — jika tidak menulis puisi. Sekian banyak kredo yang disampaikan penyair untuk menguatkan puisi — seperti kredo Sutan Takdir Alisyabana, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri; dan bejibun arti yang dikemukakan para ahli mengenai puisi, tetapi bagi orang awam, puisi adalah puisi — barisan kata dan kalimat yang mempunyai bait, rima, irama, dan sebagainya. Artinya, puisi tidak sepenting doa atau kitab suci.

* * * * *

Suatu malam di salah satu kafe di Taman Ismail Marzuki, Sutardji Calzoum Bachri membenarkan bahwa menulis puisi itu gampang. ”Bahkan, apa pun bisa ditulis jadi puisi,” katanya. Wah!

Sesekali menyeruput teh manis yang mulai dingin, penyair yang sudah meninggalkan gaya mabok ini menjelaskan, segala kejadian yang ada, baik di sekitar maupun jauh dari kita, dapat ditulis menjadi puisi. Juga, peristiwa yang terjadi sesaat, seperti tabrakan kereta, pesawat jatuh, bom meledak, bisa dijadikan puisi. Sebab, puisi tak jauh beda dengan tulisan-tulisan lainnya, seperti laporan wartawan atau berita yang tertulis di koran mengenai politik, sosial, ekonomi, demonstrasi. ”Sehingga ada penyair yang cuma memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu untuk menulis puisi,” katanya.

Banyak yang terkejut dan meragukan pendapatnya ini. Meski Tardji diakui sebagai presiden penyair,  bukan berarti perkataan presiden adalah sabda atau firman — yang tidak ada salah atau cacatnya. Lalu, ia menunjuk sepotong koran yang tergeletak di atas meja seraya menjelaskan bahwa berita-berita itu dapat menjadi puisi bila dibacakan dengan teknik puisi.

Serta merta saya tertarik, meraih koran itu dan membaca sepenggal beritanya, dengan artikulasi dan intonasi membaca puisi. Apa yang terjadi? Tardji tersenyum. Dan teman-teman seniman memperhatikan dengan mangut-mangut. Merasa belum cukup, saya membaca dua lembaran besar menu makanan dan minuman yang tergantung di dinding kafe itu dengan artikulasi dan intonasi yang sama dalam pembacaan puisi:


          Nasi Goreng Es Campur

          Pecel Lele Wedang Jahe

          Soto Babat Es Jeruk
          Ikan Bakar Kopi Susu
          Sate Kambing Jus Nenas
Mendengar itu, Tardji tertawa. Dan teman-teman seniman bertepuk tangan. Sebaliknya, ingatan saya segera tertuju kepada dua penyair muda berbakat besar, yang mengekspresikan pendapat Tardji ini — dengan pendekatan lain. Yonathan Rahardjo sering menulis puisi dengan memasukkan jenis-jenis makanan dan minuman masyarakat kita sehari-hari, seperti ketupat, lepat, peyek, bandrek, pisang goreng.

Lebih ekstrem lagi Saut Sitompul, penyair yang baru saja pulang ke haribaanNya, berhasil menulis apa pun jadi puisi, bahkan menganjurkannya. Seperti isi salah satu puisinya:

          ada daun jatuh, tulis/ada belalang terbang, tulis…

Jadi, benarkah segala sesuatu (persoalan) dapat dijadikan puisi? Tak perlukah bersusah payah menulis puisi? Tak perlukah merenung di gunung dan berpuasa setahun untuk membuat puisi? Tak perlukah perenungan, pendalaman dan pemadatan makna?
Tergantung pencipta puisi itu sendiri. Tetapi, siapa yang keberatan, jika apa saja yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, lalu ditulis dengan bentuk puisi, lalu dinobatkan sebagai puisi? Jika semua masalah ditulis dengan berbentuk bait puisi, adakah yang melarang? Itu hak asasi seseorang. Hak berpendapat. Hak berekspresi. Hak berkarya. Bila akhirnya puisi yang dihasilkan itu dianggap tak berguna, ya, terserah. Jika pun orang-orang menganggap rada gila, ya, biarkan saja. Bukankah penyair besar sering bertingkah aneh-aneh, misalnya mabok bir, bawa kapak, buka baju dan bergulingan di atas panggung kala baca puisi? Lagipula, entah apa dasar hukumnya, untuk dapat diakui penyair, seseorang harus berani bertindak rada gila; seperti teriak-teriak di keramaian, baca puisi di atas pohon? Semuanya demi puisi, demi puisi. Demikian anehkah puisi?

* * * * *

Banyak jalan menuju Roma. Beribu cara untuk menciptakan puisi. Salah satu kiat jitu yang kerap diakui (baik tua maupun muda dan pemula) adalah jatuh cinta. Bukankah orang yang sedang kasmaran gampang menulis puisi? Seperti puisi ”Surat Cinta” Rendra, berikut ini:


          Engkau adalah putri duyung

          tergolek lemas

          mengejap-ngejapkan matanya yang indah
          dalam jaringku.
Jadi, dengan menumpahkan isi hati di atas secarik kertas dengan kata-kata indah dan terpilih, tulisan akan menjelma puisi. Atau, silakan tulis surat cinta dengan kalimat-kalimat berbunga, dengan bentuk larik dan bait puisi, ya, dapat juga disebut puisi. Artinya, semakin sering jatuh cinta, tentu semakin terangsang untuk menulis puisi lebih banyak. Semakin banyak jatuh cinta, semakin banyak stock puisi yang akan tersedia.
Berarti, puisi itu dapat dihasilkan oleh siapa pun, yang bukan penyair? Benar. Siapa pun boleh menulis puisi — tidak sebatas penyair semata. Tidak ada syarat atau batasan tertentu untuk dapat menulis puisi. Pencopet, penodong, pedagang asongan, petani, polisi, politikus, penipu, penjudi, pengusaha menengah, bankir, konglomerat, pengamen, boleh menulis puisi, tak ada larangan atau kutukan. Tak perlu takut dan frustasi. Puisi itu bukan kuntilanak atau momok hitam yang menakutkan. Jadi, tulislah puisi semampu dan seluas jangkauan dan wawasan.

Jika puisi yang ditulis dinilai orang jelek, tak perlu berduka dan frustasi. Terus saja menulis puisi, meski belum memenuhi kaidah-kaidah puitis. Ciptakan terus, tanpa henti. Tokh masih ada hari esok menanti untuk puisi yang (mungkin) lebih baik. Sejelek apa pun puisi yang dibuat, kata Tardji, tetap saja puisi. Tetapi, silakan renungkan sendiri, termasuk kategori puisi apa? Puisi asal jadi? Puisi basi? Adakah berisi tanda? Atau sekadar corat-coret penumpahan isi hati?
Ingat, puisi bukan alat propaganda, bukan sarana pelepasan kegalauan, bukan pula tong sampah unek-unek.

* * * * *

Meskipun bahasa puisi dan bukan puisi terasa cair; sesungguhnya puisi, sesederhana apa pun, harus penuh dengan ambiguitas dan homonim, penuh dengan asosiasi, memiliki fungsi ekspresif, menunjukkan nada dan sikap — mengutamakan tanda. Masalah ini dipertegas Rene Wellek & Austin Warren (1993:20) bahwa bahasa puisi penuh pencitraan, dari yang paling sederhana sampai sistem mitologi. Sementara Sapardi Djoko Damono memberi pengertian lebih sederhana, bahwa puisi adalah ”ingin mengatakan begini, tetapi dengan cara begitu.”

Jika demikian, puisi yang tidak dipenuhi tanda, belum layak disebut puisi? Ingat pendapat Tardji, tetap puisi. Tetapi puisi sesaat; sekali cecap langsung tak bermanfaat. Puisi donat. Seperti puisi yang dibuat anak kelas empat SD, tetap saja disebut puisi. Itu pula alasan Tardji membagi puisi berdasarkan fungsinya. Jika seseorang menulis puisi untuk kebutuhan sesaat, ya, cuma sebatas itu manfaatnya. Puisi itu akan segera tersapu angin dan hujan. Sebaliknya, jika puisi diciptakan berdasarkan perenungan mendalam, tanpa dipengaruhi kebutuhan apa pun, akan menjadi puisi sejati. Contohnya puisi-puisi Chairil Anwar. ”Maka, sangat disayangkan, bila ada penyair yang menulis puisi dengan memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu,” imbuhnya.

Sekilas pendapat ini bertentangan dengan kesimpulan Wellek & Warren, bahwa tipe-tipe puisi harus memakai paradoks, ambiguitas, pergeseran arti secara kontekstual, asosiasi irasional, memperkental sumber bahasa sehari-hari, bahkan dengan sengaja membuat pelanggaran-pelanggaran. Tetapi, bila dicermati, pendapat Tardji lebih mudah dimengerti dan lebih menegaskan atas keluhan penyair-penyair muda, ”Ada juga puisi pesanan. Puisi yang ditulis oleh penyair untuk kebutuhan, momen atau acara tertentu dengan bayaran tertentu pula.”

Bertitik tolak dari pendapat ini, berarti menulis puisi teramat sulit-lit. Tidak cukup dengan mengamati peristiwa-peristiwa yang ada. Menulis puisi harus penuh perenungan, mendasar dan berdasar. Bahkan, terkadang harus mengalami trance.  Apa yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, tidak serta-merta dapat dijadikan puisi, melainkan harus dikaji, diendapkan, direnungkan secara mendalam. Untuk menulis sebuah puisi saja, sering penyair harus melalui proses sepekan, setahun, sepuluh tahun. Itu pula sebabnya, bila dibandingkan dengan karya seniman lain, sepertinya daya kreativitas penyair dalam berkarya sangat tertinggal jauh. Sebab, setiap penyair (sejati), meski telah berkarya secara maksimal seumur hidupnya, tak dapat menghasilkan seabrek puisi. Bahkan, tak sedikit penyair seumur hidupnya cuma mampu menulis beberapa puisi, misalnya Toto Sudarto Bachtiar, Subagio Sastrowardoyo, JS Tatengkeng.

Lalu, masihkah dapat disebut menulis puisi itu gampang? Ada yang menjawab, tergantung kata hati. Ada juga yang menyebut, tanyakan daun-daun yang berguguran. Bahkan, ada pendapat lebih ekstrem, tanyakan pejabat atau konglomerat yang getol bikin puisi, lalu menerbitkan seabrek buku puisi (persis album rekaman dangdut) dan membuat album dangdut puisi atau puisi dangdut yang dipasarkan door to door  dengan pelbagai alasan sosial, kemanusiaan dan pengabdian.

Ayo, siapa ikut bergoyang puisi?

Minggu, 01 April 2012

LICENTIA POETICA & KREDO PUISI

Oleh: Pakde Azir

LICENTIA POETICA : KEBEBASAN BEREKSPRESI

Licentia poetica, suatu istilah yang kerap terdengar dari dunia sastra. Namun apakah licentia poetica itu? Licentia poetica adalah suatu lisensi atau izin tak tertulis yang diberikan kepada penulis karya sastra untuk menerjang kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar demi menimbulkan efek-efek tertentu sesuai keinginannya. Singkatnya dengan licentia poetica, seorang penulis ‘dihalalkan’ mempergunakan kaidah bahasa sendiri meski menyimpang.

Tampaknya era penggunaan licentia poetica dimulai sejak diperkenalkannya puisi kontemporer kepada masyarakat umum. Puisi kontemporer adalah puisi yang sudah tak terikat lagi dengan aturan-aturan penulisan puisi pada puisi baru atau puisi sebelumnya. Puisi kontemporer adalah puisi paling bebas yang pernah ada. Penyair dapat menggunakan kata-kata sesuka hatinya bahkan menggunakan kata-kata asing yang tidak tertulis di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) atau bahkan menggunakan gambar. Contoh penyair puisi kontemporer adalah Sutardji Calzoum Bachri dengan banyak sajak yang ia buat seperti :

SEPISAUPI
Oleh : Sutardji Calzoum Bachri

sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupoi
sepikul diri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya ke dalam nyanyi

Pada awalnya penggunaan licentia poetica dimaksudkan sebagai pembentuk efek-efek tertentu dalam karya sastra. Misalnya kemerduan bunyi, keselarasan sajak dan keseimbangan irama yang terbentuk dari susunan kata-kata dalam suatu kalimat. Efek-efek seperti ini akan menimbulkan kesan tertentu yang dapat mempengaruhi emosi pembaca sehingga pembaca akan terbawa cerita dan benar-benar meresapi cerita tersebut. Selain itu efek lain yang ditimbulkan oleh licentia poetica adalah menggugah rasa ingin tahu pembaca akan suatu karya akibat sang pembaca merasa karya tersebut unik dan berbeda dari karya lain.

Saat ini licentia poetica masih dipergunakan dalam dunia sastra. Namun sayang banyak penulis yang sering menjadikan licentia poetica sebagai alasan bagi mereka untuk menerjang kaidah bahasa yang telah baku. Hal ini dianggap lumrah karena kebebasan berkarya tak boleh dibatasi. Namun apakah penulis tersebut memahami kaidah tata bahasa yang baik dan benar? Belum tentu. Padahal sebagai warga negara Indonesia yang baik hendaklah menjaga dan melestarikan kebudayaannya apalagi bahasa nasional.

Ya, inilah licentia poetica yang hingga kini masih menuai perdebatan di dunia sastra Indonesia. Di suatu sisi penggunaan licentia poetica dimaksudkan sebagai pemanis karya sastra namun di sisi lain menjaga kelestarian bahasa nasional adalah kewajiban setiap warga negara termasuk para penyair. Kalau sudah begini apa yang harus diperbuat?

Hendaknya yang harus kita garis bawahi adalah pelanggaran aturan bahasa atas nama licentia poetica adalah suatu hal namun buta akan aturan penggunaan bahasa yang baik dan benar adalah hal lain. Kedua hal tersebut tak dapat dipadukan karena latar belakang permasalahan yang berbeda. Sebagai bangsa Indonesia yang baik kita tidak dilarang menciptakan karya sastra karena itu adalah salah satu wujud pelestarian seni berbahasa namun juga hendaknya pemahaman akan kaidah penggunaan bahasa yang baik dan benar tidak kita abaikan.

KREDO PUISI : KEBEBASAN TANPA RAMBU
APAKAH MASIH BERADA DALAM KORIDOR LICENTIA POETICA?

Setiap penyair memiliki licentia poetica dalam penulisan puisi (kebebasan penyair dalam memilah dan memilih cara dan gaya ungkap puisinya). Untuk totalitas ekspresi terkadang penyair melakukan pelanggaran kaidah bahasa dengan tujuan mengungkapkan secara memikat dapat dihasilkan totalitas pengungkapan. Lantaran bahasa dan komunikasi senantiasa harus diutamakan, maka pelanggaran dimungkinkan sejauh untuk kebutuhan ekspresi puitik.

Menurut Shaw (1972: 291); Licentia Poetica adalah kebebasan seorang sastrawan untuk menyimpang dari kenyataan, dari bentuk atau aturan konvensional, untuk menghasilkan efek yang dikehendaki.
Bahwasanya kata “licentia poetica” yang mungkin di mata sebagian penyair masih sangat asing, namun oleh kalangan penyair lainnya bisa jadi telah menjadi santapan sehari-hari, dalam kenyataannya lebih menyerupai “tameng” bagi penyair untuk memerdekakan diri demi menulis (berkarya) sebebas mungkin. Termasuk di antaranya kemungkinan melanggar kaidah-kaidah bahasa yang ada. Kata “licentia poetica” ini seakan menyerupai nomina abstrak alias kata benda yang tidak terlihat secara kasat mata. Mengapa? Karena kita hanya sering mendengar tentangnya, bahkan selalu menggunakannya, tetapi tidak tahu dengan pasti bagaimana bentuk dan wujud aslinya. Dengan kata lain : masalah sistem, batasan, cakupan, dan lain sebagainya terkait penerapannya dalam karya sastra (puisi), hingga saat ini masih menjadi “tanda tanya” besar.

Paradigma yang berkembang selama ini tentang licentia poetica tak lebih dari kata “bebas” atau “merdeka” dalam menulis. Dengan licentia poetica seorang penyair dapat dengan leluasa menumpahkan kreatifitas ke dalam sebuah karya tanpa batasan apa pun. Dengan licentia poetica perjalanan seorang penyair akan sangat aman dan nyaman, bebas hambatan, tak ada gangguan dari siapa pun. Sehingga kesan yang timbul mengisyaratkan bahwa kaidah bahasa yang kita kenal dengan nama resmi “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” atau lebih sering disebut EYD, yang mulai resmi berlaku sejak tahun 1972 setelah menggantikan Ejaan Republik (Ejaan Suwandi), seolah-olah serupa hujan deras yang senantiasa menyertai, mengiringi, bahkan menjadi aral melintang dalam perjalanan seorang penyair. Dari derasnya hujan ini, muncullah licentia poetica sebagai “payung” yang luas-lebar sebagai pelindung.

Lantaran demikian abstraknya, licentia poetica pun tumbuh dan berkembang sebagai sesuatu yang sifatnya individu dalam lingkup masyarakat bahasa dan sastra, tak terkecuali kalangan penyair. Di mana “kebebasan” dimaksud lantas diinterpretasikan, dimaknai, serta dieksplorasi sedemikian rupa oleh masing-masing penggunanya. Tentu saja dengan cara, metode, maupun tingkat kemampuan yang berbeda dan nafsi-nafsi pula.

Contoh paling dekat adalah seorang Sutardji Calzoum Bachri (SCB) — yang sering dijuluki Presiden Licentia Poetica — yang dengan mantapnya memproklamirkan sebuah temuan fenomenal bertajuk “Kredo Puisi” pada tanggal 30 Maret 1973, sebagai berikut (kopas lengkap) :

KREDO PUISI

>> Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian, Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.

>> Kata diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.

>> Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk mengantarkan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukan yang merdeka sebagai pengertian.

>> Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.

>> Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggu seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.

>> Bila kata telah dibebaskan, kreativitas pun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauannya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya yang kreatif.

>> Dalam penciptaan puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya dengan yang lainnya untuk memperkuat dirinya, membalik dan menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.

>> Sebagai penyair saya hanya menjaga sepanjang tidak mengganggu kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertian sendiri, bisa mendapat aksentuasi yang maksimal.

>> Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata.

>> Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) — Bandung, 30 Maret 1973 — (O, Amuk, Kapak, 1981:13-14).

KATA = MANTRA (?)

Seyogyanya, membicarakan “Kredo Puisi” SCB yang membingungkan di atas tentulah sesuatu yang butuh penalaran ekstra dan hendaknya merupakan kajian representatif. Terlebih jika harus menelusuri asal-muasal berikut segudang tendesinya. Namun dalam tulisan ini kemungkinan hanya akan memandang sisi luarnya saja yang berkaitan dengan licentia poetica, berikut potensi dampaknya terhadap eksistensi bahasa. Karena disamping keterbatasan waktu serta bahan acuan, ihwal Kredo Puisi ini juga telah sering dibahas dengan terang-jelas oleh banyak kalangan yang lebih kompeten. Mulai dari penyair, pemerhati sastra-budaya, hingga para kritikus sastra.

Kredo Puisi — dalam kurun waktu tertentu — memang bukanlah isapan jempol belaka, karena serta-merta diikuti dan ditegaskan dengan karya-karya yang sungguh berbeda dari karya penyair lainnya. Dalam karya-karya SCB yang berkiblat pada Kredo Puisi, kita tidak akan menemukan pertalian kata dan makna. Apalagi jika harus mencari sangkut-pautnya secara leksikal ke dalam kamus, tidak ada jalan sama sekali. Karena seluruh kemungkinan itu memang telah dimatikan oleh SCB melalui “kredo” yang dengan sangat tegas menulis bahwa kata-kata dalam puisinya adalah mantra. Tak pelak, dengan licentia poetica berlabel Kredo Puisi, sepak terjang SCB dalam meramu, menjungkir-balikkan, mempreteli, menguliti, hingga mencincang kata demi kata lewat karyanya, seakan tak terbendung. Namun fenomena ini justru mendapat resepsi dan tempat tersendiri dalam lingkup masyarakat bahasa-sastra. Entah karena unik dan menarik, karena tidak tahu dan kurang mengerti, atau mungkin karena benar-benar telah terkena mantra yang disebut dalam Kredo Puisi.

Kemudian timbul pertanyaan: apakah licentia poetica sejenis ini bukannya malah berpotensi membunuh bahasa? Sebab logisnya; ketika kata sudah dilepas-bebaskan dari makna, ketika kamus tak lagi diperlukan dan justru dianggap belenggu, lalu untuk apa lagi ada pelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum pendidikan? Jika memang kata benar-benar akan dikembalikan menjadi mantra — menurut “Kredo Puisi” kata pertama adalah mantra — apa tidak sebaiknya Fakultas Bahasa dan Sastra di unversitas-universitas seantero negeri diganti saja namanya menjadi Fakultas Dukun dan Mantra? Kalau demikian, apakah tidak sebaiknya lafal butir ketiga dalam Sumpah Pemuda yang berbunyi: “…menjunjung bahasa persatuan…” direvisi saja menjadi “…menjunjung mantra persatuan…”?

Karena menurut artinya sendiri dalam KBBI, “mantra” adalah: (1) perkataan atau ucapan yang memiliki kekuatan gaib (misalnya dapat menyembuhkan, mendatangkan celaka, dan sebagainya); (2) susunan kata berunsur puisi (seperti rima, irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain. Dalam pembagiannya lagi mantra dikelompokkan atas: (a) mantra kejahatan, yaitu mantra untuk perbuatan-perbuatan jahat dan mencelakai orang lain; (b) mantra keselamatan, yakni mantra untuk menjaga diri dari bahaya; (c) mantra penawar, atau dikenal sebagai mantra pengobatan terhadap orang sakit; (d) mantra pitanggang, kerap dijadikan mantra yang menyebabkan perempuan tidak suka kepada pria atau tidak menikah seumur hidup karena tidak ada laki-laki yang mencintainya.

Lalu, mantra mana yang dimaksud oleh Kredo Puisi? Setelah membaca mantra-mantra temuan Kredo Puisi, pertanyaannya; sudah berapa banyak orang sakit yang berhasil disembuhkan? Sudah berapa kali mencelakai orang akibat sihir-menyihir, teluh-meneluh, santet-menyantet, dan semacamnya? Sudah berapa banyak orang yang terselamatkan dari bahaya? Atau, perempuan mana yang kira-kira “mau” tidak bersuami seumur hidupnya karena terkena mantra Kredo Puisi? Mohon maaf, bukan lantaran tidak mempercayai mitologi dan semacamnya, tetapi jika “mantra” harus dijadikan acuan sejenis licentia poetica dalam karya sastra, barangkali perlu dipertimbangkan untuk menggolongkan paranormal kondang — yang tentu identik dengan mantra — Ki Joko Bodo sebagai “penyair” juga.

Tanpa bermaksud “apa pun” terhadap “siapa pun”, namun licentia poetica bernama Kredo Puisi sungguh telah menanamkan idealisme segar-nanar-bingar-sangar dalam paham pelaku sastra yang lain, terutama generasi selanjutnya. Betapa tidak, bahkan bocah-bocah tingkat sekolah dasar yang baru belajar mengenal huruf pun sudah diharuskan melahap kreasi individu hasil temuan Kredo Puisi melalui buku yang masuk ke sekolah-sekolah atas petuah pemerintah yang mengurusi bidang pendidikan (Depdiknas) — pada masanya.

Lalu bagaimana dampaknya terhadap perkembangan bahasa sendiri? Sungguh miris mengatakannya, karena idealnya pada tingkatan bangku sekolah seperti demikian, semestinya bahasa Indonesia-lah (termasuk di dalamnya EYD) yang harus dijadikan asupan utama. Bukan justru menjejali sekolahan dengan karya-karya sastra yang penuh dengan penyimpangan “orang-orang tertentu” saja. Tengoklah sekarang ke sekeliling kita, betapa kebebasan seorang penemu Kredo Puisi jauh lebih dikenal luas, dipuja-puja, bahkan melegenda di seantero negeri. Bandingkan dengan tokoh-tokoh pelopor bahasa semisal Sutan Takdir Alisjahbana yang dikenal juga sebagai “insinyur bahasa” lantaran kegigihannya memperjuangkan bahasa Indonesia semenjak masih bernama bahasa Melayu. Atau deretan nama pemakalah dalam Kongres Bahasa pertama kali di Solo pada tanggal 25-29 Juni 1938 seperti Ki Hadjar Dewantara, Djamaluddin Adi Negoro, Amir Syarifuddin, Muhammad Yamin, Soekardjo Soerjopranoto, Kusuma St. Pamuntjak, Sanusi Pane, hingga Muhammad Tabrani, yang merupakan salah satu titik tolak lahirnya kaidah-kaidah bahasa Indonesia. Atau Amin Singgih yang berhasil menarik minat para guru, mahasiswa, sastrawan, wartawan, hingga para pengusaha dan birokrat melalui siaran khusus bahasa Indonesia di stasiun TVRI pada tahun 1970-an. Atau “panglima pembakuan bahasa” Anton Moeliono yang juga begitu banyak memberi andil dalam proses pembakuan bahasa Indonesia. Ke mana pula tenggelamnya nama para ahli bahasa semisal J.S. Badudu hingga Ajip Rosidi yang begitu setianya mengkaji, membenahi, lalu memperkenalkan serta mengajak seluruh bangsa untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Adakah yang masih sudi untuk sekedar mengingat nama mereka?

Nurel Javissyarqi dalam bukunya “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri” (2011), berbicara selantang-lantangnya, segamblang-gamblangnya, seterang-terangnya, demi membuka mata dunia terkait Kredo Puisi berikut sekelumit dinamikanya. Upaya membuat melek mata dunia ini disusun dengan sangat runut, aktual dan tajam yang lalu diapresiasi dengan riang-girang-senang oleh banyak kalangan.

Usai menyinggung sedikit tentang Kredo Puisi, pada gilirannya kita kembali bertanya; seperti apakah gerangan resepsi masyarakat bahasa dan sastra sendiri terhadap teka-teki licentia poetica? Tugas inilah yang layak menjadi “PR” utama bagi kita semua. Karena harus diakui bahwa licentia poetica hanya bebas bermain dalam lingkup masyarakat sastra, tidak membaur-lebur dalam ranah masyarakat bahasa. Apa pasal? Tentu saja karena dari sekian banyak definisi dan pengertian, tetap saja tidak ada kejelasan tentang batasan, ketentuan, maupun cakupan dari licentia poetica itu sendiri. Sedangkan para pelaku sastra — khususnya penyair — mau tidak mau, suka tidak suka, harus menerima kenyataan bahwa mereka adalah salah satu ujung tombak sekaligus “penunjuk jalan” dalam hal penggunaan bahasa. Bayangkanlah bagaimana jadinya jika penunjuk jalan yang justru nyasar duluan lalu kencing berdiri di sembarang tempat? Ibarat pepatah, jika pemegang tampuk “ing ngarso sung tulodo” sudah doyan kencing berdiri, kemungkinan konvoi barisan “ing madya mangun karso” hingga “tut wuri handayani” yang membututi di belakang nantinya bukan lagi kencing berlari, tetapi kencing nungging dan jungkir balik.

Jadi, seperti apa dan bagaimana licentia poetica sebenarnya? Untuk pertanyaan ini kemungkinan memang sulit untuk dijawab dengan pasti. Tetapi dalam rangka pencarian, tidak ada salahnya jika kita sama-sama bergelut dan bergumul dengan peluh-keluh demi menilik benar-benar tingkat “kebebasan” kita dalam mencipta karya sastra — yang di dalamnya menggunakan jasa gratis “bahasa” itu. Adapun ilustrasi langsung secara sederhana perihal keterkaitan “licentia poetica” dengan “kaidah EYD” dari sisi struktur atau gaya penulisan, akan coba kita jajal bersama dalam catatan selanjutnya

Demikian catatan selayang pandang terhadap licentia poetica bernama “Kredo Puisi” dari balik kaca mata pengguna bahasa. Jika ternyata dalam catatan ini banyak cara bertutur yang kurang berkenan di hati pihak-pihak tertentu, harap dimaklumi. Sebab sejatinya sama sekali tidak terbersit niat untuk meminus-negatifkan apa pun dan siapa pun. Tulisan ini dibuat semata-mata dengan tujuan membuka ruang diskusi selebar-lebarnya, kepada seluruh masyarakat pengguna bahasa dan penggiat sastra.
Sedikit harapan; semoga putra-putri negeri belum lupa, bahwa dalam kalender setiap tahun, tanggal 28 Oktober masih tetap berwarna merah. Seperti halnya segala anggapan, tanggapan, atau apa pun rupanya terhadap tulisan ini, akan selalu setia dinanti, dengan hati yang juga merah.

Salam Bahasa, Sastra dan Budaya!

Selasa, 06 Maret 2012

TEORI SASTRA : I R A M A

Ditulis oleh Pakde Azir

     BUMIKU MENANGIS
     Karya : Setangkai Mawar Hitam

     Rakyat makin terlihat miris..
     Tapi pemimpin masih bisa tersenyum manis..

     Aduan rakyat sudah tak digubris..
     Para pemimpin terlalu sibuk mengatur bisnis..

     Yang kaya makin kaya belanja dan shoping pun pergi ke paris..
     Yg miskin makin miskin mengais rejeki pun jadi pengemis..

     Bumiku telah menangis..
     Semua'a makin tragis..

     Bumiku telah menangis diatas orang-orang yg antagonis..
     Bumiku terus menangis..
     Diatas orang-orang yg egois..

     Bumiku berhentilah kau menangis..
     Layak'a sang gerimis..
     Yg menjadi embun dan menipis..

     Bumiku tumbuhkanlah generasi baru..
     Hentikanlah tangisan duniamu..
     Dunia yg telah penuh dengan keserakahan dan permainan pejabt yg tida malu..
     Pada seorang anak kecil sepertiku..

Pertanyaan Mawar : Apakah tulisan di atas termasuk puisi atau sajak?

Secara singkat Pakde jawab :
Puisi : bentuk umum untuk karya tulis yang berirama.
Sajak : puisi atau prosa yang mementingkan persamaan bunyi.
Kesimpulan : Tulisan Mawar memenuhi kriteria kedua-duanya, ya puisi, ya sajak.

Jawaban itu ditimpali oleh Susi Susilawati : Selamat pagi, Pakde tadi mengupas sedikit tentang arti puisi; Puisi : bentuk umum untuk karya tulis yang berirama. Boleh lebih dalam mengetahui yang dimaksud dengan "irama" itu?


I R A M A

Irama (rythme) adalah faktor utama yang mencirikan sebuah karya untuk masuk ke dalam kategori puisi. Jadi bukan pada kalimat-kalimat pendek atau pun rangkaian kalimat-kalimat yang disusun vertikal.
Perhatikan tulisan berikut :

S A H A B A T
Karya : Yana Rezt
Di kala ku bersedih. Kau yang slalu menghiburku. Di kala ku sedang sendirian. Kau yang slalu menemani ku. Di kala ku sedang keterpurukan. Kau lah yang slalu membangkit kan semangat ku. Kau rengkuh aku dalam pelukan mu. Kau genggam erat tangan ku. Di kala keraguan telah menyapa ku. Kau tegur aku di kala suatu kesalahan telah ku laku kan. Bahkan tak segan" kau pun telah memarahi ku. Namun ku bangga dengan pengorbanan mu. Ku bahagia dengan kesetiaan mu. Ku merasa senang dengan sikapmu. Senyum ku adalah bahagiamu. Sedih ku adalah duka mu. Keterpuru kan ku adalah kebelengguan mu. Engkau adalah sahabat yang sangat mulia. Bahkan kau tak kan pernah melupakan semua tentng kita. Sahabat engkau sangat berati dalam hidup ku. Walau pun jarak dan waktu yang telah memisah kan kita. Namun kau slalu setia menemani ku. Walau pun di dumay dan di nyata.

Walaupun ditulis dalam bentuk kalimat panjang-panjang dan tidak disusun vertikal, tetapi karena di dalamnya terkandung faktor irama yang sangat dominan, maka karya Yana Rezt ini sudah tergolong puisi.

Timbulnya irama dalam puisi disebabkan oleh:
1. Perulangan bunyi berturut-turut dan bervariasi, misalnya sajak akhir, asonansi, dan aliterasi.
2. Adanya paralelisme-paralelisme, ulangan-ulangan kata dan ulangan-ulangan bait.
3. Adanya tekanan kata yang bergantian keras-lemah, yang disebabkan oleh sifat-sifat konsonan dan vokalnya atau panjang pendek kata juga disebabkan oleh kelompok-kelompok sintaksis, gatra atau kelompok kata.

Fungsi irama dalam puisi ialah agar :
1. Puisi terdengar merdu
2. Mudah dibaca
3. Menyebabkan aliran perasaan atau pikiran tak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan bayangan angan (imaji) yang jelas dan hidup.
4. Menimbulkan pesona atau daya magis.

Dalam praktek, kadang terjadi kerancuan pemahaman antara Irama, Melodi,  dan Tekanan,  yang semuanya berangkat dari satu pengertian yaitu rythme dan metrum yang terjemahan harfiahnya ialah “irama”.

A.  I R A M A
Irama merupakan bagian dari struktur fisik dalam kajian puisi. Dimaksud dengan “irama” dalam pengertian bahasa adalah pergantian turun-naik, panjang-pendek, keras-lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Lebih ringkas lagi : “irama” ialah pergantian frasa berturut-turut secara teratur.
Irama ini akan lebih jelas terasa pada pembacaan puisi (dahulu disebut deklamasi).

B.  M E L O D I
Melodi adalah susunan deret suara yang teratur dan berirama. Melodi timbul karena pergantian nada kata-katanya, tinggi-rendah bunyi yang berturut-turut. Pada umumnya “melodi” dinisbahkan pada nyanyian (lagu).
Bedanya melodi pada nyayian dan melodi pada puisi terletak pada frekuensinya. Macam bunyi (nada) yang terdapat pada puisi tak seberapa banyaknya dan interval (jarak nada)-nya juga terbatas.
Irama dan melodi bekerjasama dalam penyusunan sebuah puisi hingga menghasilkan (merupakan) kesatuan yang indah dan padu.

C.  T E K A N A N
Ada tiga jenis tekanan :
1. Dinamika :  tekanan pada kata yag terpenting, menjadi sari kalimat dan bait sajak.
2. Nada :  tekanan tinggi-rendah. Perasaan marah, gembira, dan heran sering menaikan suara, sedang perasaan sedih menurunkan suara.
3. Tempo :  cepat-lambatnya pengucapan suku kata, kata, atau kalimat.

Pola irama memang bukan sekadar perkara suku kata bertekanan dan tidak, yang menciptakan sepasang ”kaki” (atau lebih) yang ”berjalan” atau ”menari” sepanjang larik dan akhirnya sepanjang puisi. Pola vokal dan konsonan maupun panjang-pendek kata dan larik dalam sebuah puisi tentulah juga memegang peran membentuk irama. Namun, tak adanya unsur ”kaki yang berjalan naik-turun” secara teratur dalam sebuah puisi tetaplah sebuah cerita ketidak-hadiran. Paling tidak, absennya ”kaki” yang melangkah berirama itu kerap membuat ihwal ritme/irama dalam puisi Indonesia menjadi agak misterius: kehadirannya bisa dirasakan, tapi tak mudah diuraikan

Dengan demikian, pertanyaan Mawar sebagian yaitu apakah tulisannya termasuk puisi,  telah terjawab dan konklusi kita yang pertama adalah definisi tentang puisi yaitu : bentuk umum untuk karya tulis yang berirama.

Bagaimana dengan sajak?
Ini konklusi yang kedua. Sajak adalah  puisi atau prosa yang mementingkan persamaan bunyi.  Persamaan bunyi ini disebut RIMA yang telah pernah Pakde publish di Note ini — http://www.facebook.com/note.php?note_id=140398852735320.

Dalam puisi berjudul Bumiku Menangis  karya Mawar (Setangkai Mawar Hitam) di awal artikel ini, dapat dilihat adanya persamaan atau pengulangan bunyi vokal (u) seperti tampak pada larik "Bumiku tumbuhkanlah generasi baru".  Perulangan bunyi demikian disebut asonansi.
Selain itu, juga dapat diamati adanya perulangan bunyi konsonan (s) seperti nampak pada "Bumiku terus menangis".  Perulangan bunyi konsonan itu disebut aliterasi. Perulangan bunyi seperti contoh tersebut berlaku di antara kata-kata dalam satu larik. Rima demikian itu disebut rima dalam.

Lebih lanjut, jika kita mengamati bait pertama puisi tersebut, tampak juga adanya paduan bunyi antara setiap akhir larik sehingga menimbulkan pola persajakan a-a-a-a :
     Rakyat makin terlihat miris..
     Tapi pemimpin masih bisa tersenyum manis..
     Aduan rakyat sudah tak digubris..
     Para pemimpin terlalu sibuk mengatur bisnis..
Rima demikian itu, yakni rima yang terdapat pada akhir larik puisi, disebut rima akhir.
Pada contoh puisi tersebut juga dapat kita jumpai adanya pengulangan kata "Bumiku"  pada setiap awal bait. Ulangan kata demikian disebut rima identik. Rima identik bisa di awal, di tengah atau di akhir setiap larik. Penempatan ini tergantung pada pilihan gaya bahasa (majas)  setiap penulis.
Pengulangan bunyi disebut rima sempurna jika meliputi baik pengulangan konsonan maupun vokal, seperti tampak pada bait :
     Yang kaya makin kaya belanja dan shoping pun pergi ke paris..
     Yg miskin makin miskin mengais rejeki pun jadi pengemis..

Pada awalnya (dalam era Puisi Lama) puisi dan sajak adalah satu. Bentuk-bentuk sajak semakin tak mudah “dikenali” ketika puisi telah melepaskan diri dari bentuk-bentuk baku — pantun, talibun, soneta, dan seterusnya — menuju puisi bebas. Puisi bebas adalah puisi yang menghendaki penciptaan irama tersendiri yang khas bagi setiap karya. Dalam khazanah sastra yang memiliki puisi berirama di latar belakang, puisi bebas melepaskan diri dari kerangkeng formula penulisan puisi, tetapi sekaligus telah dirasuki oleh ”hantu-hantu” metrum yang bergentayangan memainkan irama-irama tersembunyi. Dalam khazanah sastra yang tak dikuasai tradisi puisi terikat, irama puisi bebas barangkali datang sepenuhnya dari diri si penyair. Dan akhirnya, pencapaian khazanah itu pun bergantung pada kehadiran sejumlah jenius dari waktu ke waktu, yang memetik sejumlah bahan dari khazanah lain dan mengolahnya hingga menjadi milik sendiri.

Dalam karya Mawar ini : puisi masih “bersahabat” dengan sajak. Tapi kelak akan tiba masanya di mana puisi akan “berpisah” dan membangkang terhadap sahabatnya.

Senin, 05 Maret 2012

TEORI SASTRA : RIMA

oleh Pakde Azir

A. PENGERTIAN 
Rima adalah persajakan atau perulangan bunyi yang sama dalam puisi yang berguna untuk menambah keindahan suatu puisi.
Contoh :
          Berakit-rakit ke hulu
          berenang-renang ke tepian
          Bersakit-sakit dahulu
          bersenang-senang kemudian.

B. MACAM-MACAM RIMA

1. RIMA BERDASARKAN BUNYI

1.1. Rima Sempurna. Seluruh suku akhirnya berirama sama.
Contoh :
          ma – lang
          ma – ti
                    pa – lang
                    ha - ti

1.2. Rima Tak Sempurna. Hanya sebagian suku akhir yang sama.
Contoh :
          pu – lang
          pa - gi
                    tu – kang
                    ha - ri

1.3. Rima Mutlak. Seluruh kata berima
Contoh :
          Mendatang-datang jua
          kenangan masa lampau
          Menghilang muncul jua
          yang dulu sinau-silau
Kata jua  yang diulang dua kali pada tempat yang sama itu berima mutlak.

1.4. Rima Terbuka. Yang berima adalah suku akhir suku terbuka dengan vokal yang sama.
Contoh :
          bu – ka
          ba – tu
                    mu – ka
                    pa – lu

1.5. Rima Tertutup. Yang berima itu suku akhir suku tertutup dengan vokal yang diikuti konsonan yang sama.
Contoh :
          hi – lang
          su – sut
                    ma – lang
                    ta – kut

1.6. Rima Aliterasi. Yang berima adalah bunyi-bunyi awal pada tiap-tiap kata yang sebaris, maupun pada baris-baris berlainan.
Contoh :
          Bukan beta bijak berperi
          pandai menggubah madahan syair
Bunyi b  pada kata-kata dalam baris pertama bait puisi di atas disebut rima aliterasi.

1.7. Rima Asonansi. Yang berima adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata, baik pada satu baris maupun pada baris-baris berlainan.
Contoh :
          se – cu – pak
          tum - bang
                    se – cu – kat
                    mun - dam
Yang disebut asonansi ialah vokal-vokal e – u – a  dan u – a  pada kata-kata tersebut di atas.

1.8. Rima Disonansi. Rima ini adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata seperti pada asonansi tetapi memberikan kesan bunyi-bunyi yang berlawanan.
Contoh :
          Tin – dak tan – duk ( i– a / a – u )
          Mon – dar man – dir ( o – a / a – i )

2. BERDASARKAN LETAK KATA-KATA DALAM BARIS 

2.1. Rima Awal. Apabila kata-kata yang berima terdapat pada awal-awal kata.
Contoh :
          Pemuda kaulah harapan bangsa
          Pemuda jangan suka berpangku tangan

2.2. Rima Tengah. Apabila kata-kata yang berima terletak di tengah.
Contoh :
          Pemuda kaulah harapan bangsa
          Pemudi kaulah harapan negeri

2.3. Rima Akhir. Apabila kata-kata yang berima terletak pada akhir. Bentuk ini banyak digunakan dalam bentuk Pantun, Syair dan Gurindam.
Contoh :
          Tolong-menolong umpama jari
          bantu membantu setiap hari
          Bekerja selalu berlima diri
          itulah misal Tuhan memberi

2.4. Rima Tegak. Apabila kata-kata yang berima terdapat pada baris-baris yang berlainan.
Contoh :
          Terlipat
          Terikat
          Engkau mencari
          Terang matahari
          Melambai
          Melombai
          Engkau beringin
          Digerak angin
          Terhibur
          Terlipur
          Engkau bermalam
          Di tepi kolam
          (J.E. Tatengkeng)

2.5. Rima Datar. Apabila rima kata-kata yang berima itu terdapat pada baris yang sama.
Contoh :
          Air mengalir menghilir sungai
          (bunyi ir  pada akhir ketiga kata)

2.6. Rima Sejajar
Apabila sepatah kata dipakai berulang-ulang dalam kalimat yang beruntun.
Contoh :
          Dapat sama laba
          Cicir sama rugi
          Bukit sama didaki
          Lurah sama dituruni
          Berat sama dipikul
          Ringan sama dijinjing
          Terapung sama hanyut
          Terendam sama basah

2.7. Rima Berpeluk (Rima Berpaut). Apabila umpamanya baris pertama berima dengan baris keempat, baris kedua berima dengan baris ketiga. Rima ini terletak pada bentuk Soneta dengan rima a – b – b – a
Contoh :
          Perasaan siapa ta’kan nyala ( a )
          Melihat anak berlagu dendang ( b )
          Seorang sajak di tepi padang ( b )
          Tiada berbaju buka kepala ( a )

2.8. Rima Bersilang (Rima Salip). Rima yang letaknya berselang-selang. Misalnya baris pertama berima dengan baris ketiga, dan baris kedua berima dengan baris keempat. Rima ini dapat kita jumpai dalam bentuk Pantun yang berrumus a – b – a – b.
Contoh :
          Burung nuri burung dara ( a )
          terbang ke sisi taman kayangan ( b )
          Karangan janggal banyak tak kena ( a )
          daripada paham belum sempurna ( b )

2.9. Rima Rangkai. Apabila kata-kata yang berima terdapat pada kalimat-kalimat yang beruntun. Bentuk ini dapat kita jumpai dalam bentuk Syair dengan rumusnya a – a – a – a ; b – b – b –b
Contoh :
          Hatiku rindu bukan kepalang ( a )
          Dendam berahi berulang-ulang ( a )
          Air mata bercucuran selang menyelang ( a )
          Mengenangkan adik kekasih abang ( a )
                    Diriku lemah anggotaku layu ( b ) 
                    Rasakan cinta bertalu-talu ( b )
                    Kalau begini datanglah selalu ( b ) 
                    Tentulah kanda berpulang dahulu ( b )

2.10. Rima Kembar
Apabila kalimat yang beruntun dua-dua berima sama. Misalnya dengan abjad a – a – b – b  atau c – c – d – d – e – e dan seterusnya.
Contoh :
          Sedikit pun matamu tak berkerling ( a )
          Memandang ibumu sakit berguling ( a )
          Air matamu tak bercucuran ( b )
          Tinggalkan ibumu tak penghiburan ( b )
          (J. E. Tatengkeng)

2.11. Rima Patah
Apabila dalam bait-bait puisi ada kata yang tidak berima sedangkan kata-kata lain pada tempat yang sama di baris-baris lain memilikinya. Rumus rima patah adalah a – a – b – a  atau b – c – b – b
Contoh :
          Beli baju ke pasar Minggu ( a )
          jangan lupa beli duku ( a )
          Beli kemeja ke pasar Senen ( b )
          jangan lupa ajaklah daku ( a )
                    Beli kemeja ke pasar Senen ( b )
                    jangan lupa membesi dasi ( c )
                    Jangan suka jajan permen ( b )
                    lebih baik dibelikan semen ( b )

2.12. Rima Merdeka. Tidak ada yang bersajak
Contoh :
          Hanya sebuah bintang ( a )
          Kelip kemilau ( b )
          Tercapak di langit ( c )
          Tidak berteman ( d )
          (Aoh Kartahadimadja)

3. RIMA MENURUT RUPA (BENTUK)-NYA 

Rima Rupa (Rima Bentuk). Rima rupa (rima bentuk) hanya terdapat pada puisi-puisi Melayu Klasik yang ditulis dengan huruf Arab – Melayu. Tulisan ( bentuknya ) tampak sama, tetapi bunyinya berbeda.
Contoh :
          1. Tulisan kata ramai  (ﺭﺍﻣﻲ) dengan rami  (ﺭﺍﻣﻲ)
          2. Tulisan kata lampau  (ﻠﻢ ﻔﻮ)dengan lampu  (ﻠﻢ ﻔﻮ).

Rabu, 29 Februari 2012

TEORI SASTRA : MEMAHAMI PUISI

Ditulis oleh Pakde Azir

MEMAHAMI PUISI

Puisi (dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create)  adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan sebagai kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, metrum dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli mendefinisikan “puisi” tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa orang lain ke dalam keadaan hatinya.

Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag  dan lain-lain). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi kadang-kadang juga hanya berisi satu kata/sukukata/frasa yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala “keanehan” yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi.

Ada beberapa perbedaan antara puisi lama, puisi baru, dan puisi kontemporer (puisi cyber).  Namun beberapa kasus mengenai puisi modern atau puisi cyber belakangan ini makin memprihatinkan jika ditilik dari pokok dan kaidah puisi itu sendiri yaitu “pemadatan kata”. Kebanyakan penyair aktif sekarang baik pemula ataupun bukan lebih mementingkan gaya bahasa dan bukan pada pokok puisi tersebut. Mereka enggan atau tak mau untuk melihat kaidah awal puisi tersebut.

MEMBACA PUISI
Di beberapa daerah di Indonesia puisi juga sering dinyanyikan dalam bentuk pantun. Dalam konteks ini, puisi (yang tertulis) dipagelarkan dalam bentuk lisan baik dalam bentuk seni suara (lagu) maupun seni baca (deklamasi).

Dalam hal membaca puisi, yang perlu diperhatikan adalah :
1. Ketepatan ekspresi/mimik.
     — Ekpresi  adalah pernyataan perasaan hasil penjiwaan puisi.
     — Mimik  adalah gerak air muka.
2. Kinesik yaitu gerak anggota tubuh.
3. Kejelasan artikulasi.
     — Artikulasi  yaitu ketepatan dalam melafalkan kata-kata.
4. Timbre yaitu warna bunyi suara (bawaan) yang dimilikinya.
5. Irama puisi, artinya panjang-pendek, keras-lembut, tinggi-rendahnya suara.
6. Intonasi atau lagu suara.
    Dalam sebuah puisi, ada tiga jenis intonasi antara lain sebagai berikut :
    1. Tekanan dinamik  yaitu tekanan pada kata-kata yang dianggap penting.
    2. Tekanan nada  yaitu tekanan tinggi-rendahnya suara.
         — Suara tinggi menggambarkan keriangan, marah, takjub, dan sebagainya.
         — Suara rendah mengungkapkan kesedihan, pasrah, ragu, putus asa dan sebagainya.
    3. Tekanan tempo  yaitu cepat-lambat pengucapan sukukata atau kata.

STRUKTUR FISIK PUISI
Struktur fisik puisi terdiri dari:

1. Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.

2. Diksi,  yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.

3. Imaji,  yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif),  imaji penglihatan (visual),  dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil).  Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.

4. Kata konkret,  yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misalnya kata kongkret “salju” : melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.

5. Gaya bahasa,  yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Gaya bahasa disebut juga majas.  Adapan macam-macam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, paradoks, dll.

6. Rima dan Irama,  adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris dan bait puisi. Mengenai RIMA dan IRAMA ini sudah pernah dipublish di Note Komunitas Sahabat Kecil kita ini :
— http://www.facebook.com/note.php?note_id=140398852735320
— http://www.facebook.com/note.php?note_id=148492248592647

STRUKTUR BATIN PUISI
Struktur batin puisi terdiri dari :

1. Tema/makna (sense).  Media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna. Maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.

2. Rasa (feeling),  yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis serta psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair memilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.

3. Nada (tone),  yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerjasama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.

4. Misi/amanat/tujuan/maksud (itention);  yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca

JENIS-JENIS PUISI
Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama, puisi baru, dan puisi kontemporer.

A. PUISI LAMA

Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :
— Jumlah kata dalam 1 baris
— Jumlah baris dalam 1 bait
— Persajakan (rima)
— Banyak suku kata tiap baris
— Irama.

Ciri puisi lama:
— Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
— Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
— Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.

Jenis-jenis puisi lama:

1. MANTRA :
Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Contoh:

     Assalamu’alaikum putri satulung besar
     Yang beralun berilir simayang
     Mari kecil, kemari
     Aku menyanggul rambutmu
     Aku membawa sadap gading
     Akan membasuh mukamu

2. PANTUN :
Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
Contoh:

     Anak ikan dipanggang saja
     hendak dipindang tidak berkunyit
     Anak orang dipandang saja
     hendak dipinang tidak berduit

3. KARMINA :
Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
Contoh:

     Dahulu parang sekarang besi  (a)
     Dahulu sayang sekarang benci  (a)

4. SELOKA :
Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepatah maupun perumpamaan yang mengandung senda-gurau, sindiran, bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, kadang-kadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris. Kata "seloka" diambil dari bahasa Sanskerta, sloka.

Contoh seloka 4 baris:
     Sudah bertemu kasih sayang
     Duduk terkurung malam siang
     Hingga setapak tiada renggang
     Tulang sendi habis berguncang

Contoh seloka lebih dari 4 baris:
     Baik budi emak si Randang
     Dagang lalu ditanakkan
     Tiada berkayu rumah diruntuhkan
     Anak pulang kelaparan
     Anak dipangku diletakkan
     Kera di hutan disusui

5. GURINDAM :
Gurindam adalah puisi yang bercirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a, berisi nasihat.
Contoh:

Kurang pikir kurang siasat  (a)
Tentu dirimu akan tersesat  (a)

Barangsiapa tinggalkan sembahyang  (b)
Bagaikan rumah tiada bertiang  (b)

Jika suami tak berhati lurus  (c)
Istri pun kelak menjadi kurus  (c)

6. SYAIR :
Syair adalah puisi yang berasal dari Persia dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita yang dirangkai sedemikian panjang, mulai dari beberapa bait hingga berlembar-lembar (buku).
Contoh:

     SYAIR PERAHU
     (Hamzah Fansuri)

     Inilah gerangan suatu madah
     mengarangkan syair terlalu indah
     membetuli jalan tempat berpindah
     di sanalah i'tikad diperbetuli sudah

     Wahai muda kenali dirimu
     ialah perahu tamsil tubuhmu
     tiadalah berapa lama hidupmu
     ke akhirat jua kekal diammu

     Hai muda arif-budiman
     hasilkan kemudi dengan pedoman
     alat perahumu jua kerjakan
     itulah jalan membetuli insan

     dst.

7. TALIBUN :
Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, atau pun 10 baris.
Contoh:

     Kalau anak pergi ke pekan
     Yu beli belanak pun beli
     Ikan panjang beli dahulu
     Kalau anak pergi berjalan
     Ibu cari sanak pun cari
     Induk semang cari dahulu

B. PUISI BARU
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.

Ciri-ciri Puisi Baru:
— Bentuknya rapi, simetris;
— Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
— Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
— Sebagian besar puisi empat seuntai;
— Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
— Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.

Jenis-jenis Puisi Baru menurut isinya, dibedakan atas :

1. BALADA :
Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.
Contoh:

     BALADA IBU YANG DIBUNUH

     Ibu musang dilindung pohon tua meliang
     bayinya dua ditinggal mati lakinya.

     Bulan sabit terkait malam memberita datangnya
     waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.

     Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia
     dirasukinya dusun-dusun, semak-semak,
     taruhan harian atas nyawa.

     Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa
     menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.

     Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba
     oleh lengking pekik yang lebih menggigilkan
     pucuk-pucuk daun
     tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.

     Tiada pulang ia yang meski rampas rejeki hariannya
     ibu yang baik, matinya baik,
     pada bangkainya gugur pula dedaun tua.

     Tiada tahu akan merataplah kolik meratap juga
     dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin Tenggara.
     Lalu satu ketika di pohon tua meliang
     matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.

     Dan jalannya semua peristiwa
     tanpa dukungan satu dosa
     Tanpa

     (W.S. Rendra)

2. HIMNE :
Himne adalah puisi pujaan untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau almamater. Sekarang ini pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernafaskan ketuhanan.
Contoh:

     Bahkan batu-batu yang keras dan bisu
     Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri
     Menggeliat derita pada lekuk dan liku
     bawah sayatan khianat dan dusta.
     Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu
     menitikkan darah dari tangan dan kaki
     dari mahkota duri dan membulan paku
     Yang dikarati oleh dosa manusia.
     Tanpa luka-luka yang lebar terbuka
     dunia kehilangan sumber kasih
     Besarlah mereka yang dalam nestapa
     mengenal-Mu tersalib di dalam hati.
     (Saini S.K)

3. ODE :
Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.
Contoh:

     GENERASI SEKARANG
     Di atas puncak gunung fantasi
     Berdiri aku, dan dari sana
     Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
     Generasi sekarang di panjang masa
     Menciptakan kemegahan baru
     Panteon keindahan Indonesia
     Yang jadi kenang-kenangan
     Pada zaman dalam dunia
     (Asmara Hadi)

4. EPIGRAM :
Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup. Epigram berasal dari Bahasa Yunani epigramma  yang berarti unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, iktibar; atau teladan.
Contoh:

     Hari ini tak ada tempat berdiri
     Sikap lamban berarti mati
     Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan
     Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas
     (Iqbal)

5. ROMANSA :
Romansa adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih. Berasal dari bahasa Perancis romantique  yang berarti keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra.
Contoh :

     INDAH BERSAMAMU

     Kurangkai kata indah menjadi sebuah nama
     Agar kau tahu apa yang kurasa
     Kurasakan cinta saat di dekatmu
     Cinta yang indah untuk dirimu yang terindah di hatiku

     Lembutnya sikapmu membuat hatiku luluh
     Jatuh dalam pesona cinta yang terpancar dari wajahmu

     Bila dewi cinta ada di pihakku
     Ku kan memohon padanya untuk buatmu mencintaiku
     Namun, ku tak ingin menyakitimu
     Dengan memaksamu untuk mencintaiku

     Kuingin kau rasakan cinta yang kurasa
     Dan biarkan cintaku mengisi hatimu

     Dengarlah bisik hatiku
     Kuucap cinta yang indah untukmu
     Tuk jalani hidup yang indah bersamamu
     Dan terjalin abadi untuk selamanya

6. ELEGI :
Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan. Berisi sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang.
Contoh:

     SENJA DI PELABUHAN KECIL
     Ini kali tidak ada yang mencari cinta
     di antara gudang, rumah tua, pada cerita
     tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
     menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
     Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
     menyinggung muram, desir hari lari berenang
     menemu bujuk pangkal makanan. Tidak bergerak
     dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
     Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
     menyisir semenanjung, masih pengap harap
     sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
     dari pantai keempat, sendu penghabisan bisa terdekap
     (Chairil Anwar)

7. SATIRE :
Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik. Berasal dari bahasa Latin satura  yang berarti sindiran; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan (ke atas pemimpin yang pura-pura, korup, zalim, dll.).
Contoh:

     Aku bertanya
     tetapi pertanyaan-pertanyaanku
     membentur jidat penyair-penyair salon,
     yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
     sementara ketidak-adilan terjadi
     di sampingnya,
     dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,
     termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
     (W.S. Rendra)

Puisi Baru menurut Bentuknya:

1. DISTIKHON
Distikon, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas dua baris (puisi dua seuntai).
Contoh:

     Berkal-kali kita gagal
     Ulangi lagi dan cari akal

     Berkali-kali kita jatuh
     Kembali berdiri jangan mengeluh

     (Or. Mandank)

2. TERZINA :
Terzina, puisi yang tiap baitnya terdiri atas tiga baris (puisi tiga seuntai).
Contoh:

     Dalam ribaan bahagia datang
     Tersenyum bagai kencana
     Mengharum bagai cendana

     Dalam bah’gia cinta tiba melayang
     Bersinar bagai matahari
     Mewarna bagaikan sari

     (Sanusi Pane)

3. KUATRAIN :
Kuatrain, puisi yang tiap baitnya terdiri atas empat baris (puisi empat seuntai).
Contoh :

     Mendatang-datang jua
     Kenangan masa lampau
     Menghilang muncul jua
     Yang dulu sinau silau

     Membayang rupa jua
     Adi kanda lama lalu
     Membuat hati jua
     Layu lipu rindu-sendu

     (A.M. Daeng Myala)

4. KUINT :
Kuint, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas lima baris (puisi lima seuntai).
Contoh :

     Hanya kepada Tuan
     Satu-satu perasaan
     Hanya dapat saya katakan
     Kepada tuan
     Yang pernah merasakan

     Satu-satu kegelisahan
     Yang saya serahkan
     Hanya dapat saya kisahkan
     Kepada tuan
     Yang pernah diresah-gelisahkan

     Satu-satu kenyataan
     Yang bisa dirasakan
     Hanya dapat saya nyatakan
     Kepada tuan
     Yang enggan menerima kenyataan

      (Or. Mandank)

5. SEKTET :
Sektet, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas enam baris (puisi enam seuntai).
Contoh:

     Merindu bagia
     Jika hari’lah tengah malam
     Angin berhenti dari bernafas
     Sukma jiwaku rasa tenggelam
     Dalam laut tidak terwatas
     Menangis hati diiris sedih
     (Ipih)

6. SEPTIME :
Septime, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas tujuh baris (tujuh seuntai).
Contoh:

     INDONESIA TUMPAH DARAHKU
     Duduk di pantai tanah yang permai
     Tempat gelombang pecah berderai
     Berbuih putih di pasir terderai
     Tampaklah pulau di lautan hijau
     Gunung gemunung bagus rupanya
     Ditimpah air mulia tampaknya
     Tumpah darahku Indonesia namanya
     (Mohammad Yamin)

7. OKTAF/STANZA :
Oktaf/Stanza, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas delapan baris (double kutrain, atau puisi delapan seuntai).
Contoh:

     A W A N
     Awan datang melayang perlahan
     Serasa bermimpi, serasa berangan
     Bertambah lama, lupa di diri
     Bertambah halus akhirnya seri
     Dan bentuk menjadi hilang
     Dalam langit biru gemilang
     Demikian jiwaku lenyap sekarang
     Dalam kehidupan teguh tenang
     (Sanusi Pane)

8. SONETA :
Soneta, adalah puisi yang terdiri atas empat belas baris yang terbagi menjadi dua. Dua bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris. Soneta berasal dari kata sonneto  (Bahasa Italia) perubahan dari kata sono  yang berarti suara. Jadi soneta secara harfiah berarti puisi yang bersuara. Di Indonesia, soneta masuk dari Negeri Belanda diperkenalkan oleh Muhammad Yamin dan Roestam Effendi, karena itu mereka berdualah yang dianggap sebagai ”Pelopor/Bapak Soneta Indonesia”. Bentuk soneta Indonesia tidak lagi tunduk pada syarat-syarat soneta Italia atau Inggris, tetapi lebih mempunyai kebebasan dalam segi isi maupun rimanya. Yang menjadi pegangan adalah jumlah barisnya (empat belas baris).
Contoh:

     G E M B A L A

     Perasaan siapa tak kan nyala  ( a )
     Melihat anak berlagu dendang  ( b )
     Seorang saja di tengah padang  ( b )
     Tiada berbaju buka kepala  ( a )

     Beginilah nasib anak gembala  ( a )
     Berteduh di bawah kayu nan rindang  ( b )
     Semenjak pagi meninggalkan kandang  ( b )
     Pulang ke rumah di senja kala  ( a )

     Jauh sedikit sesayup sampai  ( a )
     Terdengar olehku bunyi serunai  ( a )
     Melagukan alam nan molek permai  ( a )

     Wahai gembala di segara hijau  ( c )
     Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau  ( c )
     Maulah aku menurutkan dikau  ( c )

     (Muhammad Yamin)

9. PROSA LIRIS
Prosa liris merupakan suatu bentuk karya sastra yang berisi curahan perasaan pengarang secara subyektif yang disajikan seperti bentuk prosa, namun menggunakan bahasa berirama yang biasa digunakan dalam puisi. Walaupun ia boleh dikatakan terletak antara prosa dan puisi, namun karena memenuhi kaidah puisi (khususnya irama, diksi dan majas), maka prosa liris tergolong dalam jenis puisi.
Prosa liris eksis dalam semua zaman sejak zaman Puisi Lama hingga zaman Puisi Kontemporer saat ini. Al Qur’an selaku Kitab Suci ditulis dengan menggunakan gaya bahasa prosa liris. Dalam zaman Puisi Lama karya prosa liris misalnya Kaba Sabai Nan Aluih  (Tulis St. Sati) dan Hikayat Cindur Mata  (Aman Dt. Majoindo). Walapun sangat langka, dalam zaman Puisi Baru dan Puisi Kontemporer masih ada saja penyair yang menulis dalam bentuk prosa liris.

Ciri-ciri prosa liris :
— tidak terikat oleh baris (larik) dan bait.
Contoh :

PERSAHABATAN DENGAN SEEKOR ANJING
Aku tidur di depan sebuah kulkas. Suaranya berdengung seperti kaos kakiku di siang hari yang terik. Di dalam kulkas itu ada sebuah negara yang sibuk dengan jas, dasi dan mengurus makanan anjing. Sejak ia berdusta, aku tidak pernah memikirkannya lagi. Aku memakai rakit bambu, kembali pulang ke nenek moyangku. Mereka ternyata tak pernah tidur. Mereka sibuk menjaga pohon pisang di pinggir kali. Lalu mereka kembali mengajariku menyanyi, menabuh, dan menari, Dari tubuhku berjatuhan telur-telur busuk. Nyayian  sungai dan pesta-pesta batu. Aku berteman dengan seekor anjing yang sudah lama membenci negara yang tak pernah keluar dari dalam kulkas itu. Kulkas dengan partai-partai spanduk dan kaos oblong. Yang sibuk mencekik suara rakyat. Cahaya matahari sangat ramah di sini, menerangi bulu-bulu anjing.
(Afizal Malna)

C. PUISI KONTEMPORER
Kata kontemporer secara umum bermakna masa kini sesuai dengan perkembangan zaman atau selalu menyesuaikan dengan perkembangan keadaan zaman. Selain itu, puisi kontemporer dapat diartikan sebagai puisi yang lahir dalam kurun waktu terakhir. Puisi kontemporer berusaha lari dari ikatan konvensional puisi itu sendiri. Puisi kontemporer seringkali memakai kata-kata yang kurang memperhatikan santun bahasa, memakai kata-kata makin kasar, ejekan, dan lain-lain. Pemakaian kata-kata simbolik atau lambing intuisi, gaya bahasa, irama, dan sebagainya dianggapnya tidak begitu penting lagi.

Puisi kontemporer dibedakan menjadi 3 yaitu :

1. PUISI MANTRA
Puisi mantra adalah puisi yang mengambil sifat-sifat mantra. Sutardji Calzoum Bachri adalah orang yang pertama memperkenalkan puisi mantra dalam puisi kontemporer.
Ciri-ciri mantra adalah:
— Mantra bukanlah sesuatu yang dihadirkan untuk dipahami melainkan sesuatu yang disajikan untuk menimbulkan akibat tertentu.
— Mantra berfungsi sebagai penghubung manusia dengan dunia misteri.
— Mantra mengutamakan efek atau akibat berupa kemanjuran; dan kemanjuran itu terletak pada perintah.
Contoh:

     SHANG HAI
     ping di atas pong
     pong di atas ping
     ping ping bilang pong
     pong pong bilang ping
     mau pong? bilang ping
     mau mau bilang pong
     mau ping? bilang pong
     mau mau bilang ping
     ya pong ya ping
     ya ping ya pong
     tak ya pong tak ya ping
     ya tak ping ya tak pong
     sembilu jarakMu merancap nyaring
     (Sutardji Calzoum Bachri)

2. PUISI MBELING :
Puisi mbeling adalah bentuk puisi yang tidak mengikuti aturan. Aturan puisi yang dimaksud ialah ketentuan-ketentuan yang umum berlaku dalam puisi. Puisi ini muncul pertama kali dalam majalah Aktuil yang menyediakan lembar khusus untuk menampung sajak, dan oleh pengasuhnya yaitu Remy Silado, lembar tersebut diberi nama "Puisi Mbeling". Kata-kata dalam puisi mbeling tidak perlu dipilih-pilih lagi. Dasar puisi mbeling adalah main-main.

Ciri-ciri puisi mbeling adalah:
— Mengutamakan unsur kelakar; pengarang memanfaatkan semua unsur puisi berupa bunyi, rima, irama, pilihan kata dan tipografi untuk mencapai efek kelakar tanpa ada maksud lain yang disembunyikan (tersirat).
— Menyampaikan kritik sosial terutama terhadap sistem perekonomian dan pemerintahan.
— Menyampaikan ejekan kepada para penyair yang bersikap sungguh-sungguh terhadap puisi. Dalam hal ini, Taufik Ismail menyebut puisi mbeling dengan puisi yang mengkritik puisi.
Contoh:

     SAJAK SIKAT GIGI
     Seseorang lupa menggosok giginya sebelum tidur
     Di dalam tidur ia bermimpi
     Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya terbuka
     Ketika ia bangun pagi hari
     Sikat giginya tinggal sepotong
     Sepotong yang hilang itu agaknya
     Tersesat di dalam mimpinya dan tak bisa kembali
     Dan ia berpendapat bahwa, kejadian itu terlalu berlebih-lebihan
     (Yudhistira Ardi Nugraha)

3. PUISI KONKRET :
Puisi konkret adalah puisi yang disusun dengan mengutamakan bentuk grafis berupa tata wajah hingga menyerupai gambar tertentu. Puisi seperti ini tidak sepenuhnya menggunakan bahasa sebagai media. Di dalam puisi konkret pada umumnya terdapat lambang-lambang yang diwujudkan dengan benda dan/atau gambar-gambar sebagai ungkapan ekspresi penyairnya.
Contoh:

     DOKTORANDUS TIKUS
     selusin toga
     me
     nga
     nga
     seratus tikus berkampus
     di atasnya
     dosen dijerat
     profesor diracun
     kucing
     kawin
     dan bunting
     dengan predikat
     sangat memuaskan
     (F. Rahardi)

Penyusunan puisi kontemporer sebagai puisi inkonvensional ternyata juga perlu memerhatikan beberapa unsur sebagai berikut:
1. Unsur bunyi; meliputi penempatan persamaan bunyi (rima) pada tempat-tempat tertentu untuk menghidupkan kesan dipadu dengan repetisi atau pengulangan-pengulangannya.
2. Tipografi; meliputi penyusunan baris-baris puisi berisi kata atau suku kata yang disusun sesuai dengan gambar (pola) tertentu.
3. Enjambemen; meliputi pemenggalan atau perpindahan baris puisi untuk menuju baris berikutnya.
4. Kelakar (parodi);  meliputi penambahan unsur hiburan ringan sebagai pelengkap penyajian puisi yang pekat dan penuh perenungan (kontemplatif).

Senandung Rindu untuk Ibu

Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...