Tampilkan postingan dengan label Puisi Arista Putra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Arista Putra. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 November 2011
KATA HATI
Jika aku sentuhkan kata hati
aku ingin engkau menerimanya
sebgaimana engkau selalu mengejar terik pagi di waktu subuh
aku ingin kau berada bersama di setiap kelam kita
bukan rindu yg kuinginkan
bukan indahnya yg kan kubutuhkan
namun setiap kehadiranmu yang membentang surgaku
diantara setiap waktu aku ada
kata hati
hanya jawab katamu
namun aku kan setia
sebagaiman engkau hadir dalam hidupku
jika pagi terbenam
inginkan engkau bersanding bsamaku
dan ketika purnama datang
engkaulah yang di sisiku selamanya..
Selasa, 15 November 2011
JUJUR / DUSTA
lidah mulai bermain
ketika kata indah dijadikan senjata
di saat tajamnya mampu merobek jiwa
sedang indahnya seolah untaian nada klasik
saat seseorang tak mengerti
maka teracuni ia
entah dengan bisa (racun ular) ataukah cita
namun tetap membuatnya mengerang
melawan balik pun tak dapat
ketika kata memperlakukan semua
bagai awan yang dipermainkan angin
dirobek oleh indahnya sinar mentari
membuat kesenduan dan derita
tak pendek namun sepanjang masa
menyesal dengan api membakar dada
menunjukkan nikmatnya kehancuran
hanya dua yang menyelamatkannya
lupa dan terbalaskan
sedang kata tetap bertahan sebagai racun
dan setiap saat membunuh dengan masa lalu
lupakan..!!
lupakanlah..!!
jadikan kata sebagai pelajaran
semata-mata bukan untuk diingat..
Lekang Kasmaran
Jika cinta aku mengerti
tak akan aku berdusta
ketika waktu membisu pagi
tak mungkinku berharap duka
Tapi ini telah terjadi
seketika hutan telah menjadi padang
sementra hanya terlihat riak2 rumput kering
menancap sendu di atas bebatuan
Sungguh aku tak suka
namun berubah menjadi cinta
sungguh aku tak biasa
namun waktu menjadi lama
Benarlah kalau pagi itu buta
sedang malam justru seperti siang
bgaimana tidak?? sementara pagi tertidur
sedang malam mencari cinta
Yah itulah penyakitnya
ketika hati dilanda suka
sementara semua karna terpaksa
seluruh kelakuan untuk cinta
Tak habis pikir
berkali-kali tak sempurna
namun karna waktu, menjadi suka
walau awal yang tak biasa
sehingga habis semua cinta
maka habislah crita
tinggal duri memupuk di dada
sedang romansa habis seketika..
Senin, 07 November 2011
BINGUNG
Sejenak mengikat hati
Sejenak kemudian melepaskan mimpi
Mencoba mengikat seseorang
Namun mencoba pula melepas segala kenang
Hanya karena salah paham
Semesta berubah kelam
Hanya mencari dan mengetahui
Namun justru melukai hati
Apakah ini caraku, ataukah ini caramu
Namun jelas kita sama tak tahu..
Senin, 17 Oktober 2011
Sepenggal Goresan Pena Hati Arista Putra
kirimkanlah aku sepenggal katamu, yg sebaik permata, seelok mutiara di antara batuan karang, karena aku menyanjungnya dengan seungkap kata indah diantara malam2mu.. namun tak akan aku sembarang bersua, karena tiap2 punya kisah berbeda, ketika tertawa gelisah dan khawatir, sebab aku adalah kalimatmu di ujung penamu.
sesungguhnya liar itu ombak, bergulung bersama gelombang, mengikis batuan terjal nan keras, hingga memukul perahu impian sampai ke tujuan.. tak mungkin berada di depan, tak mampu ke belakang, terus maju demi rotasi, terus bergelut melawan angin.. mka ombakkah engkau??
Selasa, 03 Mei 2011
(JENGAH)….1
Aku minta karna kupasrah
Bahwa setiap jalan kan kutempuh bahaya
Ketika ombak pun menerjang
Aku tahu kegelapan bahkan kengerian
Suatu sajak karena terlunta
Yang telah amat sangat menunggu mendera jiwa
Dalam kecaman malam
Hingga berakhir pada kicauan gagak hitam
Bukan inginku mati saja
Namun aku tahu akan kematian
Seolak menenggak racun sekonyong-konyongnya
Bahkan pingsan sekonyol-konyolnya
Bukan ku takut menceritakannya
Namun tak ingin ku, orang lain merasakannya
suatu nyanyian menyedihkan
Dari lubuk singgasana hitam
Teriak kematian yang bergema
Sementara nyawa hanya seranting nadi
Kitalah lemah
Namun bersikap kuasa pada dunia
……………..
Sudah dihamparkanNya logam
Sekarang dijadikanNya buta
Buta agama, dunia hingga perkara dewasa
Hidup yang smentara dijadikan lama
Bencana dibuat merana
Menerjang-terjang bagai gelombang perang
Mayat berserakan diantara tulang belulang
Teronggok dimakan setan
Tak habis pikirku
Karena dunia segera hancur
Tak habis gerakku
Karna iblis mengejarku
Agar sampai pada satu kata
Sepakatkan aku pada jahatnya dunia
Agar ku terjerat mati dilempar surga
Dan tak ada lagi manusia dewasa
No pain no game, No brain no sign, No junk no star, No rule no truth
Edited By: Arista Putra
From my friend that’s so crazy about this world.
Bahwa setiap jalan kan kutempuh bahaya
Ketika ombak pun menerjang
Aku tahu kegelapan bahkan kengerian
Suatu sajak karena terlunta
Yang telah amat sangat menunggu mendera jiwa
Dalam kecaman malam
Hingga berakhir pada kicauan gagak hitam
Bukan inginku mati saja
Namun aku tahu akan kematian
Seolak menenggak racun sekonyong-konyongnya
Bahkan pingsan sekonyol-konyolnya
Bukan ku takut menceritakannya
Namun tak ingin ku, orang lain merasakannya
suatu nyanyian menyedihkan
Dari lubuk singgasana hitam
Teriak kematian yang bergema
Sementara nyawa hanya seranting nadi
Kitalah lemah
Namun bersikap kuasa pada dunia
……………..
Sudah dihamparkanNya logam
Sekarang dijadikanNya buta
Buta agama, dunia hingga perkara dewasa
Hidup yang smentara dijadikan lama
Bencana dibuat merana
Menerjang-terjang bagai gelombang perang
Mayat berserakan diantara tulang belulang
Teronggok dimakan setan
Tak habis pikirku
Karena dunia segera hancur
Tak habis gerakku
Karna iblis mengejarku
Agar sampai pada satu kata
Sepakatkan aku pada jahatnya dunia
Agar ku terjerat mati dilempar surga
Dan tak ada lagi manusia dewasa
No pain no game, No brain no sign, No junk no star, No rule no truth
Edited By: Arista Putra
From my friend that’s so crazy about this world.
Purnama yang kurindu
Sorepun menyapa
Ketika terbenam sinar surya
Berkutat diantara tumpukan kertas putih tua
Terjebak dalam sudut-sudut dinding pembatas
Sejenak pejamkan mata
Hanya pecahan kaca mengisi kelambu dunia
Ketika terbuka seketika
Serasa beban masih mendera
Kutarik diriku dari bangku penuh tinta
Jauhkanku dari ketukan kata pada mesin tua
Seketika itu, jantungku berdebar oleh sesosok gadis muda
Hingga bayanganku tertegun melihatnya
Aku tak mampu berkata,,
Pernik putihnya seelok surga
Parasnya seanggun dewi purnama
Dia yang tercantik diantaranya
Tak sempat kupanggil dia
Namun selalu kutegakkan muka
Hanya untuk mengintip dari sebelah mata
Hingga lupa beban yang menyapa
Beranikan diri berjalan melewati hamparan meja
Memandang segala dari parasnya
Menarik perhatian darinya
Namun dia tenang dalam ketukannya
Akupun menyerah renta
Sampai tiba bulan penuh sinarnya
Gadis itupun mulai tersadar akan terbitnya purnama
Ditinggalkannya meja dan ketukan2 mesin tua
Sesaat waktu, gadis itu menunggu
Tak tahu bagiku apa yang hendak dia tunggu
Hingga kupilih berpaling dari meja bangku
Hanya pergi untuk membisu
Sedikit patah dengannya
Hingga dia mengamatiku dari sudut berbeda
Aku bimbang, ketika dia tinggalkan kawan di pintu terbuka
Hanya untuk berada mendekat di depan raga
Sedikit tersentak, namun tak hendak kusapa
Karna belum ku yakin datangnya cinta
Hingga kawannya saja yang melirik
Tambatkan senyuman gila
Sesampainya kurelakan dia pergi jua
Sebab hilang pikir nan upaya
Inikah mungkin pandangan pertama
Hingga akhirnya kita terarah berbeda
NB:
Gadis purnama
Itulah sebutan dia
Karena tak kukenal nama
Gadis purnama,,
Maafkanku, yang tak hendak menyapa
Tak hendak pula bersegera
Namun tetap inginku waktu yang kedua
Walau tak ada yang tersisa
Namun semoga kita bertemu jua
Aku yakin dalam hati, ada kata
Inlkah pandangan pertama
Ketika 19 april 2011, in network library
by: Arista Putra
Ketika terbenam sinar surya
Berkutat diantara tumpukan kertas putih tua
Terjebak dalam sudut-sudut dinding pembatas
Sejenak pejamkan mata
Hanya pecahan kaca mengisi kelambu dunia
Ketika terbuka seketika
Serasa beban masih mendera
Kutarik diriku dari bangku penuh tinta
Jauhkanku dari ketukan kata pada mesin tua
Seketika itu, jantungku berdebar oleh sesosok gadis muda
Hingga bayanganku tertegun melihatnya
Aku tak mampu berkata,,
Pernik putihnya seelok surga
Parasnya seanggun dewi purnama
Dia yang tercantik diantaranya
Tak sempat kupanggil dia
Namun selalu kutegakkan muka
Hanya untuk mengintip dari sebelah mata
Hingga lupa beban yang menyapa
Beranikan diri berjalan melewati hamparan meja
Memandang segala dari parasnya
Menarik perhatian darinya
Namun dia tenang dalam ketukannya
Akupun menyerah renta
Sampai tiba bulan penuh sinarnya
Gadis itupun mulai tersadar akan terbitnya purnama
Ditinggalkannya meja dan ketukan2 mesin tua
Sesaat waktu, gadis itu menunggu
Tak tahu bagiku apa yang hendak dia tunggu
Hingga kupilih berpaling dari meja bangku
Hanya pergi untuk membisu
Sedikit patah dengannya
Hingga dia mengamatiku dari sudut berbeda
Aku bimbang, ketika dia tinggalkan kawan di pintu terbuka
Hanya untuk berada mendekat di depan raga
Sedikit tersentak, namun tak hendak kusapa
Karna belum ku yakin datangnya cinta
Hingga kawannya saja yang melirik
Tambatkan senyuman gila
Sesampainya kurelakan dia pergi jua
Sebab hilang pikir nan upaya
Inikah mungkin pandangan pertama
Hingga akhirnya kita terarah berbeda
NB:
Gadis purnama
Itulah sebutan dia
Karena tak kukenal nama
Gadis purnama,,
Maafkanku, yang tak hendak menyapa
Tak hendak pula bersegera
Namun tetap inginku waktu yang kedua
Walau tak ada yang tersisa
Namun semoga kita bertemu jua
Aku yakin dalam hati, ada kata
Inlkah pandangan pertama
Ketika 19 april 2011, in network library
by: Arista Putra
Selasa, 01 Maret 2011
KUPASTIKAN HATIMU
By: Arista Putra
Bukan tentang cinta yang hendak kusampaikan
Bukan pula dendang patah hati
Anggap saja kewajaranku terhadapmu
Tentang rayuan bserta asa di lubuk jiwa
Engkau yang terduduk diantara buritan kapal
Telah kukagumi engkau dari teluk nun jauh
Pernah terpandang wajahmu dari balik layar kapalku
Hingga mengajak ombak bergulung hendak menarikku
Aku datang bersambut awan putih
Kedatanganku dengan seutas tali tambang
Dan telah kuikatkan pada ujung buritan tempatmu berdiam
Agar kudengar hatimu dari parasmu
Pasir laut ini berbutir putih
Airnya berbuih putih pula
Tak mampu aku merubah putihnya
Seolah hatimu yang telah bersatu dengan sikapmu
Akupun terima itu dengan kewajaran
Keelokan parasmu takkan pernah kugugat
Karena lautan inipun berparas elok
Namun engkaulah yang mampu membahagiakan hati
Tak segan kupandang tanganmu
Yang terus terkepal seolah menggenggam mutiara
Hingga kusadarkan engkau pada lamunanmu
Sampai engkau tersenyum pada keindahan kapalku
Sudah lama aku arungi lautan
Sehingga akupun tahu bagaimana engkau terdiam
Akupun tahu bagaimana engkau kan tersenyum
Karena perjalananku tidaklah lancar
Terkadang dalam kisahku, ombak yang menerjang merobek layar kapalku
Dan terkadang pula sekumpulan ikan mengawalku ke seberang
Hingga kuceritakan perjalananku ke negeri duyung
Namun itu takkan pernah lengkap tanpa kisahmu
Aku tahu engkau dari suratan ombak
Seorang gadis yang juga menyukai lautan
Seorang gadis didalam pulau tak bernama dengan pepohonan yang berbuah manis
Seorang gadis yang pernah merasakan terjalnya karang di waktu surut
Namun takkan kupercaya melainkan dari ucapmu semata
Karena aku tahu kejujuran terletak di jantungmu
Dan telah kurasakan kelembutan itu sejak aku melihatmu
Aku terima apa saja luka yang telah membekas hingga kulitmu
Inilah aku dalam bayanganku dan mungkin saja hatimu
Seorang pria yang tak tahu mengapa kubentangkan sutra di singgasanamu
Hingga hanya berharap kau hamparkan katun kearahku
Hanya dengan iklas aku bersua dan hanya dengan layar aku taklukkan ombak
Entah apakah kau mau menjadikan tanahmu tempat singgah kapalku
Entah itu beberapa atau selamanya
Namun akan kutunggu sampai hatimu berkata
Walaupun bgitu, Siang malam kan kujaga persinggahanmu hingga aman bagimu
Bukan tentang cinta yang hendak kusampaikan
Bukan pula dendang patah hati
Anggap saja kewajaranku terhadapmu
Tentang rayuan bserta asa di lubuk jiwa
Engkau yang terduduk diantara buritan kapal
Telah kukagumi engkau dari teluk nun jauh
Pernah terpandang wajahmu dari balik layar kapalku
Hingga mengajak ombak bergulung hendak menarikku
Aku datang bersambut awan putih
Kedatanganku dengan seutas tali tambang
Dan telah kuikatkan pada ujung buritan tempatmu berdiam
Agar kudengar hatimu dari parasmu
Pasir laut ini berbutir putih
Airnya berbuih putih pula
Tak mampu aku merubah putihnya
Seolah hatimu yang telah bersatu dengan sikapmu
Akupun terima itu dengan kewajaran
Keelokan parasmu takkan pernah kugugat
Karena lautan inipun berparas elok
Namun engkaulah yang mampu membahagiakan hati
Tak segan kupandang tanganmu
Yang terus terkepal seolah menggenggam mutiara
Hingga kusadarkan engkau pada lamunanmu
Sampai engkau tersenyum pada keindahan kapalku
Sudah lama aku arungi lautan
Sehingga akupun tahu bagaimana engkau terdiam
Akupun tahu bagaimana engkau kan tersenyum
Karena perjalananku tidaklah lancar
Terkadang dalam kisahku, ombak yang menerjang merobek layar kapalku
Dan terkadang pula sekumpulan ikan mengawalku ke seberang
Hingga kuceritakan perjalananku ke negeri duyung
Namun itu takkan pernah lengkap tanpa kisahmu
Aku tahu engkau dari suratan ombak
Seorang gadis yang juga menyukai lautan
Seorang gadis didalam pulau tak bernama dengan pepohonan yang berbuah manis
Seorang gadis yang pernah merasakan terjalnya karang di waktu surut
Namun takkan kupercaya melainkan dari ucapmu semata
Karena aku tahu kejujuran terletak di jantungmu
Dan telah kurasakan kelembutan itu sejak aku melihatmu
Aku terima apa saja luka yang telah membekas hingga kulitmu
Inilah aku dalam bayanganku dan mungkin saja hatimu
Seorang pria yang tak tahu mengapa kubentangkan sutra di singgasanamu
Hingga hanya berharap kau hamparkan katun kearahku
Hanya dengan iklas aku bersua dan hanya dengan layar aku taklukkan ombak
Entah apakah kau mau menjadikan tanahmu tempat singgah kapalku
Entah itu beberapa atau selamanya
Namun akan kutunggu sampai hatimu berkata
Walaupun bgitu, Siang malam kan kujaga persinggahanmu hingga aman bagimu
Sabtu, 05 Februari 2011
Malam Pergantian Tanpa-nya
By: Arista Putra
Seolah kembali mengukir jejak2 yang lama
Diantara jalanan yang telah kulewati bersamanya
Dalam kehangatan malam itu
Bersama, merenung dan tersenyum
Hingga ketika kita lepas
Seolah semua menjadi kosong
Berusaha mengulang kembali waktu
Namun yang terjadi hanyalah kesedihan merendam hati
Saat ini
Antara tugu kota hingga beringin tapal batas
Terasakan sendiri dalam keterasingan
Tak mampu lepaskan bahagia
Disekitar ribuan langkah-langkah baru
Malam ini
Begitu pelangi ditumpahkan ke langit
Berlinang pula air mata karenamu
Inilah ksepianku dalam keramaian
Ini pula titik akhir dalam pertemuan kita
Maafkan aku yang mengingatmu
Dalam malam terakhir dari penyesalan tahun ini
Biarkan aku menangisimu dalam detik pergantian ini
Selamat tinggal dongeng lamaku
Semoga takkan pernah kita bertemu lagi..
Seolah kembali mengukir jejak2 yang lama
Diantara jalanan yang telah kulewati bersamanya
Dalam kehangatan malam itu
Bersama, merenung dan tersenyum
Hingga ketika kita lepas
Seolah semua menjadi kosong
Berusaha mengulang kembali waktu
Namun yang terjadi hanyalah kesedihan merendam hati
Saat ini
Antara tugu kota hingga beringin tapal batas
Terasakan sendiri dalam keterasingan
Tak mampu lepaskan bahagia
Disekitar ribuan langkah-langkah baru
Malam ini
Begitu pelangi ditumpahkan ke langit
Berlinang pula air mata karenamu
Inilah ksepianku dalam keramaian
Ini pula titik akhir dalam pertemuan kita
Maafkan aku yang mengingatmu
Dalam malam terakhir dari penyesalan tahun ini
Biarkan aku menangisimu dalam detik pergantian ini
Selamat tinggal dongeng lamaku
Semoga takkan pernah kita bertemu lagi..
Topeng Wajah
By: Arista Putra
ssaat ingin kutemui wajah itu
wajah yang tlah membuatku merasa bersalah
wajah yang sudah mulai menghilang dari hadapku
walaupun wajah itu yang melakukan kesalahannya sendiri
aku telah memaafkannya
namun mengapa wajah itu yang tercabik
menghilang tanpa jejaknya
tak pantaskah aku menyapamu lagi
wajah yang terkadang sedih namun diliputi gembira
wajah yang riang namun berang
entah mengapa aku masih mengingat wajahnya
wajah yang telah menghilangkan dedikasiku
aku tahu aku tak pantas mengingatnya
namun aku seolah melihat wajah itu telah menyesal
ya Tuhan, maafkanlah aku yang kedua kalinya untuk saat ini
dan berikanlah wajah itu nasihat yang baik bagi dirinya
smoga Tuhan Memaafkanku
karena diriku seakan tercabik dan malu kala itu
dan aku telah hilang kendali atas wajah itu
aku sudah tak mampu menaruhnya di dindingku
trimaksih wajah yang dahulu pernah menjadi topengku..
ssaat ingin kutemui wajah itu
wajah yang tlah membuatku merasa bersalah
wajah yang sudah mulai menghilang dari hadapku
walaupun wajah itu yang melakukan kesalahannya sendiri
aku telah memaafkannya
namun mengapa wajah itu yang tercabik
menghilang tanpa jejaknya
tak pantaskah aku menyapamu lagi
wajah yang terkadang sedih namun diliputi gembira
wajah yang riang namun berang
entah mengapa aku masih mengingat wajahnya
wajah yang telah menghilangkan dedikasiku
aku tahu aku tak pantas mengingatnya
namun aku seolah melihat wajah itu telah menyesal
ya Tuhan, maafkanlah aku yang kedua kalinya untuk saat ini
dan berikanlah wajah itu nasihat yang baik bagi dirinya
smoga Tuhan Memaafkanku
karena diriku seakan tercabik dan malu kala itu
dan aku telah hilang kendali atas wajah itu
aku sudah tak mampu menaruhnya di dindingku
trimaksih wajah yang dahulu pernah menjadi topengku..
C. I. N. T. A
by: Arista Putra
Apa itu cinta kalau dia mampu membunuh jutaan orang sekaligus.
Apa itu cinta kalau dia tak berbudi dan tak berbalas
Apa itu cinta kalau dia terus memalingkan muka terhadap kasihnya
Dan Apa itu cinta kalau dia buta
Sudahlah, tak perlu percaya lagi dengan cinta
Cinta hanyalah rekaan sastra
Tak bisa mengenyangkan perut yang lapar
Bahkan tak mampu menghangatkan bagi yang mabuk karenanya
Lalu bagaimana mencari pasanganmu itu??
Jangan berilmu pada cinta
Hendaklah beriman dan takwa
Ketika kamu percaya pada-Nya, maka dialah yang percaya padamu
Suatu saat dia itu pasti menyayangi segala milikmu.
Namun bila kau merasa ditinggalkan oleh-Nya
Maka sadarilah, hentikanlah yang akan terjadi
Katakanlah: karena-Nya engkau mendekat pada dia
Dan karena-Nya engkau berpisah dari dia.
Sungguh itu takkan menjadi perkara sukar bagimu
Dan bintang-bintang pun akan menyukainya.
Lalu apakah cinta itu??
Cinta itu ada pada kita sendiri
Cinta bukan pada keadaan orang lain
Cintailah ragamu sendiri namun jangan engkau cintai orang lain..
*** Dariku bagi yang percaya..”
Apa itu cinta kalau dia mampu membunuh jutaan orang sekaligus.
Apa itu cinta kalau dia tak berbudi dan tak berbalas
Apa itu cinta kalau dia terus memalingkan muka terhadap kasihnya
Dan Apa itu cinta kalau dia buta
Sudahlah, tak perlu percaya lagi dengan cinta
Cinta hanyalah rekaan sastra
Tak bisa mengenyangkan perut yang lapar
Bahkan tak mampu menghangatkan bagi yang mabuk karenanya
Lalu bagaimana mencari pasanganmu itu??
Jangan berilmu pada cinta
Hendaklah beriman dan takwa
Ketika kamu percaya pada-Nya, maka dialah yang percaya padamu
Suatu saat dia itu pasti menyayangi segala milikmu.
Namun bila kau merasa ditinggalkan oleh-Nya
Maka sadarilah, hentikanlah yang akan terjadi
Katakanlah: karena-Nya engkau mendekat pada dia
Dan karena-Nya engkau berpisah dari dia.
Sungguh itu takkan menjadi perkara sukar bagimu
Dan bintang-bintang pun akan menyukainya.
Lalu apakah cinta itu??
Cinta itu ada pada kita sendiri
Cinta bukan pada keadaan orang lain
Cintailah ragamu sendiri namun jangan engkau cintai orang lain..
*** Dariku bagi yang percaya..”
Melepasmu
by: Arista Putra
Matinya hatiku seakan mematikan jiwaku
Ragaku pun terguncang dalam ktenangan
Seolah menggigil kedinginan dalam ketakutan
Seketika itupun kakiku lemas tak berdaya
Perasaan ini kian gelap namun kuat
Gelapnya mampu membutakan mata
Kegelapan yang semakin terasa nyata
Lidahku pun telah kelu
Aku tahu ini akan terjadi
Namun aku tak bisa mengelak
Semua bintang menjerit padanya
Seolah semua berakhir salah baginya
Aku bukan lagi siapapun
Aku takkan mampu memegangmu
Hanya Ingatkan apa yang kuberikan padamu
Akupun tahu engkau terhimpit
Sabar-sabar !!
Itu yang kuucapkan selalu
Tapi engkau lupa, Lupa segalanya!
Seperti kau melupakanku
Temanmu berubah rupa
Bahayamu berubah bentuk
Smentara jiwamu tlah lemah
Denyutmu pun terengah-engah
Berhati-hatilah..
Jembatan ini terus bergoncang
Aku telah melepas genggamanmu
Sedang temanmu sudah hilang kesabaran
Aku yang sekarang berada di menara
hanya mampu melihatmu samar2 di jembatan itu
Kini kutinggalkan engkau,,
Dengan secarik kertas dan foto di atas lampu sorot
Setidaknya kita takkan membuka hal itu lagi
dan hujan inipun akan melengkapi semuanya
menghilangkan segala jejakku dan jejakmu di tempat ini
dan milikku itu kuburlah dalam-dalam
Matinya hatiku seakan mematikan jiwaku
Ragaku pun terguncang dalam ktenangan
Seolah menggigil kedinginan dalam ketakutan
Seketika itupun kakiku lemas tak berdaya
Perasaan ini kian gelap namun kuat
Gelapnya mampu membutakan mata
Kegelapan yang semakin terasa nyata
Lidahku pun telah kelu
Aku tahu ini akan terjadi
Namun aku tak bisa mengelak
Semua bintang menjerit padanya
Seolah semua berakhir salah baginya
Aku bukan lagi siapapun
Aku takkan mampu memegangmu
Hanya Ingatkan apa yang kuberikan padamu
Akupun tahu engkau terhimpit
Sabar-sabar !!
Itu yang kuucapkan selalu
Tapi engkau lupa, Lupa segalanya!
Seperti kau melupakanku
Temanmu berubah rupa
Bahayamu berubah bentuk
Smentara jiwamu tlah lemah
Denyutmu pun terengah-engah
Berhati-hatilah..
Jembatan ini terus bergoncang
Aku telah melepas genggamanmu
Sedang temanmu sudah hilang kesabaran
Aku yang sekarang berada di menara
hanya mampu melihatmu samar2 di jembatan itu
Kini kutinggalkan engkau,,
Dengan secarik kertas dan foto di atas lampu sorot
Setidaknya kita takkan membuka hal itu lagi
dan hujan inipun akan melengkapi semuanya
menghilangkan segala jejakku dan jejakmu di tempat ini
dan milikku itu kuburlah dalam-dalam
Dalam Lamunan
By: Arista Putra
Entah apa yang terjadi di depanku saat itu
Merobek sendu diantara luka-luka yang menganga
Jiwa yang riang tanpa beban seolah menari diantara jendela-jendela yang pecah
Riuhnya pun tak terasa dalam ingatanku
Aneh memang mendengar dan merasakannya
Namun kurasa ini karena satu beban yang tak bisa kuabaikan
Yah, aku patut tersenyum
Walau mungkin menyakitkan bagi yang tersadar
Mungkin juga melukai bagi yang tak siap
Aku tak menyalahkan
Bahkan pada deretan bangku kosong sekalipun
Bisa jadi ini karena Robb-Nya
Setidaknya kereta ini masih terus berjalan.
Sadarkah??
Entahlah.. setidaknya ini kurang dari ¼ perjalanan keretaku
Masih banyak stasiun yang harus kulewati
Masih banyak pula orang yang akan kutemui
Perhentianku masih jauh
Dan aku takkan kenal lelah untuk terus terjaga
Secangkir kopi ini kuyakin membuatku lebih dewasa
Dan sepotong roti ini kelak akan menjadi penolong di kala lapar
ditemani para sahabat yang terus berkelakar di sampingku.
serta quranku ini, tambatanku dikala susah senangku
Terimakasih ya Robb..
Terimakasih sahabat..
Entah apa yang terjadi di depanku saat itu
Merobek sendu diantara luka-luka yang menganga
Jiwa yang riang tanpa beban seolah menari diantara jendela-jendela yang pecah
Riuhnya pun tak terasa dalam ingatanku
Aneh memang mendengar dan merasakannya
Namun kurasa ini karena satu beban yang tak bisa kuabaikan
Yah, aku patut tersenyum
Walau mungkin menyakitkan bagi yang tersadar
Mungkin juga melukai bagi yang tak siap
Aku tak menyalahkan
Bahkan pada deretan bangku kosong sekalipun
Bisa jadi ini karena Robb-Nya
Setidaknya kereta ini masih terus berjalan.
Sadarkah??
Entahlah.. setidaknya ini kurang dari ¼ perjalanan keretaku
Masih banyak stasiun yang harus kulewati
Masih banyak pula orang yang akan kutemui
Perhentianku masih jauh
Dan aku takkan kenal lelah untuk terus terjaga
Secangkir kopi ini kuyakin membuatku lebih dewasa
Dan sepotong roti ini kelak akan menjadi penolong di kala lapar
ditemani para sahabat yang terus berkelakar di sampingku.
serta quranku ini, tambatanku dikala susah senangku
Terimakasih ya Robb..
Terimakasih sahabat..
Cinta dan Setia
by:Arista Putra
Lelah aku berdiri
Menunggu datangnya mentari pagi
Tepat di ujung selatan pesisir bali
Dan yang kutahu ‘cinta’ telah mati
Sudah kusiapkan perapian
Sudah pula kubawakan kayu jantan
Hanya wujudnya yang belum terhadirkan
Aku ingat darinya sebuah pesan
Karena aku ‘cinta’ maka takkan kulempangkan kafan
Kuingat itu, rindu
Yang jalinkan kita saat puja puji Dewa Wisnu
Ku menyapa, dan kau tersipu malu
Hingga pandita-pun berujar geram padaku
Namun Dewata seolah tersenyum untukku
Setelah puja, kusapa dan kusambut dirinya
Diapun beranjak suka
Kutanya nama hatinya
Dan dia jawab ‘cinta’
Hingga kutarik kata ku ‘setia’
Itulah awal ku dan nya
Hingga akhirnya ku ditinggalnya
Sampai waktu ini masih kuingat bunga kamboja
Bunga cinta di hati kita
Tak apalah, kubakar nanti bersama dupa
Supaya hilang masa-masa kita ditelan surga dan dunia
Lihat, keretamu telah tiba
Ditarik bersama rombongan pemuda
Akupun tak sadar telah kuteteskan air mata
Tepat saat dirinya sampai di hadapan pandita
Kuangkat raganya dari kereta mati
Sampai akupun tak sengaja menyentuh jarinya yang terakhir kali
Jemarinya seolah enggan berpisah sampai lepas sejari demi sejari
Dan yang kurasakan, hangat walaupun rautnya pucat pasi
Kupandang bibirnya, tersenyum persis sewaktu kita pertama kali
Akhirnya kucoba lepas kepergiannya pada dewata
Kusisipkan api ini diantara kayu-kayu coklat tua
Walau tak ingin kulihat tubuhnya terbakar bara
Selamat tinggal ‘cinta’
‘setia’ kan menjemputmu di surga..
Lelah aku berdiri
Menunggu datangnya mentari pagi
Tepat di ujung selatan pesisir bali
Dan yang kutahu ‘cinta’ telah mati
Sudah kusiapkan perapian
Sudah pula kubawakan kayu jantan
Hanya wujudnya yang belum terhadirkan
Aku ingat darinya sebuah pesan
Karena aku ‘cinta’ maka takkan kulempangkan kafan
Kuingat itu, rindu
Yang jalinkan kita saat puja puji Dewa Wisnu
Ku menyapa, dan kau tersipu malu
Hingga pandita-pun berujar geram padaku
Namun Dewata seolah tersenyum untukku
Setelah puja, kusapa dan kusambut dirinya
Diapun beranjak suka
Kutanya nama hatinya
Dan dia jawab ‘cinta’
Hingga kutarik kata ku ‘setia’
Itulah awal ku dan nya
Hingga akhirnya ku ditinggalnya
Sampai waktu ini masih kuingat bunga kamboja
Bunga cinta di hati kita
Tak apalah, kubakar nanti bersama dupa
Supaya hilang masa-masa kita ditelan surga dan dunia
Lihat, keretamu telah tiba
Ditarik bersama rombongan pemuda
Akupun tak sadar telah kuteteskan air mata
Tepat saat dirinya sampai di hadapan pandita
Kuangkat raganya dari kereta mati
Sampai akupun tak sengaja menyentuh jarinya yang terakhir kali
Jemarinya seolah enggan berpisah sampai lepas sejari demi sejari
Dan yang kurasakan, hangat walaupun rautnya pucat pasi
Kupandang bibirnya, tersenyum persis sewaktu kita pertama kali
Akhirnya kucoba lepas kepergiannya pada dewata
Kusisipkan api ini diantara kayu-kayu coklat tua
Walau tak ingin kulihat tubuhnya terbakar bara
Selamat tinggal ‘cinta’
‘setia’ kan menjemputmu di surga..
Teman terbaik
by: Arista Putra
Diantara padang ilalang
Dia temanku..!
Diantara semak-semak berduri
Dia temanku..!
Bersama kita bersuka
Bersama kita melawan dunia
Tak pernah jauh aral kita gapai
Laksana ombak dan anginnya
Bukan satu
Tapi kita
Diantara langit-langit tercipta
Digelayuti canda tawa
Tidak akan ada bedanya
Dan mereka berseru kepada kita
Gila..!! sama..!! dan luar biasa..!!
Inilah kita saat bersama
Sewaktu terluka
Kita bergerilya taklukkan dunia
Sewaktu gembira
Kita melompat setinggi-tingginya
Tak peduli hitam, putih, dan kuning
Tak peduli dia saudaraku atau bukan
Tak peduli pula statusnya
Tapi jelas dia yang terbaik bagiku
Ada di saat canda
Tertawa di saat lelah
Brusaha di saat sedih menerpa
Mengingatkan di saat lupa
Diantara padang ilalang
Dia temanku..!
Diantara semak-semak berduri
Dia temanku..!
Bersama kita bersuka
Bersama kita melawan dunia
Tak pernah jauh aral kita gapai
Laksana ombak dan anginnya
Bukan satu
Tapi kita
Diantara langit-langit tercipta
Digelayuti canda tawa
Tidak akan ada bedanya
Dan mereka berseru kepada kita
Gila..!! sama..!! dan luar biasa..!!
Inilah kita saat bersama
Sewaktu terluka
Kita bergerilya taklukkan dunia
Sewaktu gembira
Kita melompat setinggi-tingginya
Tak peduli hitam, putih, dan kuning
Tak peduli dia saudaraku atau bukan
Tak peduli pula statusnya
Tapi jelas dia yang terbaik bagiku
Ada di saat canda
Tertawa di saat lelah
Brusaha di saat sedih menerpa
Mengingatkan di saat lupa
PEDANG
By: Arista Putra
Ditempa dalam panasnya api
Dibalut riakan air mendidih
terasah karena besi tua
trukir oleh batu berani
Sungguh elok paras mukanya
Hingga sang pelita takluk akan kilaunya
Ibarat fajar dan senja bersatu di dalamnya
Kecuali diteguhkannya ia untuk bersabar
Maka jadilah ia intan yang bertahtakan emas
Masanya adalah ribuan tahun
Takkan sanggup seorangpun merobek hatinya
Walau ditelantarkan berkali-kali
Namun berkali-kali jualah ia memimpin laga
Satu saja pukulannya, sekaratlah ribuan jiwa
Wahai jiwa yang sekarat dalam penampungan pasir
Apa daya bila kau tak mampu sekeras dan sekokoh dia
tinggal merah yang akan membekas di badan
dan belulang putihpun akan retak dalam debu
Sampai akhir mati bersedu sedan
Ini neraka bagi penentang
Berlarilah sejauh kau bisa
Maka tetap akan terkejar juga rohmu
Tak mungkin bagimu menentang nyawa
Melainkan pasrah, maka terkalahkanlah ia
Tak perlu dilawan dengan api
Tak perlu diteriakkan dengan kayu
Patahkan saja batang dalamnya
Hancurkan peneguhnya
Dan hilanglah sifat serigalanya
Demi batu yang tak mungkin dia tembus
Maka takkan tajam dirinya karena penyakit
Demi air yang tak mungkin dia pisahkan
Maka habis pula nafasnya dalam api
Layaknya sekam yang menjadi abu
Dan saat itu, terbuanglah ia dalam gundukan debu
Termakan oleh penantian usia
Hingga keriput mengiringi parasnya
Dan hatinya yang berkilau, menjadi hitam
Setelahnya maka tiada pula hidup baginya
Ditempa dalam panasnya api
Dibalut riakan air mendidih
terasah karena besi tua
trukir oleh batu berani
Sungguh elok paras mukanya
Hingga sang pelita takluk akan kilaunya
Ibarat fajar dan senja bersatu di dalamnya
Kecuali diteguhkannya ia untuk bersabar
Maka jadilah ia intan yang bertahtakan emas
Masanya adalah ribuan tahun
Takkan sanggup seorangpun merobek hatinya
Walau ditelantarkan berkali-kali
Namun berkali-kali jualah ia memimpin laga
Satu saja pukulannya, sekaratlah ribuan jiwa
Wahai jiwa yang sekarat dalam penampungan pasir
Apa daya bila kau tak mampu sekeras dan sekokoh dia
tinggal merah yang akan membekas di badan
dan belulang putihpun akan retak dalam debu
Sampai akhir mati bersedu sedan
Ini neraka bagi penentang
Berlarilah sejauh kau bisa
Maka tetap akan terkejar juga rohmu
Tak mungkin bagimu menentang nyawa
Melainkan pasrah, maka terkalahkanlah ia
Tak perlu dilawan dengan api
Tak perlu diteriakkan dengan kayu
Patahkan saja batang dalamnya
Hancurkan peneguhnya
Dan hilanglah sifat serigalanya
Demi batu yang tak mungkin dia tembus
Maka takkan tajam dirinya karena penyakit
Demi air yang tak mungkin dia pisahkan
Maka habis pula nafasnya dalam api
Layaknya sekam yang menjadi abu
Dan saat itu, terbuanglah ia dalam gundukan debu
Termakan oleh penantian usia
Hingga keriput mengiringi parasnya
Dan hatinya yang berkilau, menjadi hitam
Setelahnya maka tiada pula hidup baginya
Dalam poros diam
by: Arista Putra
Diantara bait-bait sunyi tentang malam
Tersembunyikan kata bintang kedalam baris hitam
Tak tertuliskan dan tak terjamah
Namun itu hati yang mencarinya hingga lelah
Ketika malam berganti siang
Tak pernah terlihat hadirnya pendatang
Sampai dengan purnama tiba
Tak tahu dimana berada
Bila kelak datang kapal berlabuh
Ingin berlari hingga jauh
Sampai tiba saat dari Sang Masa
Menyadarkan dalam peluh keringat iba
Kembali dan mencari
Saat waktu telah habis untuk mati
Ketika sesal terbayar hutang
Hingga lelah dibayar berkah
…end…
Tak mampu mengerti rasanya
Ketika perjalanan hanya ingin dirangkai kata
Tidak dengan cerita luar biasa
Tidak juga dengan serangkai bunga
Setiap kesedihan pasti kan menyapa
Sedang kesenangan telah hilang dari raut muka
Sekali lagi, sampai Sang Masa bertitah
Takkan pernah mampu untuk berusaha
Biarkan terkulai lalu bangkit
Mencari jawab walau sedikit
Karena manusia tetaplah manusia
Tak mampu mengerti apa yang di luar dunia.
Diantara bait-bait sunyi tentang malam
Tersembunyikan kata bintang kedalam baris hitam
Tak tertuliskan dan tak terjamah
Namun itu hati yang mencarinya hingga lelah
Ketika malam berganti siang
Tak pernah terlihat hadirnya pendatang
Sampai dengan purnama tiba
Tak tahu dimana berada
Bila kelak datang kapal berlabuh
Ingin berlari hingga jauh
Sampai tiba saat dari Sang Masa
Menyadarkan dalam peluh keringat iba
Kembali dan mencari
Saat waktu telah habis untuk mati
Ketika sesal terbayar hutang
Hingga lelah dibayar berkah
…end…
Tak mampu mengerti rasanya
Ketika perjalanan hanya ingin dirangkai kata
Tidak dengan cerita luar biasa
Tidak juga dengan serangkai bunga
Setiap kesedihan pasti kan menyapa
Sedang kesenangan telah hilang dari raut muka
Sekali lagi, sampai Sang Masa bertitah
Takkan pernah mampu untuk berusaha
Biarkan terkulai lalu bangkit
Mencari jawab walau sedikit
Karena manusia tetaplah manusia
Tak mampu mengerti apa yang di luar dunia.
TERSESAT
by: Arista Putra
Hilang ditelan air
Tanpa sadar, hinggap di ranah getir
enggan kulewati jembatan kayu
Namun setiap jalan tertutup dan berbatu
Hendak kurayu kijang agar memapahku
Namun enggan kijang melewati kayu dan batu
Hendak kurayu burung terbangkanku
Namun terlanjur hilang terlebih dahulu
Apa lagi yang kan kurayu…
Tak ada setetespun madu
Entah harus bagaimana…
Padahal purnama makin berkuasa
Hina,, hina,,, dan semakin terhina !
Kesendirian yang membunuh jiwa
Angin apa ini yang merasuk dalam dada
Seolah ingin mendesak raga
Di depanku laut
Di belakangku hutan maut
Entah apakah siap menghantar nyawa
Ketika belum merasa berbekal surga
Sudah,.. sudahi saja….
Kusayat punggung, agar kutahu ku masih nyata
Ku jalani saja hutan maut
Biarkan diri terluka parut
Aku remuk redam
Dan itu lebih baik dari berdiam
Kuambil hutan tak berjejak
Susuri ruang sempit dan teracak
Detak makin keras
Alam makin beringas
Raga dihantam dengan duri tajam
Hingga jiwa terjerembab dalam kelam
………………….
Perjalanan masih jauh dan lama
Namun keyakinan tanah harapan masih ada
Takkan menyerah sampai awan biru memanggil
Atau hingga sesuatu terlaksana.
Hilang ditelan air
Tanpa sadar, hinggap di ranah getir
enggan kulewati jembatan kayu
Namun setiap jalan tertutup dan berbatu
Hendak kurayu kijang agar memapahku
Namun enggan kijang melewati kayu dan batu
Hendak kurayu burung terbangkanku
Namun terlanjur hilang terlebih dahulu
Apa lagi yang kan kurayu…
Tak ada setetespun madu
Entah harus bagaimana…
Padahal purnama makin berkuasa
Hina,, hina,,, dan semakin terhina !
Kesendirian yang membunuh jiwa
Angin apa ini yang merasuk dalam dada
Seolah ingin mendesak raga
Di depanku laut
Di belakangku hutan maut
Entah apakah siap menghantar nyawa
Ketika belum merasa berbekal surga
Sudah,.. sudahi saja….
Kusayat punggung, agar kutahu ku masih nyata
Ku jalani saja hutan maut
Biarkan diri terluka parut
Aku remuk redam
Dan itu lebih baik dari berdiam
Kuambil hutan tak berjejak
Susuri ruang sempit dan teracak
Detak makin keras
Alam makin beringas
Raga dihantam dengan duri tajam
Hingga jiwa terjerembab dalam kelam
………………….
Perjalanan masih jauh dan lama
Namun keyakinan tanah harapan masih ada
Takkan menyerah sampai awan biru memanggil
Atau hingga sesuatu terlaksana.
Langganan:
Postingan (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
oleh Pakde Azir Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedan...
-
diantara persinggahan malam terlukis bayang kalbu muram saksikan biduk perlahan karam membawa asa jauh tenggelam denyut harap seo...
-
Sering kali angan hati dan alam nyata berselisih Lumpuhkan smua hasrat jiwa dalam lautan perih Bukan tak mungkin bongkahan harap makin pip...

