Marilah, sayang, mari berjalan menjelajahi perbukitan,
Salju telah cair dan Kehidupan t'lah jaga dari kantuknya
Kini mengembara menyusur pegunungan dan jurang-jurang.
Mari menapaki jejak Musim Semi, yang menjelang,
Ladang-ladang jauh, dan mendaki puncak-puncak perbukitan
'Tuk menadah ilham dari tempat ketinggian,
Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan.
Fajar Musim Semi telah mernbeberkan gaunnya
Dari lipatan penyimpanan ke dalam peti musim Dingin.
Pada pohon persik dan batang sitrus disangkutkan selendangnya,
Yang tampil bertebaran bagai pengantin-pengantin putih
Dalam perhelatan Adat Malam Kedre.
Sulur-sulur daun anggur saling berpelukan bagai kekasih
Air parit pun lincah berlompatan menari ria,
Di sela-sela bebatuan, menyanyikan lagu riang.
Dan. bunga-bunga meletup bermekaran dari jantung alam,
Laksana buih-buih bersembulan, dari kalbu lautan
Kemarilah, sayang: mari mereguk sisa air mata Musim Dingin,
dari piala kelopak bunga lili,
Dan menenteramkan jiwa, dengan gerimis nada-nada
Curahan simfoni burung-burung yang bernyanyi
Dalam gita sukacita. dibius angin mamiri.
Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga fiola ungu
Berteduh dalam persembunyian, dan meniru
Kemanisan mereka dalam pertukaran kasih rindu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
oleh Pakde Azir Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedan...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
tatap tajam ke depan diam tenang dan rekam atur posisi badan ringankan dua tangan bidik tepat sasaran Focus.. Titik kemajuan 02051...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar