Menganga luka tilas beribu sayat belum sedikitpun menutup
Meski ku bekukan hati tak ubahnya bongkah salju kutub
Masih pula coba ia buat lebih dalam dan semakin berdarah
Seakan tak pernah cukup tapak kaki ini bersimbah merah
Mengapa harus terus melagukan nada dari kilasan lampau
Yang tak bisa lagi ku lantunkan walau setengah mengigau
Tak seujung jari pun aku ingin menyentuh lembar memori
Karena sisa goresnya adalah remahan tajam selayak duri
Sesal pun takkan mampu bawa ku kembali merajai waktu
Sia-sia, berharap dulu tak terima darinya sebentuk rasa itu
Hanya membuat ku menggenggam angan semu lalu pergi
Menuruti hasratnya temukan yang lebih baik untuk berbagi
Lagu itu mungkin masih ada, tapi telah jadi tanpa nyawa
Bila dimainkan, tak bisa lagi hadirkan pekik tangis atau tawa
Maka tiap baitnya hanya pantas terkunci di peti mati sejarah
Sebab, jika terlantun kembali, menjadikan luka kian bertambah
Tiada satu pun dari penggalan syair melodinya sudi ku ingat
Hanya sebuah gubahan penuh kepalsuan yang semakin menyayat
Kamis, 20 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar