Senja yang terbakar
oleh uap panas matahari
mematikan daun daun mungilku
burungpun enggan singgah di dahannya yang batu
pucat maya bayangan hijau
angin dingin tergugu pilu
kemarau menghantam udara
membunuh sebagian asa
yang tak jemu kusingkap dalam aksara
aku tersenyum masam
melambaikan salam perpisahan pada hujan yang renta
entah ada di mana
hitam kerak jalan
tanduskan bumi yang papa
aku menangisi waktu yang nakal
memainkan angin padang
angin tenggara
angin bahorok
ke titian terluka
desa kami tercinta
kini jadi kuburan tua
tak ada mawar merah nan jelita
tersenyum di padang ranum
tak ada kidung telaga
tertawa dibuai semesta
duka meruah di senja
terasa membakar darah dan airmata.
Jakarta,bumi cilandak 180811
AIN SAGA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar