by Muhammad Shahid Boy Ahmad
Sorak-Sorai Makin Bergema,
Nista Dan Cerca Menggunung Tinggi,
Keji-Mengeji Membuta Tuli,
Tak Sedar Pekung Sendiri.
Mana Pergi Harga Diri,
Yang Munafik Dijulang Dirai,
Siddiq Pergi Menghembus Diri,
Kalut Dalam Nafsu Sendiri.
Mahu Nama Mahu Segala,
Menjual Agama Membunuh Saudara,
Tak Puas Lagi Petaka Dicipta,
Atas Nama Pejuang Negara.
Salah Mafhum Terus Gempita,
Konon Aniaya Sudah Menggila,
Saksama Terkubur Korapsi Beraja.
Mana Sirna Kurnia Rasa,
Kurniaan Ilahi Kepada Hamba,
Utopia Palsu Terus Dijaja.
Sabtu, 05 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
oleh Pakde Azir Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedan...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
tatap tajam ke depan diam tenang dan rekam atur posisi badan ringankan dua tangan bidik tepat sasaran Focus.. Titik kemajuan 02051...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar