Bisakah melepaskan alam
Dari bingkai serutan kelam
Netra jadi berpelupuk buram
Tak melihat kecuali suram
Maka dirasa rindu kian dalam
Pada setitik sorot temaram
Yang dulu pernah terekam
Saat ulu cahaya belum padam
Mencari dihamparan legam
Terkadang perih sontak menikam
Tanpa tau salah apa digenggam
Tertuduh atas pudar kilau pualam
Rintih batin segera diredam
Sebelum nyaring berdentam
Benang harap lebur di sekam
Tak pernah sempat tersulam
Lembar hidup lebih dulu kusam
Dihadapan setengah gurindam
Tiada sempuna kata yang dianyam
Sebab surya terlanjur terbenam
Bila tiada akhir bagi malam
Bagaimana asa dapat kutanam
Sedang ketidakberdayaan mendekam
Bersuara tak ubahnya seperti diam
Mengakui diri yang selalu awam
Acap kali keliru meletakkan paham
Merunduk disaat nada uji berdegam
Bodohnya biarkan sirna segala azam
Sunyi temani hati mengais kalam
Sebelum luka bak bertabur garam
Menyusun doa tuk dapat jumpai ilham
Agar tersibak esok dari gelap masa silam
Tiada ingin segenap kalbu jadi iram
Apalagi jika sepenuhnya menghitam
Maka kepada-Nya pinta tak membekam
Tak lagi dalam putus asa tenggelam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar