Perlahan dan pasti
kutemukan lembaranmu
kosong bersih tanpa coretan
dingin sunyi bak malam membayang
sesaat denyutpun mengalir
pena pena bertautan
pijar pijar dibebaskan
lafadz pun diuraikan
semburatkan nyanyian kalbu
pengiring sepi dikala rindu
korbankan musim layu
menisbikan palu palu
jadi bukit diantara beludru
hangat matari lenakan serpih
senyum kinasih membayang
dalam buih
gelombang dan pasang bagai bicara
sungai mana dapat alirkan gemulai rasa
hingga aku terjatuh
oleh duri tajam sang mawar
terjatuh disorotan bulan jumawa
atau pedang pedang berkilatan
milik sang mashur
peronda kedengkian
tak apalah
aku hanya seekor kunang
ditengah buas hening malam
kubawa sinarku
lewati api dan benalu
kugosok mata
tajamkan cahaya
halaman pertama baru ku bisa
tertawa sepuas jiwa
sedang engkau terlalu cinta
pada hamba yang hanya kecil
tak berdaya
sebentar pun terkulum pagi yang rakuss
histeria
dekadensi membahana
birokrasi mengamputasi dunia
hanya jika ku dapat percaya
suka duka ada kadarNya
aku akan membuka gemetar
halaman kedua
akankah aku dapat menulisnya
harusnya
sudah tiada bertanya
tinggal menggurat saja
lalu mengamatinya
dunia mayamu ada disana
berkumpul bersama
membedah makna
jati diri kita
insan sungguh sempurna
dalam ciptaanNya
dalam buku pastiNya.
Sabtu, 04 Juni 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
I used to think that I could not go on And life was nothing but an awful song But now I know the mean...
-
Senyap terbit, rahim sunyi pun di gembalai tangan-tangan rancu Ada mata asa, namun dayuh-dayuhan tersekat pekap Sungguh apakah genderang i...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar