Menetas setetes rindu
di nadiku yang pemalu
mungkin hanya senyuman
dan getaran waktu
pada hening malam sepi bisu
menjadi saksi semua itu
langit hati yang biru
kucoret sepenggal jalanmu
kucoret larikan sapa yang menganggu
apakah ada aku selalu di hatimu
semua yang kumaknai tawa
kau mampu terjemahkan lugas
tanpa cela
tanpa cacat
aku merasa mungil dalam alam pikirmu
ku bodoh di tengah kearifanmu
kutenggelam di tautan tak bertuan
apakah mungkin?
Bilakah mungkin?
setetes khayalku menampar sesal
waktu begitu cepat berlalu.
Tinggalkan hatiku yang rawan biru.
Jakarta, 240911
Ain Saga
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
oleh Pakde Azir Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedan...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
tatap tajam ke depan diam tenang dan rekam atur posisi badan ringankan dua tangan bidik tepat sasaran Focus.. Titik kemajuan 02051...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar