Tertatih sendiri mengusung raga melewati lorong sempit
Tanpa kerlip, tanpa suara mencoba sedapatnya memjerit
Begitu pengap, membuat dada ini semakin sesak terimpit
Tersengal ketika kenyataan memastikan aliran napas terbelit
Seberapa jauh lagi aku harus melangkah menuju birunya langit
Dimanakah seberkas cahaya yang lama didamba mata terbersit
Tak kan sesali andai yang kulihat hanya hitam berhias bulan sabit
Sebab aku punya banyak waktu menunggu mentari tuk berakit
Dia dulu datang seterang pelita membuka kegelapan yang melilit
Ulurkan tangan, janjikan jalan keluar dari segala pertikaian sengit
Namun, kemudian dikatakanya seribu alasan mengapa ini jadi sulit
Hingga tak sanggup lagi menemaniku dengan beban berat terkait
Memilih pergi, lalu membiarkanku sendiri terus dirajam rasa sakit
Membuatku memilah bahwa kata-katanya bukan saja untuk berkelit
Katanya, jika bersama maka teka-teki lorong ini menjadi lebih rumit
Maka aku percaya akan lebih baik saat langkah tak lagi saling mengapit
Karena itu semakin ku pacu langkahnya untuk menjauh meski berdecit
Melupakan diri yang justru tertinggal seperti tanpa daya walau sedikit
Kini mencoba mengobati rasa sakit, berusaha tak kembali terungkit
Biar tertatih, sampai nanti kutemukan lagi kekuatan untuk bangkit
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
oleh Pakde Azir Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedan...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
tatap tajam ke depan diam tenang dan rekam atur posisi badan ringankan dua tangan bidik tepat sasaran Focus.. Titik kemajuan 02051...
di open dong untuk komentar yg dari URL..tengkyu
BalasHapus