Apa lagi yang dapat ku bawa sebagai berita
Sedang lidah terlalu kaku dalam mengurai kata
Sudah berulang permainan logika tak tertata
Begitu saja mereka menyebutnya sebagai cinta
Dikisahkan bahwa rasa itu keelokan yang merata
Kemudian bagaimana ku akui bahwa itu nyata
Jika yang pernah ku sapa dijalannya hanya airmata
Dan tentang duka saja peri-peri kecilnya bercerita
Lalu, dimana janji akan adanya pesona kilau permata
Bila hanya kemurungan atas langit yang menggurita
Di tiap tikunganya hanya ada percik kecil yang tercipta
Sudah tentu tak kan pernah cukup di sulut jadi pelita
Benarkah terangkum sajak-sajak keindahan dalam cinta
Yang kan kutemui di akhir sudut hati terbias oleh mata
Atau sekedar sonandung pilu penghantar riuh tiupan derita
Menjadikan padam lentera, kembali pada kembaran gulita
Mengertilah bahwa lisan ini sudah semakin terbata-bata
Sebab acap kali merekam kepalsuan hati semu semata
Hari-hari di masa itu mengajariku untuk tak lagi berpesta
Dengan iringan musik yang mengalunkan melodi cinta
Maka ketika ketemui ruang kosong aku berdiam bak petapa buta
Bersama kesunyian, membiarkan begitu banyak waktu tersita
Tak terdengar di bacakannya rasa itu dalam sebentuk soneta
Bahkan tak mampu mengejanya meski hanya satu aksara dari cinta
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
I used to think that I could not go on And life was nothing but an awful song But now I know the mean...
-
Senyap terbit, rahim sunyi pun di gembalai tangan-tangan rancu Ada mata asa, namun dayuh-dayuhan tersekat pekap Sungguh apakah genderang i...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar