by : Insan Al Amin
beku, licin, dan bening
sejauh mata memandang
matahari jauh yang kecil
sinarnya tidak terasa terik
pagi jam sembilan
angin menghilangkan jejak
kompas ini jujur
tenaga dari Tuhan
lewat inti pecah nuklir
dari selongsong tabung seukuran aqua 1,5 liter
kacamata besarmu yang kegedean
membuatmu terlihat seperti putri berkacamata
wajah polos tanpa bekas dingin
dua orang kurus berbaju beruang
turun parkir dan berdoa
dan bersyukur bisa melihat warna warni di langit
dan kuku kita sama sama beku
berpegang erat hangat dan mencair lagi
senyuman khas pengembara tukang dibonceng
menari nari seperti tenaga ada banyak melebihi ikan
ouchh.. menubruku keras dan berguling guling
ayo kita memancing disini
menyiapkan penggali lalu menggali hingga air
jangan kita kejut, lihat begini caranya
memperhatikannya memancing ikan dengan kail
tekun ga dapet dapet
tapi lucu pose jongkoknya
ketawa
pembakaran singkat dengan taburan garam
gosong sedikit tapi dimakan berdua
sedikit ingus muncul dari hidungnya
begitu pun dari hidungku
melaju kembali ke arah barat
dengan perut nyaman
kau melingkarkan tangan kembali
meski terlalu tebal jaket kita
hati ini bertaut
pagi ini alam kembali memotret perjalanan bersama
udara album tanpa batas
Minggu, 26 Juni 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar