Ringkih tubuhmu mengayuh
ujung garpu
melahap mie instans dalam
mangkuk putih
bergambar ayam jago
gurih mendekam dikerongkongan
bersiul suara decak lidah
nikmati halal dari dunia
usai kau hela nafas..
Tandas mie instans tanpa bekas
asal kenyangkan lambung
pemudamu
biarlah sisa uang tertabung saja
begitu banyak beban singgahi raga
hati menerawang
teringat akan semua cita
andai engkau berlumpur uang
tentu hidup takkan berasa sekam
namun nasib bagai malam dan siang
kaya miskin bukan aral menghadang
pemuda si pelahap mie instan
tetap tegar meski tak pernah diam
ia sadar hidup hanyalah persinggahan
biar suka duka mengaliri padang
perjalanan masihlah panjang
semoga kisah ini akan menjadi bekal
andai kelak bintang bintang
ada dalam genggaman
takkan kepala harus terus ditegakkan
tapi santunkan hati
sucikan nurani
kepada si miskin janganlah bimbang
ini hanya sekedar celah jalan
pengorbanan
tentu ideal adalah keinginan
namun bila harus memakan
hanya semata mie instan
patutlah semua menjadi rambu ujian
Allah maha penyayang
pasti takkan hilang
segala suara tentu akan didengar
seperti aku yang mudah jatuh kasihan
semut tercelup teh manis..
Telah kubawa ia terbang
agar ia bebas dari samudera kesakitan
meski tak mungkin bisa melisankan
tentu manusia jauh lebih berhati rupawan
sombong hati hanya akan jadi
tabiat syetan
naudzubillahimindzalik...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar