Tak Seperti biasa
ketika alam kembali kuguris dalam legenda cinta
senja ini embun merebak jelita
sempurnakan kelelahanku
berpadu dengan udara yang mendung menjemput malam
deru debu tak kuhiraukan
degup jantungku kian cepat
terbius rasa yang muram
cinta?
Benci?
Adakah mudah kucerna dengan bahasa hati?
Aku merasa segala yang kau mau
telah kuberikan
tak berhingga aku menepuk pundakmu cerah
menatapmu indah
memeluk cium udara pertemanan
dengan gagah
seolah kau permata yang lama hilang dalam lautan hitam
dan kini kau kembali pulang
saling menerima kekurangan
dari seribu kesarasan.
Namun kini langkahku lesi
semangatku redup karena warna merah dimatamu
sedang embun yang kutahan
bagai tsunami buas dalam bias
aku membencimu ain saga
bukan karena rasa cemburu
begitu ucapanmu menabrak
kelembutanku
membunuh sisi hati terahasiaku
bukan ingin mengadu
bukan lari mencari sandaran biru
bukan aku bersikap begitu
tak kan kupedulikan
bahkan halimun dan petir
akan kubiarkan bertandang
andai mereka merasa nyaman
dalam pelukan
dalam warna persahabatan
tapi kau menusukkan jarum pahit
disela keikhlasanku menerima
semua bara dari matamu
kini embun di mata sagaku
mulai dingin sedingin salju
yang sebentar lagi akan beku.
Inikah yang kau mau?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar