Pias raut wajahku
terbakar musim kering tanpa awalan
tergerogoti kemarau hati
yang layu nan lesu
petir menyambar jendela kaca
hidupku hampa di kejar Langit
yang menitis dalam darah peri hujan
berdiam dalam senyuman
mengeja wangi mawar
di mangkuk kehidupan
menggelepar dalam aral.
Kusibuk melempar takdir
diantara semak asaku berlendir
dingin beku seolah salju
putih pudar seketika.
Jakarta, 170911
Ain Saga
Senin, 19 September 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar