Malam semakin renta
sepi menjajah waktu
jadi bingkai sembilu
di tepi trotoar jalan
yang kumuh berdebu
sebutir keringat jagung menetes diam
dari pipi tirus laki laki bertubuh
kecil bagai sebatang lidi
dingin menjadi pakaian malamnya
Asap knalpot jalan
seakan musik untuk hidupnya
yang kelam
tergilas keterbatasan
kenyamanan seakan hanya surga
yang hilang
perut melilit serasa terpilin udara
kelaparan
Dimana sekepal nasi
sembunyi?
Bahkan secangkir kopi pahit pun
hanya jadi impian melantur
Kau gila kata orang yang lalu lalang
siapa mau peduli?
Jelaga hidup yang tak ampun menemani
sementara malam terus merangkak menjemput pagi
tak hirau lapar bernyanyi
ia berjalan gontai
menghitung mimpinya
merapalkan caci maki
kepada alam yang serasa benci
kehadirannya
aduhai ayah
ibu..mengapa cepat engkau kembali ke syurga
Sementara aku di sini hanya terlunta
di belantara nasib yang menggiring
lekatnya luka.
Sebutir keringat jagung
kembali menetes dari tirus pipinya.
Sempurnakan derita jiwa.
Jakarta, 110911
Ain Saga
Selasa, 13 September 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
warna yang cantik berpadu dengan senyuman akan kekesalan yang dihentikan oleh sebuah tindakan memelukmu jangan kau menangis warna yan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar