Merah, warna darah yang terbakar semangat
Putih, utuhnya tulang meski terbeban berat
Selalu coba dikibarkan dipucuk paling hebat
Agar tegak simbol semu penanda seakan kuat
Puluhan tahun mengusung dan membusung bangga
Nyanyian bernada merdeka tetap lantang terjaga
Apakah itu bebas, jika nafas tak pernah lega
Dikejar rintihan perut-perut lapar tiada tenaga
Seperti dibasuh wajah negeri oleh banjir derita
Mengucur dari peluh mereka yang disebut jelata
Tetapi tak jua tersadar dari paras sang jelita
Sibuk ditatah sendiri dengan pola gelimang harta
Tidaklah aneh, sebab memang kaya bangsa ini
Wajar adanya pergulatan atas kuasa disini
Tak perlu peduli bila ada raungan ditiap lini
Jerit tangis tak ubahnya lagu pengantar tidur kini
Seperti hak sang raja rimba memangsa buruan
Tanpa berbatas aturan asal miliki kekuatan
Dengan cara itulah biduk negri ini dijalankan
Kepercayaan runtuh dibawah pijak ketamakan
Biar saja rakyat berpesta dikubang airmata
Tak mengapa jika pundi-pundinya penuh merata
Melenggang meski janji berujung dimuara dusta
Makmur atau adil, keduanya hanya sebatas kata
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
oleh Pakde Azir Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedan...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
tatap tajam ke depan diam tenang dan rekam atur posisi badan ringankan dua tangan bidik tepat sasaran Focus.. Titik kemajuan 02051...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar