Cermin dihadapan hati semakin tebal berdebu
Enggan memantul kebenaran bila hanya kelabu
Rapuh penyangganya seolah usia telah beribu
Ingin sungguh meronta seperti anak hilang ibu
Tetapi suara retakan ini tak terdengar menggebu
Akan tetap pelan meski resah menjadikannya abu
Lewat cermin kecil itu seluruh rasa biasa tergambar
Antara murung raut wajah dan senyum yang lebar
Mewakili segala yang tersembunyi dalam semu kelakar
Alirkan setelahnya jadi tinta tuk menulis diatas lembar
Perlahan pena menggores kisah satu per satu tertuang
Agar tiada pernah terpenggal ingatan lalu terbuang
Derap langkah perjalanan hati nanti utuh terkenang
Ada tuk dibuka kembali saat dimensi terasa lengang
Seperti halnya jejak hari bersamamu coba kuabadikan
Endapkan setiap jengkalnya menjadi abjad serangkaian
Lebur seluruhnya dalam kata diatas putih dijabarkan
Eoforia saat menatap pagi dengan berjuta keindahan
Maupun disforia ketika terkurung kelam tanpa sinaran
Biar kalbu ini tentram atau teraram, lugas dalam coretan
Amarah atau ramah tamahnya cinta terekam ketulusan
Riang tawa, pun tangis jiwa ditengah dekap kelembutan
Kau adalah sepenggal cerita berhias kehangatan batin
Entah mengapa kini aku seperti tak mampu menjalin
Rima kasihmu tak senada saat dawai jiwaku bermain
Terdengar berbeda alunannya diruang terbalut kain
Agaknya sulit terjemahkan dalam aksara yang kusalin
Sudahi goresan ini sebab penaku kering oleh dingin
Ucap maaf mungkin tak meredam luka yang tertanam
Selaksa perih terlanjur kutabur direlung jiwa terdalam
Akan tetapi inilah kenyataan, tak dapat lagi kupendam
Niatku tinggalkan beda terlalu menganga menghujam
Gambaran kita hanya selembar kertas usang menhitam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar