Mungkinkah merapat seluruh kaki langit
Saat ulur kegelapan jelas nian terbersit
Perselisihan hatipun jadi semakin sengit
Sesaat setelah keputus-asaan menghimpit
Benarkah bumi ini cukup luas tuk dipijak
Tak begitu adanya bagi erangan memekak
Dunia layaknya penempa tindak lebih bijak
Tidaklah benar bagi yang tangisnya semarak
Terlalu sempit tuk sekedar menggeser langkah
Terlampau pasti tak mungkin kan membantah
Dinding antara lapar dan kenyang kian megah
Sebutir nasi saja cukup buat mereka berlelah
Tetapi, bersyukur mereka meski harus mengais
Ditengah gundukan sampah berlumur bau amis
Merasa berkali lebih baik daripada mengemis
Tak pernah merelakan harga diri semakin tipis
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
oleh Pakde Azir Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedan...
-
diantara persinggahan malam terlukis bayang kalbu muram saksikan biduk perlahan karam membawa asa jauh tenggelam denyut harap seo...
-
Sering kali angan hati dan alam nyata berselisih Lumpuhkan smua hasrat jiwa dalam lautan perih Bukan tak mungkin bongkahan harap makin pip...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar