Disela lambat masa, diri menengadah
Pada atap bumi, menghadapkan wajah
Tepat saat goresan warnanya berubah
Membuka jalan bagi rintik tertumpah
Menyembunyikan kelopak yang kalah
Oleh paksaan derai duka tertumpah
Air dipelupuk mata telah rasakan jengah
Begitu ingin turun tanpa ada penyanggah
Andai tercipta kaca yang tak kenal pecah
Tuk dipahat menjadi kotak luka merebah
Menyimpan banyaknya yang tak terjumlah
Berjajar melebar siap memuntahkan darah
Setelah rapat, ditata menjauh dari langkah
Hingga bagi mereka, hati bukan lagi rumah
Satu persatu pedih atas nama luka pun punah
Setidaknya merelakan letak altarnya berpindah
Tak bersimpuh diantara pekat rasa menyerah
Selamanya menghilang tanpa pernah menjamah
Tiada kembali meski pintu-pintu nurani lengah
Walau batas kekuatan batin musnah setengah
Kecamuk jiwa ini, adakah bentuk dari amarah
Atau sekedar bayang nyata memantulkan lemah
Tak mengharap dengan tangis paras bersimbah
Tetapi lenyap seketika logika bagai tersesat arah
Hujan metoreh lukisan samar senyum ramah
Diatas butir pilu yang tiada henti membuncah
Biar terlihat bahwa langit yang menangis gundah
Menutupi pelataran kalbuku yang terhujam resah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
I used to think that I could not go on And life was nothing but an awful song But now I know the mean...
-
Senyap terbit, rahim sunyi pun di gembalai tangan-tangan rancu Ada mata asa, namun dayuh-dayuhan tersekat pekap Sungguh apakah genderang i...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar