Malam ini, pedihku tak kan terhibur
Sekalipun gemintang jatuh melebur
Dihadap lamun pikir yang tertidur
Atau menjadi terang sebagai pelipur
Berjalanlah, berlalu dari putaran waktu
Sebelum kesakitan ini kian menyatu
Sepertinya bulan pun enggan jadi ratu
Membiarkan perca-perca hitam bersekutu
Gelap nuansanya, biar terus kunikmati
Sekelam dimensi dibalik jeruji hati
Percuma pula bila titik cahaya dinanti
Terlalu jauh tuk digapai, sebatas berhenti
Tak selangkahpun maju dari kebekuan
Diam dalam kalut jiwa tak tertahan
Diantara sayup coba samarkan teriakan
Agar meleleh gemanya bersama hujan
Alam pun tak ingin mendengar tangis
Maka mengutus langit jatuhkan gerimis
Sayatan yang membuka isi jiwa teriris
Tak lebih baik dari jengkal tanah terkikis
Dahan harapan begitu dalam ditanam
Agar lamanya masa ia mampu semayam
Namun akarnya tetap mudah dicengkeram
Menjulur keluar mendekati genggam
Tak usahlah menyuguhkan manisnya senyum
Biar pahitnya realita seluruhnya ku kulum
Meski kelak mati segala rasa yang terangkum
Sebab sedihku kali ini tercium begitu harum
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar