Puluhan purnama telah tergenapi
Menjadi saksi berkumpulnya sepi
Namun ruang jiwa belum terlengkapi
Tak kunjung purna untai mimpi
Dan ketika rembulan tertutup
Seperti setengah tertangkup
Gelap masih saja menguncup
Tak ingin lain sinar mengecup
Malam pun beribu kali berlayar
Menuju tepian jingga pantai fajar
Tempat sanubari menuai pijar
Tambatan harap sesaat bersandar
Lalu biasnya menjemput langit pagi
Selaras dengan alam menenun elegi
Biarkan yang tak kuat hati pergi
Sebelum rajutan hidup bersinergi
Waktu adalah milik yang berlari
Menjadikan utuh pencapaian diri
Berkali tersungkur segera berdiri
Hingga gemintang tersamar mentari
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
oleh Pakde Azir Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedan...
-
Sering kali angan hati dan alam nyata berselisih Lumpuhkan smua hasrat jiwa dalam lautan perih Bukan tak mungkin bongkahan harap makin pip...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar