Sabtu, 30 Juni 2012

LEBAM

Sedikit lagi saja
banjirlah otakku
meluapkan amunisi rasaku
terhadap kamu
yang telah mengharu biru syaraf dan retinaku

sedikit lagi saja
akan kucampakkan semua benalu
habisi saja nyawaku..
Kataku menantang adrenalinmu
tapi narsis senyummu buatku muak dan segera ingin berlalu
tinggalkan mu dalam beku
persetan keluguanmu.
Lebam dalam jemariku mengomentari prilakumu.

200612

AYANG

Ayang..

Kau adalah butiran yang melayang
melintasi waktu dan ruang

kau rumah rindu yang selalu terbayang
namun begitu cepat melelehkan senyuman

ayang..

Dengar pintaku dalam angan
jangan lagi kau terbang
jauh ke padang terasingan
di mana hanya langit sepi mematuk hari
hanya deru ombak mengiasi sunyi
tapi adalah keinginanmu

melayang..
Pergi..
Tak kembali
hingga semua airmata itu
terkubur beku dalam waktu
gelap menyeru pilu..
Memanggilmu selalu.

*ayang, 200612

JERAM JERAM CINTAMU

Telah kulalui jalan ini
tempat denting hati merangkak sunyi
lautan jarak yang padamkan jumpa
sakit di dadaku seakan senja penuh kabut lara

jeram jeram cintamu
merintang semua mayaku
menyeretku pada hujan dan badai tak terselami

biru warnai pikiranku
merah cintaku terbingkis indah dalam ragu
engkau telah demikian jauh menempuh jarak
pulas rasamu seakan mengetuk kasihku
memaafkan rindu yang selalu cemburu
bilakah adamu hanya menatap ke sungai aliran rima cintaku
dalam liku jeram yang kuarungi
dan kau seberangi
bak sekuntum putik putik mimpi di belantara hati.

*imaji*

jakarta, 190612

Selasa, 19 Juni 2012

MENULIS PUISI ITU GAMPANG ! ?

oleh Pakde Azir

Di inbox saya ada puisi-kilat — meminjam istilah sebagai padanan pantun-kilat  (karmina) — yang dikirim oleh Ari Aryanti :


          ~~* NOTE *~~

          Ini PENTING ....!!!!!

          Kalau nanti malam kau bertemu ...'TUHAN',
          Tolong....!, tanyakan padanya ?
          Apakah Adam diciptakan untuk memperkosa Hawa...??????.
Ketika mengantar dokumentasi puisi Ajip Rosidi — https://www.facebook.com/note.php?note_id=179282298846975
 — saya menulis : Berapa larik (bait) dalam sebuah judul, dan berapa baris dalam sebuah bait sebagai syarat minimal untuk sebuah puisi? Belum ada yang bisa menjawab, tetapi Ajip Rosidi sudah menunjukkan bahwa batasan itu tidak ada.
Perhatikan salah satu puisi karya Ajip berikut ini :

          KOLAM

          Ikan-ikan berenangan dalam kolam yang bening-bening
          Tak tepercik niat meloncat menerjang langit luas terbentang

Atau puisi karya Sitor Situmorang

          MALAM LEBARAN
          Bulan di atas kuburan

Demikian isi puisi ”Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisi sebaris, teramat pendek, dan sederhana yang menimbulkan polemik. Di antaranya, banyak bersuara nyinyir, ”Cuma sebegitukah menulis puisi? Sesederhana itukah puisi? Berarti, gampang menulis puisi — tak perlu sampai ‘berdarah-darah’ dan semedhi.” Benarkah demikian?

Bagi penyair, puisi adalah kebanggaannya, aliran darahnya, pelepasan ekspresinya, kepribadiannya, ciri khasnya, napas hidupnya — bahkan, sarana mencari sesuap nasi. Penyair menjadi mati — disebut tak berkarya — jika tidak menulis puisi. Sekian banyak kredo yang disampaikan penyair untuk menguatkan puisi — seperti kredo Sutan Takdir Alisyabana, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri; dan bejibun arti yang dikemukakan para ahli mengenai puisi, tetapi bagi orang awam, puisi adalah puisi — barisan kata dan kalimat yang mempunyai bait, rima, irama, dan sebagainya. Artinya, puisi tidak sepenting doa atau kitab suci.

* * * * *

Suatu malam di salah satu kafe di Taman Ismail Marzuki, Sutardji Calzoum Bachri membenarkan bahwa menulis puisi itu gampang. ”Bahkan, apa pun bisa ditulis jadi puisi,” katanya. Wah!

Sesekali menyeruput teh manis yang mulai dingin, penyair yang sudah meninggalkan gaya mabok ini menjelaskan, segala kejadian yang ada, baik di sekitar maupun jauh dari kita, dapat ditulis menjadi puisi. Juga, peristiwa yang terjadi sesaat, seperti tabrakan kereta, pesawat jatuh, bom meledak, bisa dijadikan puisi. Sebab, puisi tak jauh beda dengan tulisan-tulisan lainnya, seperti laporan wartawan atau berita yang tertulis di koran mengenai politik, sosial, ekonomi, demonstrasi. ”Sehingga ada penyair yang cuma memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu untuk menulis puisi,” katanya.

Banyak yang terkejut dan meragukan pendapatnya ini. Meski Tardji diakui sebagai presiden penyair,  bukan berarti perkataan presiden adalah sabda atau firman — yang tidak ada salah atau cacatnya. Lalu, ia menunjuk sepotong koran yang tergeletak di atas meja seraya menjelaskan bahwa berita-berita itu dapat menjadi puisi bila dibacakan dengan teknik puisi.

Serta merta saya tertarik, meraih koran itu dan membaca sepenggal beritanya, dengan artikulasi dan intonasi membaca puisi. Apa yang terjadi? Tardji tersenyum. Dan teman-teman seniman memperhatikan dengan mangut-mangut. Merasa belum cukup, saya membaca dua lembaran besar menu makanan dan minuman yang tergantung di dinding kafe itu dengan artikulasi dan intonasi yang sama dalam pembacaan puisi:


          Nasi Goreng Es Campur

          Pecel Lele Wedang Jahe

          Soto Babat Es Jeruk
          Ikan Bakar Kopi Susu
          Sate Kambing Jus Nenas
Mendengar itu, Tardji tertawa. Dan teman-teman seniman bertepuk tangan. Sebaliknya, ingatan saya segera tertuju kepada dua penyair muda berbakat besar, yang mengekspresikan pendapat Tardji ini — dengan pendekatan lain. Yonathan Rahardjo sering menulis puisi dengan memasukkan jenis-jenis makanan dan minuman masyarakat kita sehari-hari, seperti ketupat, lepat, peyek, bandrek, pisang goreng.

Lebih ekstrem lagi Saut Sitompul, penyair yang baru saja pulang ke haribaanNya, berhasil menulis apa pun jadi puisi, bahkan menganjurkannya. Seperti isi salah satu puisinya:

          ada daun jatuh, tulis/ada belalang terbang, tulis…

Jadi, benarkah segala sesuatu (persoalan) dapat dijadikan puisi? Tak perlukah bersusah payah menulis puisi? Tak perlukah merenung di gunung dan berpuasa setahun untuk membuat puisi? Tak perlukah perenungan, pendalaman dan pemadatan makna?
Tergantung pencipta puisi itu sendiri. Tetapi, siapa yang keberatan, jika apa saja yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, lalu ditulis dengan bentuk puisi, lalu dinobatkan sebagai puisi? Jika semua masalah ditulis dengan berbentuk bait puisi, adakah yang melarang? Itu hak asasi seseorang. Hak berpendapat. Hak berekspresi. Hak berkarya. Bila akhirnya puisi yang dihasilkan itu dianggap tak berguna, ya, terserah. Jika pun orang-orang menganggap rada gila, ya, biarkan saja. Bukankah penyair besar sering bertingkah aneh-aneh, misalnya mabok bir, bawa kapak, buka baju dan bergulingan di atas panggung kala baca puisi? Lagipula, entah apa dasar hukumnya, untuk dapat diakui penyair, seseorang harus berani bertindak rada gila; seperti teriak-teriak di keramaian, baca puisi di atas pohon? Semuanya demi puisi, demi puisi. Demikian anehkah puisi?

* * * * *

Banyak jalan menuju Roma. Beribu cara untuk menciptakan puisi. Salah satu kiat jitu yang kerap diakui (baik tua maupun muda dan pemula) adalah jatuh cinta. Bukankah orang yang sedang kasmaran gampang menulis puisi? Seperti puisi ”Surat Cinta” Rendra, berikut ini:


          Engkau adalah putri duyung

          tergolek lemas

          mengejap-ngejapkan matanya yang indah
          dalam jaringku.
Jadi, dengan menumpahkan isi hati di atas secarik kertas dengan kata-kata indah dan terpilih, tulisan akan menjelma puisi. Atau, silakan tulis surat cinta dengan kalimat-kalimat berbunga, dengan bentuk larik dan bait puisi, ya, dapat juga disebut puisi. Artinya, semakin sering jatuh cinta, tentu semakin terangsang untuk menulis puisi lebih banyak. Semakin banyak jatuh cinta, semakin banyak stock puisi yang akan tersedia.
Berarti, puisi itu dapat dihasilkan oleh siapa pun, yang bukan penyair? Benar. Siapa pun boleh menulis puisi — tidak sebatas penyair semata. Tidak ada syarat atau batasan tertentu untuk dapat menulis puisi. Pencopet, penodong, pedagang asongan, petani, polisi, politikus, penipu, penjudi, pengusaha menengah, bankir, konglomerat, pengamen, boleh menulis puisi, tak ada larangan atau kutukan. Tak perlu takut dan frustasi. Puisi itu bukan kuntilanak atau momok hitam yang menakutkan. Jadi, tulislah puisi semampu dan seluas jangkauan dan wawasan.

Jika puisi yang ditulis dinilai orang jelek, tak perlu berduka dan frustasi. Terus saja menulis puisi, meski belum memenuhi kaidah-kaidah puitis. Ciptakan terus, tanpa henti. Tokh masih ada hari esok menanti untuk puisi yang (mungkin) lebih baik. Sejelek apa pun puisi yang dibuat, kata Tardji, tetap saja puisi. Tetapi, silakan renungkan sendiri, termasuk kategori puisi apa? Puisi asal jadi? Puisi basi? Adakah berisi tanda? Atau sekadar corat-coret penumpahan isi hati?
Ingat, puisi bukan alat propaganda, bukan sarana pelepasan kegalauan, bukan pula tong sampah unek-unek.

* * * * *

Meskipun bahasa puisi dan bukan puisi terasa cair; sesungguhnya puisi, sesederhana apa pun, harus penuh dengan ambiguitas dan homonim, penuh dengan asosiasi, memiliki fungsi ekspresif, menunjukkan nada dan sikap — mengutamakan tanda. Masalah ini dipertegas Rene Wellek & Austin Warren (1993:20) bahwa bahasa puisi penuh pencitraan, dari yang paling sederhana sampai sistem mitologi. Sementara Sapardi Djoko Damono memberi pengertian lebih sederhana, bahwa puisi adalah ”ingin mengatakan begini, tetapi dengan cara begitu.”

Jika demikian, puisi yang tidak dipenuhi tanda, belum layak disebut puisi? Ingat pendapat Tardji, tetap puisi. Tetapi puisi sesaat; sekali cecap langsung tak bermanfaat. Puisi donat. Seperti puisi yang dibuat anak kelas empat SD, tetap saja disebut puisi. Itu pula alasan Tardji membagi puisi berdasarkan fungsinya. Jika seseorang menulis puisi untuk kebutuhan sesaat, ya, cuma sebatas itu manfaatnya. Puisi itu akan segera tersapu angin dan hujan. Sebaliknya, jika puisi diciptakan berdasarkan perenungan mendalam, tanpa dipengaruhi kebutuhan apa pun, akan menjadi puisi sejati. Contohnya puisi-puisi Chairil Anwar. ”Maka, sangat disayangkan, bila ada penyair yang menulis puisi dengan memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu,” imbuhnya.

Sekilas pendapat ini bertentangan dengan kesimpulan Wellek & Warren, bahwa tipe-tipe puisi harus memakai paradoks, ambiguitas, pergeseran arti secara kontekstual, asosiasi irasional, memperkental sumber bahasa sehari-hari, bahkan dengan sengaja membuat pelanggaran-pelanggaran. Tetapi, bila dicermati, pendapat Tardji lebih mudah dimengerti dan lebih menegaskan atas keluhan penyair-penyair muda, ”Ada juga puisi pesanan. Puisi yang ditulis oleh penyair untuk kebutuhan, momen atau acara tertentu dengan bayaran tertentu pula.”

Bertitik tolak dari pendapat ini, berarti menulis puisi teramat sulit-lit. Tidak cukup dengan mengamati peristiwa-peristiwa yang ada. Menulis puisi harus penuh perenungan, mendasar dan berdasar. Bahkan, terkadang harus mengalami trance.  Apa yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, tidak serta-merta dapat dijadikan puisi, melainkan harus dikaji, diendapkan, direnungkan secara mendalam. Untuk menulis sebuah puisi saja, sering penyair harus melalui proses sepekan, setahun, sepuluh tahun. Itu pula sebabnya, bila dibandingkan dengan karya seniman lain, sepertinya daya kreativitas penyair dalam berkarya sangat tertinggal jauh. Sebab, setiap penyair (sejati), meski telah berkarya secara maksimal seumur hidupnya, tak dapat menghasilkan seabrek puisi. Bahkan, tak sedikit penyair seumur hidupnya cuma mampu menulis beberapa puisi, misalnya Toto Sudarto Bachtiar, Subagio Sastrowardoyo, JS Tatengkeng.

Lalu, masihkah dapat disebut menulis puisi itu gampang? Ada yang menjawab, tergantung kata hati. Ada juga yang menyebut, tanyakan daun-daun yang berguguran. Bahkan, ada pendapat lebih ekstrem, tanyakan pejabat atau konglomerat yang getol bikin puisi, lalu menerbitkan seabrek buku puisi (persis album rekaman dangdut) dan membuat album dangdut puisi atau puisi dangdut yang dipasarkan door to door  dengan pelbagai alasan sosial, kemanusiaan dan pengabdian.

Ayo, siapa ikut bergoyang puisi?

Senin, 18 Juni 2012

Getir dalam Asa

Tangis, biar jadi kristal beku dihati
Magis, yakin atas damai yang dinanti 


Luka, adalah tanda bagi tiap nafas
Buka, lembar nyata tanpa ada batas


Singkat, bukan gambar perjalanan
Kuat, ialah jejak satu perubahan


Tuhan, pemilik ribuan pintu asa
Enggan, jangan pernah hinggapi rasa


Hamba, bukan raga tanpa jiwa
Iba, pantang mengisi setengah nyawa


Cawan, tak kosong bila digenggam
Tawan, harapan penuh basuh suram


Pagi, mesti berawal lengkung senyum
Lagi, percaya pada-Nya meski getir terkulum

Kau yang terindah

Di bentang malam
serasa langitku melayang
dalam sunyi dan bongkah kerinduan
yang tak putus menoreh gejolak di hatiku

dan kutahu engkau pun rindu
basah di matamu seolah percikkan kedalaman kisahku

andai semua tak kau rengkuh dalam tangisan
harusnya ini menjadi jalan rindu tuk pulang
ke rumah bertalam pelukan.

Hatimu.

Minggu, 17 Juni 2012

MAU KAYA? JANGAN MENABUNG

oleh Pakde Azir
SIAPA yang tidak mengenal Robert T Kiyosaki?
Ya dia adalah pengarang buku terkenal, Rich Dad Poor Dad,  sekaligus penulis buku keuangan terlaris sepanjang masa. Yang prinsip keuangannya banyak dipakai oleh orang kaya di seluruh dunia. Termasuk prinsip passive income  yang sudah menjadi kewajiban bagi seluruh orang yang ingin mencapai kebebasan finansial.

Dalam buku terbarunya, Robert T Kiyosaki mengatakan beberapa aturan lama yang membuat anda tetap miskin dan aturan baru yang menjadikan anda kaya.

Aturan lama : MENABUNGLAH
Setelah 1971, dolar AS bukan lagi uang, tetapi mata uang. Sebagai konsekuensinya, penabung menjadi pecundang. Pemerintah AS diizinkan mencetak uang lebih cepat daripada yang bisa disimpannya. Saat Bankir berceloteh tentang kekuatan bunga majemuk,  yang tak dikatakannya kepada Anda adalah kekuatan inflasi majemuk,  atau dalam krisis dewasa ini, kekuatan deflasi majemuk.
Inflasi dan deflasi disebabkan oleh pemerintah serta bank yang berupaya mengendalikan perekonomian dan mencetak serta meminjamkan uang dengan mudah, yaitu tanpa nilai apa pun untuk mendukung uang itu selain "kredit dan kepercayaan penuh" dari Amerika Serikat.

Selama bertahun tahun, orang di seluruh belahan dunia percaya bahwa obligasi AS adalah investasi paling aman di seluruh dunia. Selama bertahun tahun, pera penabung dengan patuh membeli obligasi AS, percaya bahwa itu hal yang cerdas untuk dilakukan.

Pada permulaan 2009, obligasi AS yang berusia 30 tahun banyak memberikan bunga kurang dari 3%. Menurut Robert T Kiyosaki,ini berarti ada terlalu banyak funny money  (uang tanpa jaminan) di dunia. Penabung akan menjadi pecundang, dan pada 2009, obligasi AS bisa jadi adalah investasi paling beresiko.
Kalau Anda tidak mengerti kenapa bisa begitu, jangan khawatir. Sebagian besar orang begitu, dan itulah sebabnya pendidikan keuangan di sekolah sangatlah penting.

Namun, patut diketahui bahwa apa yang dulunya merupakan investasi paling aman, obligasi AS, sekarang menjadi yang paling beresiko.

Aturan Baru : BELANJAKAN, JANGAN DITABUNG
Saat ini sebagian besar orang menghabiskan banyak waktu belajar cara menghasilkan uang. Mereka bersekolah untuk mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi, kemudian menghabiskan bertahun tahun bekerja untuk menghasilkan uang. Mereka lalu sebisa mungkin berupaya menabungnya.

Pada aturan baru, yang lebih penting adalah Anda tahu cara membelanjakan uang Anda, bukan sekedar menghasilkan atau menabungnya. Dengan kata lain, orang yang membelanjakan uang dengan bijak akan selalu lebih kaya dibanding mereka yang menabung uang dengan bijak.

Tentu saja, yang dimaksud Robert T kiyosaki dengan membelanjakan adalah menginvestasikan atau mengubah uang anda menjadi nilai jangka panjang. Pada sistem ekonomi saat ini, Anda tidak akan kaya dengan menyimpam uang di balik kasur, atau lebih buruk lagi : di Bank.
Mereka tahu, kunci kekayaan adalah berinvestasi dalam aset yang memberikan arus kas. Dewasa ini, anda perlu tahu cara membelanjakan uang pada aset yang mempertahankan nilainya. Memberikan pemasukan, menyesuaikan diri dengan inflasi, dan nilainya naik, BUKAN turun.

Emas Bukan digunakan untuk menjadikan Anda kaya, tetapi hanya mempertahankan kekayaan Anda. Pada tahun 1960 satu kilogram emas dapat dibelikan sebuah mobil mewah saat itu. dan saat ini satu kilogram emas juga dapat dibelikan satu mobil mewah juga. Berinvesatasilah pada emas untuk mempertahankan kekayaan Anda.

Trading forex  dapat menjadikan Anda kaya, inilah keungulan berinvestasi di forex.  Saat harga naik atau pun turun, Anda masih dapat mengambil keuntungan dari perubahan harga tersebut. Tidak seperti saham, anda harus menunggu harga naik sangat tinggi untuk memperoleh keuntungan.

Masih mau menabung?

Senandung Rindu untuk Ibu

Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...