by: Arista Putra
Hilang ditelan air
Tanpa sadar, hinggap di ranah getir
enggan kulewati jembatan kayu
Namun setiap jalan tertutup dan berbatu
Hendak kurayu kijang agar memapahku
Namun enggan kijang melewati kayu dan batu
Hendak kurayu burung terbangkanku
Namun terlanjur hilang terlebih dahulu
Apa lagi yang kan kurayu…
Tak ada setetespun madu
Entah harus bagaimana…
Padahal purnama makin berkuasa
Hina,, hina,,, dan semakin terhina !
Kesendirian yang membunuh jiwa
Angin apa ini yang merasuk dalam dada
Seolah ingin mendesak raga
Di depanku laut
Di belakangku hutan maut
Entah apakah siap menghantar nyawa
Ketika belum merasa berbekal surga
Sudah,.. sudahi saja….
Kusayat punggung, agar kutahu ku masih nyata
Ku jalani saja hutan maut
Biarkan diri terluka parut
Aku remuk redam
Dan itu lebih baik dari berdiam
Kuambil hutan tak berjejak
Susuri ruang sempit dan teracak
Detak makin keras
Alam makin beringas
Raga dihantam dengan duri tajam
Hingga jiwa terjerembab dalam kelam
………………….
Perjalanan masih jauh dan lama
Namun keyakinan tanah harapan masih ada
Takkan menyerah sampai awan biru memanggil
Atau hingga sesuatu terlaksana.
Sabtu, 05 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Tapak jejak gunung biru Di atas nya kama ratih, menengger dalam pangkuan kertas-kertas putih Selambang getik tulisan merenda jentik jemari...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar