Keramaian yang tiada berubah, pernah terlewati
Dengan banyak pasang mata tajam mengamati
Seperti itulah alasan bagiku mengharap berhenti
Kabulkan inginku tentang waktu tuk sejenak mati
Andai mereka tau sebab atas memberatnya langkah
Tak lain adalah cara melihat dari sudut yang salah
Tanpa merasa bahwa aku pun terkadang sangat lelah
Berjalan dengan tapak berbeda, terus dianggap lemah
Menggores layaknya mata pisau kemari beterbangan
Bersama sorot pandang yang memancar belas kasihan
Bukan itu yang ku mau sebagai iringan perjuangan
Sekalipun benar sering kaki terseok disela keletihan
Tak pernah terbersit pikirku pertanyakan garis takdir
Sementara, berulang sudah indah suratan-Nya terukir
Bila memang pernah ada setetes kepedihan mengalir
Hanya berbatasnya mampu diri mencerna alam pikir
Sanggup kutegarkan lagi ragaku yang hampir jatuh
Jadi jangan dituntun jiwa ini menjadi mahir mengeluh
Mungkin sebentar saja aku butuh bentang peneduh
Biarkan setelahnya sendiri selesaikan jalan tertempuh
Kamis, 26 Mei 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
oleh Pakde Azir Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedan...
-
diantara persinggahan malam terlukis bayang kalbu muram saksikan biduk perlahan karam membawa asa jauh tenggelam denyut harap seo...
-
Sering kali angan hati dan alam nyata berselisih Lumpuhkan smua hasrat jiwa dalam lautan perih Bukan tak mungkin bongkahan harap makin pip...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar