By: Insan Al Amin
ketika kamu duduk sendiri tanpa ada kawan untuk diajak bicara
siang itu di pinggiran tangga ke lantai dua
dibuai angin yang sesekali menyapa rok panjang putih abu mu
ditemani novel yang telah lama kau ingin baca
dan kini kau membaca tiap lembaran,
sesekali kau merasakan bagaimana tokoh utama novel itu menangis
karena kehilangan orang yang selalu membuatnya tertawa
kadang kau tertawa melihat dia salah tingkah
pipimu ikut memerah
aku pun datang dengan membawakanmu es krim cone
dibuat sendiri oleh ibu kantin
wadahnya terbuat dari wafer aroma vanilla
ice creamnya berwarna pink dan cokelat
seperti warna valentine dan kulit beruang
dingin, membuat gigimu geraham mu menggigil
kau tertawa
kita bercerita tentang kisah sepasang kakek nenek
yang ketika mudanya mereka berdua pingin jadi astronaut
subuh hari sebelum mentari, ketika titik embun menetes
berdua jalan kaki di tengah perkebunan teh
sesekali berlari,
saling menyipratkan air dingin yang berkumpul menggenang tiap daun
kita bercanda tentang guru yang motornya sering mogok
mempertanyakan kenapa dia mencat motornya dengan warna merah kusam
dan kau berkata, pasti itu karena debu
dan aku berkata, itu memang style seorang pemberani yang tidak ingin tampil
kita melupakan bel jam kedua
karena saat itu menjilat ice cream lebih penting bagi kita
daripada asuhan lembut tutur kata guru biologi
dan kita terus berbicara tentang masa depan
tentang kamu, tentang aku, tentang indonesia
Minggu, 08 Mei 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar