Ketika langit menanggalkan tabir malam
Dan mempersilahkan biru bersemayam
Tak terhingga pinta yang coba di tanam
Percaya bahwa Dia tak pernah hanya diam
Pagi ini, menggelar doa dipelataran jiwa
Menghalau lembut terpaan topan kecewa
Meski tak sepenuhnya tilas luka terbawa
Serpihan getirnya masih terasa dalam hawa
Benahi gubuk kecil yang porak-poranda
Setelah lama menanti desir pilu mereda
Menata perniknya dengan pola berbeda
Didalamnya hati akan tinggal sebagai bida
Mungkin aku telah banyak kehilangan
Satu per satu mimpi menuju kehancuran
Berkali keliru menyematkan kepercayaan
Dikembalikan dalam bungkusan kebohongan
Sekali berkunjung, kepalsuan berjubah badai
Luluh lantak yang ada sebelum riuhnya usai
Saat itu, inggalkan begitu saja kepingnya terkulai
Menolak tangan lain yang mengulur membelai
Memilih kesendirian jadi pendamping setia
Yang tak kan tumpahkan duka dengan sia-sia
Biar tak lagi airmata jadi pembasuh jenjang usia
Tiada pernah menyakini kecuali hanya pada Dia
Akhirnya kini pahami yang hilang itu bukan cinta
Sebab tiada bahagia dalam kebersamaan tercipta
Sadari yang pernah direguk tak lebih dari tetes derita
Teramu sempurna dengan sejuta macam buih dusta
Tak pantas lagi terus melemah sembari meratapi
Karena telah tiba waktu bagi gelap untuk menepi
Menyambut hadirnya harapan baru tanpa kata tetapi
Agar makna perjalanan hidup sepenuhnya terlengkapi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
oleh Pakde Azir Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedan...
-
diantara persinggahan malam terlukis bayang kalbu muram saksikan biduk perlahan karam membawa asa jauh tenggelam denyut harap seo...
-
Sering kali angan hati dan alam nyata berselisih Lumpuhkan smua hasrat jiwa dalam lautan perih Bukan tak mungkin bongkahan harap makin pip...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar