Bergumpal hitam berdiam dibalik raga
Membenalu dikalbu tanpa pernah di duga
mestinya merindu percikan sucinya air telaga
Yang jadikan bersih tiap sudutnya terjaga
Berkali kelam coba dibasuh dari sisi diri
Agar kealpaan hati sepenuhnya terhindari
Namun sering pula kelalaian tak terpunkiri
Hingga keangkuhan begitu leluasa menari
Atas kuasa yang mana kebanggaan diusung
Sedang jelas sudah akhir hidup kelak digulung
Tak kan ada yang mampu terus membusung
Ketika berat pikul atas dosa nyata dijunjung
Duniawi memukau dengan rentetan tawa
Padahal sementara jua raga miliki nyawa
Telah pasti arah langkah nantinya terbawa
Hanya sederet amal setia mengiring jiwa
Seketika baik atau buruk tanpa samar terlihat
Tiada pilihan untuk sejengkal lepas dari jerat
Karna beda antara benar dan salahpun kian pekat
Dan pada pertanggungjawaban ukhrawi terikat
Maka, sebelum nafas terhenti segalanya terlanjur
Selagi belum menjadi jasad yang kaku membujur
Kembali bersujud kepada-Nya, tak lagi takabur
Mengharap dibawah ampunan-Nya, dosa melebur
Senin, 04 Juli 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar