Lengkung waktu terurai dalam gores tinta
Eentah berapa banyak telah merangkum kata
Menuliskan sedikit tentang pembuka alur cerita
Bius segala risau hingga tak sempat jadi berita
Antarkan jiwa sampai pada penghujung derita
Rinai tangispun tak beralasan tuk banjiri mata
Apa yang pernah terbagi hanya bahagia semata
Niatkan diri sungguh menyudahi adamya sengketa
Kini yang ku mau hanya menuang tetes senyuman
Ikhlaskan tiap lembar ini terbasuh dari kebencian
Selami lagi kisah lalu sebelum tertutup kepedihan
Andai kala itu cintamu tak pernah lahir dalam ucapan
Hanya tetap terjaga kemurnian wujud persahabatan
Maka tiada perlu kusematkan perih ditengah bait
Antara replika hari-hari kita yang saling terkait
Salah kepadamu jadi untai duri dihati nan melilit
Airmata ini mengalir setelah memberimu rasa sakit
Sahabat, begitulah ingin aku tetap bisa menyebutmu nanti
Ibarat bulan tak hanya berteman satu bintang tuk jadi sejati
Luahkan pendarnya bersama sejuta kerlip berbeda terlewati
Abadi sebagai penerang malam hingga seisi semesta mati
Menutup lembaran masa silam tanpa ada rasa terkhianati
Jumat, 22 Juli 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar