Kita semua merasakannya
rasa lapar menunggu waktu berbuka tiba
kita semua mungkin juga kehausan
kelelahan
jiwa lesi semangat pun pudar
kita pun persiapkan segalanya
peluruh haus dan lapar kita
secangkir teh hangat
manis dan bahagia
menjadi satu santapan utama
tapi tahukah engkau
dibalik blik tua nan reyot
dibawah kolong kolong jalan
berteman bau busuk dan comberan
anak anak mungil saling berebut
mencari sesuap nasi
remah remah basah
cukuplah pengisi lambung
yang keroncongan tiada ampun
mereka saudara kita juga
meski nasib tak berpihak setia
hidup ini terlalu pedih untuk ditangisi
kasihilah mereka
si anak jalanan
yang terlunta oleh derita sosial
bukan asa mereka menadahkan tangan
namun kalau bukan kita yang peduli dan mengerti
siapa lagi?
Agar jangan sampai ada semangkuk sup terbuang dari jendela dapurmu
atau sekerat roti tersampah di
luar jalan depan rumahmu
mungkin diantara itu
ada rizki yang menjadi hak
sebagian kaum marginal papa
kalau bukan kita lantas siapa?
Saatnya mengerti dan bertanya
kita hidup untuk apa?
Jumat, 12 Agustus 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar