Keheningan mengikat kalbu dalam jemu
Emosi pun tiada letupannya dikurung semu
Terlalu lama duduk diam tanpa datang tamu
Inikah satu-satunya kawan yang mesti ku jamu
Kesendirian yang tak lelah mengganti bayangmu
Antara ruang hampa tempat terakhir ku bertemu
Airmataku tak lagi mengalir dilengkung wajah
Irisan kepedihan ini memaksanya tetap singgah
Resapkan lebih dalam rindu, berbunga resah
Maka sekalipun jatuh, rinainya serupa bongkah
Apabila menengadah butir beku diatasnya tertumpah
Tiap tetesnya jadi dingin sebab tak pernah terjamah
Adapun, hanya sedikit mencair disela raga nan lemah
Seolah menyentuh utuh salju saat indera meraba duka
Entah, selaksa pagi tak jua bersemi dipenghujung luka
Diantara malam, tak tersisa kecuali lembar prasangka
Ilusi kelam yang teramat pekat, bawakan perih tak terseka
Namun, keraguan di ulu hatipun juga kesia-siaan belaka
Garis hidup terkait, nyatanya bukan untuk direka-reka
Irama sendu terdengar bukan sebagai refleksi atas murka
Nantikan saja, batas penghabisan terindah-Nya terbuka
Sebentuk bahagia pergi bukan sepenuhnya menghilang
Akan ada saat baginya tuk kembali meniti arah pulang
Luruh seluruh penat akan gelap seiring fajar mejelang
Jauh terkubur dibawah pijakan senyum yang bertandang
Urung menutup harap sebelum birunya langit terbentang
"Senantiasa menanti, hadirnya kebahagiaan sejati"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar