Andaikan langit yang biru terang
tiba tiba berubah menukik mendung
engkau selalu siap menjadi payung bagiku
kaulah lukisan malam malamku
yang menjadi bintang dalam pulas khayalku
kau pahlawan dalam sepiku
nahkoda sampan terbaikku
meski senja kerap memisahkan kita
dan pagi merayu keraguan
engkau selalu kuat untuk menopang beban kehidupan
tegar menyelami lautan aral
yang tiada pernah berkawan
tawa canda
dan selalu memberi
seperti matahari
kau menjadi energi dalam darahku
gatot kaca cinta di udara kedukaanku.
Itu dulu..
Kini...semua warna berubah pucat kelabu.entah mengapa.
Jakarta, 051011
Ain Saga
Rabu, 05 Oktober 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
oleh Pakde Azir Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedan...
-
diantara persinggahan malam terlukis bayang kalbu muram saksikan biduk perlahan karam membawa asa jauh tenggelam denyut harap seo...
-
Sering kali angan hati dan alam nyata berselisih Lumpuhkan smua hasrat jiwa dalam lautan perih Bukan tak mungkin bongkahan harap makin pip...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar