Terjatuh aku diantara impian semu
melukis langit
ternyata tak seindah mengucapkan bait syair Gibran
maka jingga matahari pun
memanahku dalam sengatan maya
membiaskan rona yang membiru
seperti cuka dalam luka
tergigit kata yang usang
lidahku kelu tiada perasaan
hanyalah realita
tiga sudut jiwa melambai bianglala
saat aku percaya
indahnya rangkai kalimah setia
hujan meredam rasa
cuaca merdekakan haluan
kita tak bisa sekedar hanya bersandiwara
mereka reka kata
merenda makna sesuka kita
bahkan menatap dan tenggelam dalam rasa
namun berikan sejuknya kamus cinta
di rongga yang polos mustika
karena kita tak pernah tahu
kapan hujan kan segera turun
sedang mendung tiba tiba membakar semua rindu purba
menjadi jarum kristal penuh bara
Tanpa ruh kehidupan.
Jangan tanya padaku
mengapa semua terjadi.
Kuterperangkap sepi
diantara segitiga merindu.
Temukan satu janji
yang hilang tersaput awan waktu.
Yang kemudian membadik rasa hatiku
dalam luka nan lara
Sempurnalah segala deru debu.
Serpihan merah jambu
yang mengabdi lama
dalam puisi puisi cintamu.
Jakarta, 300911
Ain Saga
Minggu, 02 Oktober 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...
-
Oh Cinta... Aku dengar keluh kesahmu dalam wahana yang begitu sempit Duniamu tersangkut pada khayangan dilema Ingin menari, tapi kata hat...
-
Sungai ini merah dulu airnya Oleh genangan darah Kakek nenek kami Sungai ini berbuncah dulu Oleh perlawanan Di sambut letusan pelur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar