Jumat, 10 Februari 2012

Senja Biru

Seperti semua dalam irama khusyu
daun daun hijau tampak merunduk
menyalami udara yang kian gelap oleh awan berkabut

matahari telah lama kembali
ke puncak tahta
sembunyi untuk esok lebih cerah
hanya ranting kering dan sepi
jadi hiasan di halaman
terserak bersama kelopak mawar berguguran
dan bunga jambu terhempas bayu

senja yang syahdu
senja biruku
tempat kuikat kencana kenangan nan sayu
merindu
dan terus merindu
dalam butiran darahku

Jakarta, 060212

Renungan Jumat - KEISTIMEWAAN WANITA

Ditulis oleh: Pakde Azir

Banyak aturan dalam Islam, yang sepintas nampak meletakkan derajat wanita “setingkat lebih rendah” dibanding lelaki. Namun, sesungguhnya segala bentuk aturan itu justru mendudukkan wanita pada derajat yang lebih tinggi. Aturan itu antara lain :
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki.
2. Wanita perlu minta ijin dari suami apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita, apabila menjadi saksi, nilainya hanya setengah dibanding saksi lelaki.
4. Wanita menerima bagian warisan lebih sedikit (separuh) daripada bagian warisan untuk saudaranya yang lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat pada suaminya, sementara suami tidak perlu taat pada istrinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan pada istri.
8. Wanita kurang nyaman dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas,
9. dan lain-lain.

Tetapi. PERNAHKAH KITA LIHAT KENYATAANNYA ?

1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti itulah intan permata bandingannya dengan seorang wanita.
2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah Anda bahwa lelaki wajib taat kepada Ibunya tiga kali lebih utama daripada kepada Bapaknya ?
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah Anda bahwa harta itu akan menjadi miliknya dan tidak perlu diserahkan kepada suami? Sementara suami apabila menerima warisan ia wajib juga menggunakan hartanya untuk istri dan anak-anaknya.
4. Wanita bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah Anda bahwa setiap saat dia didoakan oleh malaikat dan seluruh mahluk Allah di muka bumi ini, dan tahukah Anda jika ia meninggal karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya?
5. Di akherat kelak, seorang lelaki akan dituntut tanggung jawabnya terhadap 4 wanita, yaitu : Istrinya, Ibunya, Anak Perempuannya dan Saudara Perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu: suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
6. Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui pintu mana saja yang disukainya cukup dengan 4 syarat, yaitu : Sholat 5 waktu, Puasa di bulan Ramadhan, taat kepada Suaminya, dan menjaga kehormatannya.
7. Seorang lelaki wajib berjihad di jalan Allah, sementara bagi wanita jika taat kepada suami serta menunaikan tanggung jawabnya kepada ALLAH SWT, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad di jalan Allah tanpa perlu mengangkat senjata.
8. dan sebagainya.

Subhanallah! Demikian sayangnya ALLAH SWT kepada wanita ...
Yakinlah bahwa sebagai Zat yang Maha Pencipta sudah pasti ALLAH Maha Tahu akan segala yang diciptakan-Nya sehingga peraturan-Nya adalah yang terbaik bagi manusia.

Kamis, 09 Februari 2012

Pada Hati Yang Mati

Bagaimana nanti akan kutuntaskan rindu
Jika embun menguap cepat dari daun perdu

Sesaat lalu pagi masih anggun disampingku
Ketika dingin serpih waktu paksakan beku

Menusuk begitu rupa menembus hingga rusuk
Menjaga mata dari pejam atau mimpi buruk  


Kemudian kupimjam segumpal mega hitam
Tuk menarik Engkau di pelukan sedalam-dalam


Memintal lembar harap agar tetap bertemu
Dalam kesunyian terjamu diri oleh kasih-Mu


Seolah ingin menunda langkah sang mentari
Dikeheningan sajalah tangan berhenti mencuri


Namun pagi telah mulai membentangkan layar
Kembali kuambil kesia-siaan tanpa terhindar


Membuang waktu luang dalam liang kesenangan
Mereguk kepuasan diri dibalik topeng kedamaian


Maka, pasangkanlah kekang agar aku berhenti
Dengan meniupkan nafas pada hati yang mati

Rabu, 08 Februari 2012

Renungan Kecil Oleh Hati

Bertanya hati, mengapa melarung gelisah
Dari tepi samudra hingga antah berantah
Namun, malah sesat langkah tepat ditengah
Tak jua temui jawaban dan tetaplah entah

Berdiam hati, antara tempat tanpa denah
Dipijakan sebuah daratan tiada teramah
Didalam ruang kekosongan tak terbantah
Di derunya angkuh sunyi urung mengalah

Berkata hati, wahai raga coba kuatlah
Mengingat impi sebelum disapa oleh lelah
Menyusuri harap tertoreh sepanjang kisah
Lalu tegak lagi tanpa sudi tertunduk kalah

Berseru hati, agar diri membendung resah
Tak perlu dibuang bersegera dan kembalilah
Menapaki lagi pepasir tanpa coba berkilah
Sebab begitu pula sebenar-benar arti gundah

Seperti gurat dipasir pantai saat terjamah
Terhapus jua kala sapa ombak tak melemah
Meski kerap kali suram hidup menabur jengah
Peluk surya ada bagi jiwa yang tak menyerah

Senin, 06 Februari 2012

Asa Dibalik Jengkal Usia

Surya beranjak turun dari peraduan
Tetapi bukan sehabis tertidur nyaman
Hanya sejenak dibalik selimut awan
Biar insan sesaat dalam peristirahatan

Kidung malam telah usai dilantunkan
Penanda bagi pagi segera menggantikan
Dan tepat saat gelap utuh tersibakkan
Sejengkal dari usia pun harus direlakan

Meniti sedikit makna tentang pendewasaan
Yang mungkin tersamar gumpal kepedihan
Membeda bingkai langit bak pembelajaran
Agar dapat jejaki waktu tanpa penyesalan

Tiada rengkuh asa agar bebas berlarian
Berjajar seiring laju pendar impian
Yang mulai kusulut dari tiap tangisan
Mengukuh harap jadi ujung kepastian

Doa diantar sebagai suguh kesyukuran
Atas cinta Maha Kasih yang tanpa batasan
Namun, tetap tamak ku untai keinginan
Masih saja melayangkan berjuta permintaan

Bukan merasa tak pernah dalam kecukupan
Hanya berangan lebih dari sekedar pencapaian
Lebih nyata dari panjangnya sebuah perenungan
Sebelum memutih mata dari warna kehidupan

Minggu, 05 Februari 2012

Sajak-Sajak Cermin Kalbu (Ain Saga)

PULANG
 
Sekedip mataku sayu
lembut kupejam bagaikan mengadu
meraih mimpi di jalan berduri tajam
sungguh tiada kata dapat kugantikan
senyumanku pun beku dilahap
kegamangan
tak ada kawan pulang
kususuri bekunya malam
kulintasi perdu bintang di awan
namun hanya kelelahan
yang tergenggam
yang kubisa katakan
setelah semua terhanyut diam.

Jakarta, 17012
Senyum Tersisa

Hanya lekuk senyum
tersisa darimu
saat dengan angkuh
kau tinggalkan hatiku

tak perlu kau ukir prasasti maaf
di indah rangkai kalimatmu
tak perlu memandang lugu
biru telah selimuti semua serpih kaca hatiku
yang tak bergetar lagi
tak beroksigen lagi

hidupku tetap akan sebening awan pagi
yang menemani sang mentari
meski kau coretkan empedu di hati
aku akan tetap menyapa
semesta dengan harum imaji

tak ingin ku peduli
hidup mati
aku melangkah tanpa menolehkan dahi
persetan semua yang kau singgahi
hanya percik ilusi
di jalan bergetah lagi berduri

biarlah hujan menghapus nanar di nadi.

Jakarta,
pagi indah
180112
Kenangan Yang Ternoda


Semua warna yang pernah kugoreskan di jantungmu
tak pernah sekalipun menjadi kusam
ia hidup merebak dan tumbuh seterang bintang
sehangat pagi menawan

hampir saja bayangmu kembali
lirihkan senyumku
namun luka ini memaksaku pergi
tinggalkan semua mimpi
dan kembali merangkai deburan ombak di hati

cinta hanya untuk cinta
dan kau telah meragukannya
seperti dingin malam yang tertimpa mentari
hangat mewangi
namun urung kuekspresikan
ke dalam lekukan sunyi

jangan
jangan kau nodai kenanganku.
Dengan angkuh kepergianmu.
Dari altar terjagaku.

Karena hati hanya menanti
menunggu satu kecup dan airmata ketulusan
bukan tangis kedustaan
dan kemunafikan.

Jakarta, 190112
Berjalan Dalam Kabut

Berjalan dalam kabut
tak kulihat lagi semua jingga yang
dulu pernah melukis senyumku
tak bisa lagi kukecup sengat rindu
dibawah putik melatiku

semua gelap mengerling luka
mengusik aroma cinta
yang kusimpan setia
diantara cakrawala dan embun pagi merana
karena hujan telah lama meninggalkannya

berjalan di sela kelam
sambil menitis satu asa yang luka
seakan tiada warna
sekedar berkata
ku masih bersama kenangan
yang tersantuk waktu masa lalu.
Meski kini tiada bisa kukenali lagi
keindahannya sejak nafas cinta ini
mati.

Jakarta, dari mata embunku
21 01 12
Rindu Terindah

Kuakui dirimulah yang terindah
sesaat malam membawamu pergi
tinggalkan semua nafas kenangan
yang pernah terpahat dalam getaran lembayung manikam
dan kau namakan ini keajaiban

rindu yang terindah
yang terserak karena tangis waktu
dan luruh di atas jurang berliku
di atas pedihku
diantara semua yang kuyakini
tentang dirimu.

Jakarta, 210112
Pagi Berhujan

Masih segar dalam khayalan
hujan turun basahi semestaku
rintiknya yang berirama rindu
seakan mengajakku memanggil
sebutan namamu

entah mengapa hujan bangunkanku
setelah derainya basahi tanah hati
yang kemarin rekah dalam gelisah
dan berikan genggam gundah

waktu shubuhpun bergayut merdu
kubuka mata menuju tempatku berwudhu
kubasuh parasku sepenuh rindu
meski hujan teduhkan kantukku

aku tetap kuatkan azzamku
mengaliri seluruh persendian
dengan air ketenangan

setitik bening menyentuh lembut mataku
membingkiskan keindahan
ke dalam rahmat kasihNya.

Aku merasa menjadi sesuatu yang
sungguh istimewa
menyemai cinta di shubuh mesra..
Aamiin

Jakarta, 250112
Berdetak

Berdetak waktu turunkan denyut pagi
lambaikan bayang sepi
menepi sejak ufuk merekah hangat
seperti senyuman bidadari
di wajah sang Penari

pagi luapkan bening ke nadi.semburatkan bayang mimpi
melangkah pasti
dalam tetesan embun pagi.
Dan cerita dingin membalut risau hati

Jakarta, 260112
Benang benang luka

Kupijak kaki awan
terasa langit mengguncang
kupijak kaki bumi
tanah dan daun..kering berguguran

kunyalakan lentera di hati
kupagut sepi yang sendiri
kunikmati petaka cinta ini..

Seperti air sungai mengalir
tiada kan terhenti..
Dalam pelukan matahari

biarlah....duri menusuk sanubari

Jakarta, 270112
Catatan D

Terlalu banyak aku menulisi
dinding waktu
hanya untuk melukismu
kucoreti tiap pintu dan bangku
kupualamkan di altar impian

padahal kau hanya sebongkah karang di tepi lautan biru
hitam tinggi menjulang
seolah sang wijaya kusuma
mendongak menantang langit tujuh

aku takjub dalam rasa ingin tahu
kedalamanmu yang menusukkan sembilu
tak lagi alirkan rindu.
Selain butir kristal merah dadu
beku..dan makin berkabut.

kau adalah harga yang kunamakan kebencian
juga harga yang kusebut kekonyolan

seperti juga balada yang mulai tertutup debu
kan kuhujani titian rindu
agar cemerlang adamu tak kunjung usai

terkadang mimpi hanya jadi sebuah mimpi
dan kasih sayangNya
kadang menjadikannya nasehat kenyataan.
Dalam udara pikiran

Jakarta,270112
Musim yang kemuning

Angin berhujan
kembali menyeringai
melintasi hilir waktu tiada jemu
mengaliri basah setiap jejak di
atas sisa luka

embun pun menepi
meski semburatnya mengayun elegi
batang pohon bidara
tersenyum disepoi rindu
kemarau pergi
bersama hembus bayu melerai
kata menanti

sudah tak ada apa pun di sini
hanya bayangan ilusi
menari diantara riak yang kau bingkiskan

agar aku menjadi kuat
dan tak mudah tersentuh luka

meski kumengerti
itu tak bisa dipungkiri
slalu menghantui

Jakarta,27012
Kembara pagi

Semburat pagi
kian terlukis serasi
antara dinding langit yang bening
dan udara sepi
menyatu kuat di desah doaku

biarlah mata menghiba
bibirku berpinta
dalam alunan sunyi
kumendekatiNya
sentuh biru RahmatNya
raih asa jinggaNya
dan bersihkan aroma luka.
.
Kembara pagi..
Semoga surut elegi tak lagi berkuah peluh dan caci maki

kusadari kini!

Jakarta, 300112
Tentang cinta

Satu kata yang mengering
dari lubuk terdalamku

aku sangat mencintaimu
meski pun kau mengelak
dan menjauh..

Aku tahu..
Bukan menepi ataupun berlari
kau hanya terikat janji
janji suci pada sang Maha Suci.

Kini kumengerti
kisah ini hanyalah seloka hati
yang terkubur di dasar kenangan
hanya tergali
saat malam datang
dan hanyutkan mimpi
dalam lelap kerinduan

Jakarta, 300112
Cinta butaku

Dalam gelap
kuingat kamu
dalam sibuk pun
masih sempat terpikir kamu
dalam sepi
kurindu kamu
dalam ragu pun
tersentuh tentangmu

ah..cinta butaku
padamu
seakan jadi benalu
merusak sistem mandiriku
merebut semua atmosfir hariku.

Kau cintabuta
yang kerap butakan naluri.

Jakarta, 310112
Sentuhlah Dia

Rintangan dalam hidup
kadang terlalu benamkan diri
lupakan segala syukur yang mesti tersaji
kemarau ranggaskan hari
pudarkan semerbak mekar bunga melati
lumpuhkan ambisi dari nadi..

Jangan begitu kawan
tetaplah bertahan dalam dingin gelombang
lekaslah kembali ke satu jalan
sentuhlah Dia dengan kemurahanmu
keikhlasanmu
dan syukur abadimu

Allah takkan pernah tidur
diantara rasa sedih dan kemarau dalam jiwamu.
Yakinlah..
di 020212, jakarta city
Rimbun Sepi

Satu guris telah berlalu
bersama laju Sang Waktu
memilin semua rasa di nadi
tak mau lagi kau ada pekikkan tangis

kubur saja kenangan usang
agar darah tak menetes sepi
agar pagi kau dapat membagi
senyum abadi dalam rindu menanti

jakarta, 020212
Kangen

Senyum manismu menggodaku
lewat bayangan pagi yang lembut dan sepi
mengoyak seluruh dinding sanubari
lelapkan rindu di jemari

gelak tawamu hanyutkan kalbu
tanamkan tunas dalam jantung merahku
akan kujaga sepenuh rasa tercurah selalu
agar kau tahu betapa aku mencintaimu

Jak,040212
 

Padu Rindu Diantara Kalbu

Menarik lembar, benang dalam sulam
Luka tersamar, kuncup mula kelam
Tak urung lebar, jadilah ditikam
Biar bersabar, membuka pualam

Tetapi rindu, diantara kalbu
Tetaplah padu, tak kan jadi abu
Bila pun sendu, kasih menggebu
Antara pandu, yang terbangkan debu


Jangan bertanya, tentang batas waktu
Kapan akhirnya, bawa kita satu
Hati empunya, Sang pemilik restu
Melangkah hanya, tuk bukakan pintu


Ada derita, tak pantas dibenci
Masuki cinta, saat terikat suci
Bukannya kata, melainkan kunci
Damai tercipta, teduh pun merinci

Masa itulah, kan menjadi milik
Meskipun lelah, jalannya menukik
Terhalau resah, lembut memercik
Akhiri kisah, tanpa gurat pelik


Menggenggam tangan, meredakan tangis
Kebersamaan, dijelang merintis
Dan perpisahan, dindinya tertepis
Pun sedu sedan, sepenuhnya kikis

Senandung Rindu untuk Ibu

Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...