Langit memang masih tak bercorak
Sebab gemintang enggan bersorak
Rembulan pun bak berbalut belarak
Tak terlihat meski mata membelalak
Kesunyian terus meminta satu hak
Untuk singgah lama disebuah barak
Dimana untai kisah dibiarkan berserak
Acuhkan goresan pilu yang kian merebak
Ditempat itu aku tak pernah coba bergerak
Meredam segala lara agar tiada berontak
Meski dinding hati kerap diterjang gejolak
Tertelan sudah rintihku tanpa kuasa berteriak
Dan saat nafas ini mulai terasa menyesak
Kupaksa kelam sejauh mungkin bertolak
Tetapi kesunyian berkeras tak ingin beranjak
Memeluk ku erat setelah cinta sisakan onak
Kemudian aku hanya menunggu waktu berdetak
Berdamai dengan kesendirian tanpa menolak
Menyaksikan hari berganti yang seperti merangkak
Duduk diam disebelah sepi tanpa coba bertindak
Mungkin terhalau jika pedih hanya sebatas gertak
Namun keberadaannya sungguh nyata penuhi petak
jauh tertanam, ketika dicabut tetap tinggalkan jejak
Bahkan bekasnya merata tanpa sejengkalpun jarak
Maka sengaja ku ikat sayap cinta agar tak mengepak
Sebelum terlalu tinggi terbangkan mimpi begitu acak
Bisa saja tak terarah hingga nantinya jatuh tergeletak
Tak kan mampu jika lebih dalam luka memilih letak
Bukan menyerah, hanya menanti penuh bijak
Tak ingin memungut harapan yang kan jadi retak
Percuma memahat asa dengan kerapuhan menguak
Mudah jua hancur jadi warna hitam yang mengerak
Sadari bahagia tak pernah hadir dengan sontak
Ada kesabaran yang mesti dijalankan sebagai bidak
Menanti yang terbaik bagi hati untuk kembali tegak
Hingga dapat mengukir kasih dengan lebih lembut kelak
Rabu, 29 Juni 2011
Sisi lain yang kulihat 3
Ringkih tubuhmu mengayuh
ujung garpu
melahap mie instans dalam
mangkuk putih
bergambar ayam jago
gurih mendekam dikerongkongan
bersiul suara decak lidah
nikmati halal dari dunia
usai kau hela nafas..
Tandas mie instans tanpa bekas
asal kenyangkan lambung
pemudamu
biarlah sisa uang tertabung saja
begitu banyak beban singgahi raga
hati menerawang
teringat akan semua cita
andai engkau berlumpur uang
tentu hidup takkan berasa sekam
namun nasib bagai malam dan siang
kaya miskin bukan aral menghadang
pemuda si pelahap mie instan
tetap tegar meski tak pernah diam
ia sadar hidup hanyalah persinggahan
biar suka duka mengaliri padang
perjalanan masihlah panjang
semoga kisah ini akan menjadi bekal
andai kelak bintang bintang
ada dalam genggaman
takkan kepala harus terus ditegakkan
tapi santunkan hati
sucikan nurani
kepada si miskin janganlah bimbang
ini hanya sekedar celah jalan
pengorbanan
tentu ideal adalah keinginan
namun bila harus memakan
hanya semata mie instan
patutlah semua menjadi rambu ujian
Allah maha penyayang
pasti takkan hilang
segala suara tentu akan didengar
seperti aku yang mudah jatuh kasihan
semut tercelup teh manis..
Telah kubawa ia terbang
agar ia bebas dari samudera kesakitan
meski tak mungkin bisa melisankan
tentu manusia jauh lebih berhati rupawan
sombong hati hanya akan jadi
tabiat syetan
naudzubillahimindzalik...
ujung garpu
melahap mie instans dalam
mangkuk putih
bergambar ayam jago
gurih mendekam dikerongkongan
bersiul suara decak lidah
nikmati halal dari dunia
usai kau hela nafas..
Tandas mie instans tanpa bekas
asal kenyangkan lambung
pemudamu
biarlah sisa uang tertabung saja
begitu banyak beban singgahi raga
hati menerawang
teringat akan semua cita
andai engkau berlumpur uang
tentu hidup takkan berasa sekam
namun nasib bagai malam dan siang
kaya miskin bukan aral menghadang
pemuda si pelahap mie instan
tetap tegar meski tak pernah diam
ia sadar hidup hanyalah persinggahan
biar suka duka mengaliri padang
perjalanan masihlah panjang
semoga kisah ini akan menjadi bekal
andai kelak bintang bintang
ada dalam genggaman
takkan kepala harus terus ditegakkan
tapi santunkan hati
sucikan nurani
kepada si miskin janganlah bimbang
ini hanya sekedar celah jalan
pengorbanan
tentu ideal adalah keinginan
namun bila harus memakan
hanya semata mie instan
patutlah semua menjadi rambu ujian
Allah maha penyayang
pasti takkan hilang
segala suara tentu akan didengar
seperti aku yang mudah jatuh kasihan
semut tercelup teh manis..
Telah kubawa ia terbang
agar ia bebas dari samudera kesakitan
meski tak mungkin bisa melisankan
tentu manusia jauh lebih berhati rupawan
sombong hati hanya akan jadi
tabiat syetan
naudzubillahimindzalik...
Bening suara Kesucian
Bening suaramu
lagukan seruling merdu
aksara yang kau kata
adalah hujan dalam cinta
langit merah saga
sambangi kota
daun hijau sebarkan rangkai
cerita
tentang angin senja
menghujam akar padang nan gersang
melebur
menjadi satu
dalam tasbih tak kenal rima
diantara tangisan dan kasih mesra..
Kau kau memlihnya memiihnya...
lagukan seruling merdu
aksara yang kau kata
adalah hujan dalam cinta
langit merah saga
sambangi kota
daun hijau sebarkan rangkai
cerita
tentang angin senja
menghujam akar padang nan gersang
melebur
menjadi satu
dalam tasbih tak kenal rima
diantara tangisan dan kasih mesra..
Kau kau memlihnya memiihnya...
Sangkakala
Perang bintang
perang udara
perang gunung
perang kehidupan
wajah wajah dingin
dari seantero jagat belukar
aliran dupa
dari Tuhan yang kau cipta
untuk puaskan syahwat
cinta yang patah sayapnya
semua gelombang pasang
hening tanpa berita
kecuali siksa
kecuali airmata
jeritan berganda ganda
memaki sang matahari
tak kunjung pergi
tak berani spekulasi
saat sangkakala tiba
kau berdiri menggenggam bara
dan tercabik diantara percik luka
zaman penuh racun nirwana
perang udara
perang gunung
perang kehidupan
wajah wajah dingin
dari seantero jagat belukar
aliran dupa
dari Tuhan yang kau cipta
untuk puaskan syahwat
cinta yang patah sayapnya
semua gelombang pasang
hening tanpa berita
kecuali siksa
kecuali airmata
jeritan berganda ganda
memaki sang matahari
tak kunjung pergi
tak berani spekulasi
saat sangkakala tiba
kau berdiri menggenggam bara
dan tercabik diantara percik luka
zaman penuh racun nirwana
Meraut syukur
Dibatas senja yang bertunas
lenggang matahari makin temaram
daun daun tampak berkilat
air sungai menampung terang...
kilas cerita aku membaca
siapa iba jangan terlena
biar di muka kugapai semua
karena hidup adalah anugrah
susah senang sama dirasa
seruan hari menjadi sepi
jubah mimpi tak hangat lagi
dingin yang meracuni
pudarkan sekeping warna hati
kemana kaki melangkah
hanya ridho kusampaikan ke angkasa..
Mungkin kita harus terus bersandiwara
berwajah baku balurkan duka
namun satu yang harus tetap setia
keyakinan hati pada lencana cinta
semesta
lenggang matahari makin temaram
daun daun tampak berkilat
air sungai menampung terang...
kilas cerita aku membaca
siapa iba jangan terlena
biar di muka kugapai semua
karena hidup adalah anugrah
susah senang sama dirasa
seruan hari menjadi sepi
jubah mimpi tak hangat lagi
dingin yang meracuni
pudarkan sekeping warna hati
kemana kaki melangkah
hanya ridho kusampaikan ke angkasa..
Mungkin kita harus terus bersandiwara
berwajah baku balurkan duka
namun satu yang harus tetap setia
keyakinan hati pada lencana cinta
semesta
Juwita Rasa siapa berpunya
Kepingan cerita
usang termakan usia
bergetar balurkan lara
mengedip disisa warna
pelangi yang indah nirwana
akankah berganti maya
menunggu satu hati
tiada hingga
dermaga putih
kini sunyi berganti
jingga cahaya
kunikmati secangkir kasih mesra
dari hati merah
beraroma mawar syurga
tersenyum hati
peluk janji yang abadi
tak henti segara
kan ku selami
bilakah langit jadi saksi
ramai jalanku dipenuhi kata
rangkai jemari selalu mesra
andaikan kau takkan kembali
di sepenggalah usia
biar rentaku jadi hiasan
malam nirmala
tempat kita bertukar getaran asa
biar kupeluk sehangat bianglala
kuciumi warna warna mustika
pelangi cintaku
akan tetap ku puja
sehening malam
beranjak tua
seharap rasa setia slamanya
dawai hatiku
kan tetap indah berirama
padukan tujuan
dalam dahaga harap cinta
inikah akhirnya
ku kan terus berdoa
kulum asa
didetak takdirNya
ridho kan segara
berairmata
ku yakin Dia akan berikan
permata..
Hidup selalu harus tegar
setegar karang menjaga ombak
gelombang.
Agar tak hilang dari bayangan
tak sirna
dihempas zaman.
usang termakan usia
bergetar balurkan lara
mengedip disisa warna
pelangi yang indah nirwana
akankah berganti maya
menunggu satu hati
tiada hingga
dermaga putih
kini sunyi berganti
jingga cahaya
kunikmati secangkir kasih mesra
dari hati merah
beraroma mawar syurga
tersenyum hati
peluk janji yang abadi
tak henti segara
kan ku selami
bilakah langit jadi saksi
ramai jalanku dipenuhi kata
rangkai jemari selalu mesra
andaikan kau takkan kembali
di sepenggalah usia
biar rentaku jadi hiasan
malam nirmala
tempat kita bertukar getaran asa
biar kupeluk sehangat bianglala
kuciumi warna warna mustika
pelangi cintaku
akan tetap ku puja
sehening malam
beranjak tua
seharap rasa setia slamanya
dawai hatiku
kan tetap indah berirama
padukan tujuan
dalam dahaga harap cinta
inikah akhirnya
ku kan terus berdoa
kulum asa
didetak takdirNya
ridho kan segara
berairmata
ku yakin Dia akan berikan
permata..
Hidup selalu harus tegar
setegar karang menjaga ombak
gelombang.
Agar tak hilang dari bayangan
tak sirna
dihempas zaman.
Neraka rintihku
Bukan cinta yang warnai setiaku
bukan rindu merebak hati sayu
bukan pualam pencerah nada pilu
bukan bengawan dalam arung laut biru
namun airmata kolam telagaku
kini selalu jadi beku dipadamnya
seribu cahaya merayu
tak bisa kata merangkai nyawa
rasa dilepah bagaikan bisa
terpaku aku diombak mataku
tak henti melaju
diantara datar hening mengaduh
aduhai bungai putik rasaku
kemana kan kusemai diantara larik bersalju
sedang nafas terus tergugu
berbutir nestapa
tak hilang takkan jemu
andaikan malam jadilah hantu
gelap seakan tak berduri laku
kutimang sayang sepenuh rindu
namun jelaga
hisapkan goyah langkahku
namamu
langkahmu
lukaku
menyatu
bisu
diantara
lautan neraka rintihku.
Kurapuh mengenang getirmu.
bukan rindu merebak hati sayu
bukan pualam pencerah nada pilu
bukan bengawan dalam arung laut biru
namun airmata kolam telagaku
kini selalu jadi beku dipadamnya
seribu cahaya merayu
tak bisa kata merangkai nyawa
rasa dilepah bagaikan bisa
terpaku aku diombak mataku
tak henti melaju
diantara datar hening mengaduh
aduhai bungai putik rasaku
kemana kan kusemai diantara larik bersalju
sedang nafas terus tergugu
berbutir nestapa
tak hilang takkan jemu
andaikan malam jadilah hantu
gelap seakan tak berduri laku
kutimang sayang sepenuh rindu
namun jelaga
hisapkan goyah langkahku
namamu
langkahmu
lukaku
menyatu
bisu
diantara
lautan neraka rintihku.
Kurapuh mengenang getirmu.
Langganan:
Postingan (Atom)
Senandung Rindu untuk Ibu
Ibu.. Ribuan hari berlalu Tanpa hadirmu Namun rindu Masih menderu Penuhi ruang kalbu Dan netraku Masih pantulkan kelabu Sekalipun langit itu...
-
oleh Pakde Azir Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedan...
-
Sering kali angan hati dan alam nyata berselisih Lumpuhkan smua hasrat jiwa dalam lautan perih Bukan tak mungkin bongkahan harap makin pip...
-
Disini aku bersama cinta yang belum tercapai Aku sedang menantinya dalam sebuah perwujudan Nyatakah dia untukku? Sebagai cinta yang aku ...